Adu Argumen di Wanakarya: Mahasiswa PGMI Asah Nalar Kritis Lewat Lomba Debat

Adu Argumen di Wanakarya: Mahasiswa PGMI Asah Nalar Kritis Lewat Lomba Debat



Rembang - Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al Anwar menggelar lomba debat dalam rangkaian kegiatan Wanakarya di Auditorium kampus, Minggu (19/04). Kegiatan yang dimulai pukul 09.20 WIB ini diikuti oleh lima kelompok mahasiswa dari semester 2 dan 4, dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga anggota.

Dalam persiapannya, peserta mempelajari delapan mosi yang telah disiapkan oleh panitia. Mosi tersebut kemudian dibagi kepada masing-masing anggota kelompok untuk diperdalam sebelum pelaksanaan lomba.

Salah satu peserta, Lutfiana Nisak, mengungkapkan bahwa lomba debat ini berlangsung seru dengan kualitas penyampaian argumen yang cukup baik. “Acaranya seru dan penyampaian argumen para peserta juga bagus-bagus. Akan tetapi, sangat disayangkan peserta yang ikut lomba masih kurang banyak,” ujarnya.

Selain memberikan kesan, peserta juga menyampaikan kritik dan saran terkait pelaksanaan lomba. Salah satunya adalah perlunya technical meeting sebelum kegiatan berlangsung, terutama bagi peserta yang belum memiliki pengalaman dalam debat. Selain itu, waktu pelaksanaan lomba dinilai kurang tepat karena mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditentukan.

Pada babak penentuan juara, peserta diberikan mosi baru di luar delapan mosi yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan berpikir kritis dan spontanitas peserta dalam menyusun serta mempertahankan argumen.

Sementara itu, juri lomba, Ika Wahyuningsih, menilai bahwa secara umum peserta masih perlu meningkatkan persiapan dan pemahaman peran dalam debat. Ia menyoroti bahwa sebagian peserta masih cenderung membaca teks dan belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan berpikir kritis.

“Debat itu bukan sekadar membaca teks, tetapi kemampuan berpikir kritis dan beradu argumen. Peserta juga perlu memahami etika debat, seperti cara menyampaikan salam, penghormatan kepada juri, kontak mata, gestur, hingga pengelolaan intonasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berpesan agar peserta terus mengembangkan kemampuan debat dengan memperkuat kerja sama tim dan memperdalam pemahaman materi. Menurutnya, dalam debat, setiap anggota harus saling mendukung, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Melalui kegiatan ini, lomba debat diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melatih kepercayaan diri, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta mengembangkan keterampilan berargumentasi. Selain itu, kegiatan ini dinilai penting untuk terus dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana pengembangan potensi mahasiswa di bidang akademik.




~Jurnalistik HMP PGMI

daay 2 wanakarya

daay 2 wanakarya


Sarang - Kegiatan lomba microteaching yang diselenggarakan oleh mahasiswa PGMI berlangsung dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi pengembangan keterampilan calon pendidik. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembelajaran praktik mengajar secara langsung.

Salah satu juri, Danang Setyo Pambudi, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa secara umum pelaksanaan lomba berjalan dengan baik. Ia menilai kegiatan microteaching mampu menjadi stimulus bagi mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan mengajar serta membangun rasa percaya diri saat tampil di depan kelas.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat melatih kemampuan menyampaikan materi, mengelola kelas, serta membangun interaksi yang efektif dengan peserta didik,” ujarnya.

Meski demikian, ia memberikan catatan pada aspek durasi pelaksanaan. Waktu yang diberikan sekitar tujuh menit dinilai masih kurang optimal untuk menggambarkan kemampuan mengajar peserta secara menyeluruh. Ia menyarankan agar durasi ditambah menjadi sepuluh menit agar peserta dapat menyampaikan materi dengan lebih maksimal dan terstruktur.

Lebih lanjut, Beliau menekankan pentingnya penguasaan keterampilan dasar bagi calon pendidik, khususnya dalam hal public speaking dan komunikasi. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran karena guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menyampaikannya secara jelas dan menarik.

“Kemampuan komunikasi tidak terbentuk secara instan, tetapi perlu terus dilatih melalui berbagai kesempatan praktik, salah satunya melalui microteaching,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu peserta lomba, Elvika Putri, mengaku merasa senang sekaligus bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut meskipun sempat merasa gugup. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi sarana untuk melatih kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan umum.

“Elvika mengungkapkan bahwa momen paling berkesan adalah saat ia berhasil menyelesaikan praktik mengajar. Senyuman dari juri juga menjadi penyemangat tersendiri baginya,” ujarnya.

