Opini Diskusi Dalem semester 5
Belajar di Era AI: Antara Kemudahan dan Ancaman Kemalasan Berpikir
Dalam proses belajar, penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) kini meningkat tajam. Aplikasi seperti pemecah soal matematika, generator esai, hingga chatbot pembelajaran telah menjadi bagian dari keseharian siswa. Namun, dibalik semua kemudahan serta kemajuan yang telah disediakan oleh kecerdasan buatan malah memunculkan kekhawatiran baru, apakah siswa akan menjadi malas berpikir? Dan apakah kemandirian belajar akan hilang digantikan kenyamanan jawaban instan?Sebuah contoh kasus nyata menggambarkan masalah tersebut. Seorang pelajar terbiasa mengerjakan tugas matematika dan esai dengan bantuan aplikasi AI. Nilainya meningkat cepat, tugas selesai jauh lebih mudah. Tetapi ketika memasuki ujian yang melarang penggunaan teknologi, ia kesulitan menyelesaikan soal dasar karena ternyata tidak memahami konsepnya. Bahkan gurunya melihat kemampuan berpikir kritisnya menurun drastis. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa teknologi dapat mengaburkan kemampuan asli siswa jika tidak diarahkan dengan benar.
Padahal, teknologi seharusnya digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas belajar, bukan sebagai mesin yang mengambil alih kemampuan berpikir manusia. AI sebenarnya bisa membantu guru menyesuaikan materi berdasarkan kemampuan siswa, menyediakan contoh yang lebih relevan, dan memberikan umpan balik cepat. Jika dimanfaatkan dengan tepat, AI bukan pengganti kemampuan berpikir siswa, tetapi pendorong pemahaman.
Dalam penggunaan teknologi, beberapa prinsip ini dapat diterapkan agar siswa tidak malas berpikir:
1. AI harus dipakai untuk memahami, bukan menyalin. Siswa harus bijak dalam menggunaka AI sebagai alat bantu memahami konsep, bukan sekadar menyalin jawaban tanpa proses berpikir.
2. Tugas yang diberikan harus menuntut proses berpikir, misalnya menjelaskan kembali dengan bahasa sendiri atau menunjukkan langkah-langkah pengerjaan.
3. Guru berperan sebagai pembimbing dan pengarah. Guru memastikan siswa menemukan jawaban melalui proses berpikir, bukan hanya mengandalkan teknologi.
Dalam proses pembelajaran, teknologi di tempatkan hanya sebagai media, bukan pengganti kompetensi guru maupun proses kognitif siswa.
Penggunaan teknologi harus diseimbangkan untuk menjaga kemandirian belajar. Siswa tetap perlu mengerjakan beberapa tugas tanpa bantuan aplikasi, guru boleh menggunakan AI untuk memberi pemahaman bukan jawaban, dan siswa harus diajarkan memilah informasi bukan menelan semua hasil AI. Teknologi dapat dipakai untuk latihan tambahan atau simulasi, tetapi proses belajar tetap harus dilakukan oleh siswa sendiri.
Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, kemampuan berpikir tingkat rendah (C1–C2: mengingat dan memahami) jelas tidak cukup. Aplikasi telah menggantikan proses itu. Identifikasi informasi, perhitungan dasar, bahkan penyusunan teks dapat dilakukan mesin dalam hitungan detik.
Oleh karena itu, mahasiswa dan calon guru harus meningkatkan keterampilan berpikir kritis, adaptif, dan bertanggung jawab. AI hanya alat bantu yang outputnya bergantung pada kualitas pertanyaan, logika, dan analisis penggunanya. Pengguna yang kritis akan memanfaatkan AI sebagai sarana pengayaan, sementara yang pasif justru mudah tertinggal dan tak mampu mengikuti perkembangan zaman.
Teknologi bukanlah ancaman, melainkan alat yang bisa memperkuat proses belajar jika digunakan dengan benar. AI dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperkaya pemahaman, melatih kemandirian, dan membantu siswa menghadapi tantangan zaman.
Teknologi bukanlah ancaman, melainkan alat yang bisa memperkuat proses belajar jika digunakan dengan benar. AI dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperkaya pemahaman, melatih kemandirian, dan membantu siswa menghadapi tantangan zaman.
Yang perlu ditingkatkan bukan hanya alatnya, tetapi kemampuan berpikir, kedewasaan digital, dan tanggung jawab dalam belajar. Di tengah derasnya arus teknologi, manusia tetap harus menjadi pengendali bukan sekadar pengguna yang bergantung.
Tim Jurnalistik