Dalam praktiknya, Elvika mengaku menghadapi tantangan berupa kurangnya rasa percaya diri dan penyampaian materi yang belum sepenuhnya lancar. Untuk mengatasinya, ia rutin berlatih secara mandiri, seperti berlatih di depan cermin serta melakukan afirmasi positif.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan kemampuan mengajarnya di masa depan. Ia juga bercita-cita menjadi guru yang tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga dapat menginspirasi siswa.

Kegiatan lomba microteaching ini diharapkan dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan kualitasnya, sehingga mampu mencetak calon pendidik yang profesional, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan dunia pendidikan.





~ Jurnalistik HMP PGMI
day 3 wanakarya

day 3 wanakarya


Rembang — Himpunan Mahasiswa Program Studi PGMI STAI Al-Anwar menggelar lomba pidato cilik (pildacil) dan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dalam rangka Wanakarya 2026, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah tersebut berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di dua lokasi berbeda, yakni pildacil di Sport Center dan MTQ di Auditorium Gedung Maimun Zubair.

Sebanyak 17 peserta mengikuti lomba pildacil yang berasal dari sejumlah sekolah, seperti SD Islam An-Nawawiyah Rembang dan SDIT Avicenna Lasem. Para peserta mengaku telah melakukan persiapan selama 1 hingga 2 minggu, mulai dari latihan hingga menghafal teks pidato dengan bimbingan guru masing-masing. Meski sempat merasa gugup dan kurang percaya diri saat melihat penampilan peserta lain, mereka tetap mampu tampil maksimal dengan tema yang beragam, seperti kepedulian lingkungan, cinta tanah air, dan keimanan.

Di waktu yang sama, lomba MTQ juga digelar dengan diikuti sekitar 12 peserta. Salah satu peserta mengungkapkan rasa senang sekaligus gugup saat mengikuti lomba tersebut. Ia menuturkan bahwa persiapannya dilakukan selama kurang lebih dua bulan dan berharap dapat meraih hasil terbaik dalam kompetisi tersebut.


Pendamping peserta dari SDIT Avicenna Lasem, Siti Nur Aisyah, menyampaikan bahwa keikutsertaan sekolahnya dalam kegiatan ini sudah memasuki tahun keempat. Ia menjelaskan bahwa pemilihan peserta dilakukan berdasarkan potensi dan keberanian siswa. “Tidak semua anak berani tampil, sehingga kami memilih siswa yang siap agar bisa berkembang dan percaya diri,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk mencetak generasi yang berani, berprestasi, serta unggul dalam bidang pendidikan dan keagamaan.

Sementara itu, salah satu juri lomba pildacil, Dr. Bisri Musthofa, M.Pd.I, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, acara ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa berjalan aktif. Namun, ia juga memberikan sejumlah masukan, seperti pentingnya peningkatan profesionalisme panitia, pengaturan posisi panitia saat acara berlangsung, serta perluasan promosi agar jumlah peserta semakin meningkat. Ia juga menyoroti perlunya evaluasi terkait peserta yang sudah sering menjuarai lomba agar kesempatan dapat diberikan kepada peserta lain.

Hal senada disampaikan oleh Mohammad Luthfil Anshori, Lc., M. Ud, selaku juri MTQ. Ia menilai tujuan kegiatan sudah baik dalam memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi di bidang pidato dan tilawah Al-Qur’an. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala, seperti ketidakhadiran salah satu juri, yang perlu menjadi bahan evaluasi ke depan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan persiapan agar kegiatan serupa dapat berjalan lebih optimal dan kompetitif.

Melalui kegiatan ini, panitia tidak hanya berupaya mengembangkan bakat siswa, tetapi juga memperkenalkan Program Studi PGMI STAI Al-Anwar kepada masyarakat luas. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan kualitas yang semakin baik di masa mendatang.







~ Jurnalistik HMP PGMI

“Level Up” ala Bukik Setiawan: Saat Guru Berhenti Jadi Pelaksana dan Mulai Berdaya

“Level Up” ala Bukik Setiawan: Saat Guru Berhenti Jadi Pelaksana dan Mulai Berdaya


Rembang, – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al-Anwar menggelar seminar pendidikan dalam rangkaian acara Wanakarya di Auditorium kampus, Minggu (19/04). Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa calon guru dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. 

Seminar tersebut menghadirkan Bukik Setiawan, M.Psi., Ketua Guru Belajar Foundation, sebagai narasumber utama dengan tema “Menjadi Guru Level Up! Memperkuat Kolaborasi dan Mengupgrade Empati Lintas Generasi”, yang mengajak mahasiswa merefleksikan kembali makna profesi guru di tengah berbagai tantangan zaman.

Dalam sesi wawancara, Pak Bukik menyoroti kondisi guru yang kerap berada pada posisi powerlessness atau ketidakberdayaan. Guru seringkali hanya diposisikan sebagai pelaksana teknis kurikulum, tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengelola pembelajaran. Padahal, menurutnya, menjadi guru “level up” berarti bangkit menjadi pendidik yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan proses belajar yang benar-benar berpihak pada murid dan berdampak nyata pada kehidupan mereka.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama ini, profesi guru kerap dibungkus dalam berbagai mitos, seperti pahlawan tanpa tanda jasa, yang justru berpotensi melemahkan posisi guru itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memiliki pemahaman yang lebih realistis dan utuh bahwa guru adalah profesi yang memiliki daya besar dalam membentuk masa depan masyarakat.

Dalam upaya menjadi guru yang berkembang, Pak Bukik memperkenalkan empat kunci utama, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karir, dengan belajar sebagai fondasi utamanya. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan guru untuk mengambil keputusan pembelajaran secara mandiri sesuai kebutuhan siswa. Kompetensi tidak hanya sebatas kelulusan formal, tetapi kemampuan nyata dalam menyelesaikan persoalan di kelas. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci penting karena guru tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas pendidikan. Terakhir, guru juga perlu memiliki visi karir yang jelas sebagai bentuk arah pengembangan diri.

Selain itu, ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan formalisme dalam proses belajar. Menurutnya, orientasi yang terlalu berfokus pada nilai, ijazah, dan formalitas justru mengaburkan esensi pembelajaran. Sistem seperti UTS dan UAS dinilai belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kemampuan mahasiswa secara utuh, karena seringkali hanya mendorong pola belajar instan seperti sistem kebut semalam.

Sebagai solusi, Pak Bukik menekankan pentingnya menguatkan niat belajar sebagai fondasi utama. Tanpa kesadaran niat yang kuat, berbagai inovasi dalam pembelajaran akan sulit berjalan optimal. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif membangun komunitas dan jejaring sebagai ruang bertumbuh bersama. Menurutnya, komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan. “Yang paling penting itu bukan sekadar sistem atau metode, tapi niat belajar itu sendiri. Kalau niatnya kuat, tantangan apa pun bisa dihadapi,” ungkapnya.

Di akhir sesi, Pak Bukik mengungkapkan apresiasinya terhadap mahasiswa STAI Al-Anwar yang dinilai memiliki semangat belajar dan daya kritis yang tinggi. Ia juga menilai keunikan kampus yang menggabungkan tradisi keilmuan dan keagamaan mampu melahirkan perspektif baru yang memperkaya cara berpikir mahasiswa.

Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami profesi guru secara teoritis, tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi pendidik yang adaptif, reflektif, dan berdaya di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh bersama generasi.





~Tim Jurnalistik HMP PGMI

opening wanakarya daay 1

opening wanakarya daay 1



Rabu, 15/04/2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) menggelar kegiatan Opening Wana Karya sebagai agenda tahunan organisasi, yang bertujuan mengembangkan potensi dan kreativitas mahasiswa.

Kegiatan dibuka dengan seremoni resmi yang dilanjutkan dengan sambutan oleh Sekertaris Program Studi, Syamsul Hadi, M.Pd. dan Ketua kegiatan Wana Karya, Anas Aufal Marom. Prosesi pemotongan tumpeng turut menjadi simbol dimulainya rangkaian acara. Suasana semakin meriah dengan berbagai penampilan seni, seperti puisi berantai, tari, dan pertunjukan musik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Anas aufal Marom selaku Ketua kegiatan Wana Karya, kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, sesuai dengan tema yang diangkat “Mendidik Generasi, Menumbuhkan Peradaban di tengah perubahan zaman”. Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keberlanjutan dari program yang telah di rintis oleh pendahulu sebelumnya.
“Harapannya, Wana Karya dapat terus berjalan ke tahun-tahun berikutnya serta lebih terstruktur dan semakin baik ke depannya,” ujarnya.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pertunjukan tari yang dibawakan dengan indah, serta penampilan teater saroengan yang mengusung puisi berantai.

Menurut Siti Nur Sarifah selaku panitia PenanggungJawab pertunjukan tari, mengungkapkan bahwa persiapan penampilan tari untuk opening ini memakan waktu sekitar dua bulan, dimulai sejak bulan Maret. Ia juga mengaku merasa puas dengan hasil yang telah ditampilkan.

Sementara itu, Nayla Risya selaku peserta opening mengungkapkan bahwa ia merasa sangat senang karena acara berlangsung dengan seru, menghibur, dan menarik sekaligus bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa PGMI.

Selanjutnya, Ketua Musik Al-Farabi, Moh. Hasan Thuba, juga menyampaikan rasa senangnya karena dapat berkolaborasi dalam memeriahkan acara Opening Wana Karya ini. Ia berharap kegiatan Wana Karya dapat terus konsisten dan memberikan manfaat bagi mahasiswa PGMI.




~Tim Jurnalistik HMP PGMI


Opini Diskusi Dalem semester 5

Opini Diskusi Dalem semester 5

 







Belajar di Era AI: Antara Kemudahan dan Ancaman Kemalasan Berpikir

Dalam proses belajar, penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) kini meningkat tajam. Aplikasi seperti pemecah soal matematika, generator esai, hingga chatbot pembelajaran telah menjadi bagian dari keseharian siswa. Namun, dibalik semua kemudahan serta kemajuan yang telah disediakan oleh kecerdasan buatan malah memunculkan kekhawatiran baru, apakah siswa akan menjadi malas berpikir? Dan apakah kemandirian belajar akan hilang digantikan kenyamanan jawaban instan?

Sebuah contoh kasus nyata menggambarkan masalah tersebut. Seorang pelajar terbiasa mengerjakan tugas matematika dan esai dengan bantuan aplikasi AI. Nilainya meningkat cepat, tugas selesai jauh lebih mudah. Tetapi ketika memasuki ujian yang melarang penggunaan teknologi, ia kesulitan menyelesaikan soal dasar karena ternyata tidak memahami konsepnya. Bahkan gurunya melihat kemampuan berpikir kritisnya menurun drastis. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa teknologi dapat mengaburkan kemampuan asli siswa jika tidak diarahkan dengan benar.

Padahal, teknologi seharusnya digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas belajar, bukan sebagai mesin yang mengambil alih kemampuan berpikir manusia. AI sebenarnya bisa membantu guru menyesuaikan materi berdasarkan kemampuan siswa, menyediakan contoh yang lebih relevan, dan memberikan umpan balik cepat. Jika dimanfaatkan dengan tepat, AI bukan pengganti kemampuan berpikir siswa, tetapi pendorong pemahaman.

Dalam penggunaan teknologi, beberapa prinsip ini dapat diterapkan agar siswa tidak malas berpikir:

1. AI harus dipakai untuk memahami, bukan menyalin. Siswa harus bijak dalam menggunaka AI sebagai alat bantu memahami konsep, bukan sekadar menyalin jawaban tanpa proses berpikir.

2. Tugas yang diberikan harus menuntut proses berpikir, misalnya menjelaskan kembali dengan bahasa sendiri atau menunjukkan langkah-langkah pengerjaan.

3. Guru berperan sebagai pembimbing dan pengarah. Guru memastikan siswa menemukan jawaban melalui proses berpikir, bukan hanya mengandalkan teknologi.

Dalam proses pembelajaran, teknologi di tempatkan hanya sebagai media, bukan pengganti kompetensi guru maupun proses kognitif siswa.

Penggunaan teknologi harus diseimbangkan untuk menjaga kemandirian belajar. Siswa tetap perlu mengerjakan beberapa tugas tanpa bantuan aplikasi, guru boleh menggunakan AI untuk memberi pemahaman bukan jawaban, dan siswa harus diajarkan memilah informasi bukan menelan semua hasil AI. Teknologi dapat dipakai untuk latihan tambahan atau simulasi, tetapi proses belajar tetap harus dilakukan oleh siswa sendiri.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, kemampuan berpikir tingkat rendah (C1–C2: mengingat dan memahami) jelas tidak cukup. Aplikasi telah menggantikan proses itu. Identifikasi informasi, perhitungan dasar, bahkan penyusunan teks dapat dilakukan mesin dalam hitungan detik. 
Oleh karena itu, mahasiswa dan calon guru harus meningkatkan keterampilan berpikir kritis, adaptif, dan bertanggung jawab. AI hanya alat bantu yang outputnya bergantung pada kualitas pertanyaan, logika, dan analisis penggunanya. Pengguna yang kritis akan memanfaatkan AI sebagai sarana pengayaan, sementara yang pasif justru mudah tertinggal dan tak mampu mengikuti perkembangan zaman.

Teknologi bukanlah ancaman, melainkan alat yang bisa memperkuat proses belajar jika digunakan dengan benar. AI dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperkaya pemahaman, melatih kemandirian, dan membantu siswa menghadapi tantangan zaman. 
Yang perlu ditingkatkan bukan hanya alatnya, tetapi kemampuan berpikir, kedewasaan digital, dan tanggung jawab dalam belajar. Di tengah derasnya arus teknologi, manusia tetap harus menjadi pengendali bukan sekadar pengguna yang bergantung.




Tim Jurnalistik