Acara Seminar Pendidikan Puncak Wanakarya bersama Pak Bukik (Ketua Guru Foundation)
Dalam sesi
wawancara, Pak Bukik menyoroti kondisi guru yang kerap berada pada posisi powerlessness
atau ketidakberdayaan. Guru seringkali hanya diposisikan sebagai pelaksana
teknis kurikulum, tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengelola pembelajaran.
Padahal, menurutnya, menjadi guru “level up” berarti bangkit menjadi pendidik
yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan proses belajar yang benar-benar
berpihak pada murid dan berdampak nyata pada kehidupan mereka.
Lebih lanjut,
ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama
ini, profesi guru kerap dibungkus dalam berbagai mitos, seperti pahlawan tanpa
tanda jasa, yang justru berpotensi melemahkan posisi guru itu sendiri. Oleh
karena itu, mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memiliki pemahaman yang
lebih realistis dan utuh bahwa guru adalah profesi yang memiliki daya besar
dalam membentuk masa depan masyarakat.
Dalam upaya
menjadi guru yang berkembang, Pak Bukik memperkenalkan empat kunci utama, yaitu
kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karir, dengan belajar sebagai fondasi
utamanya. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan guru untuk mengambil keputusan
pembelajaran secara mandiri sesuai kebutuhan siswa. Kompetensi tidak hanya
sebatas kelulusan formal, tetapi kemampuan nyata dalam menyelesaikan persoalan
di kelas. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci penting karena guru tidak
dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas pendidikan. Terakhir, guru
juga perlu memiliki visi karir yang jelas sebagai bentuk arah pengembangan
diri.
Selain itu, ia
juga menyoroti tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan
formalisme dalam proses belajar. Menurutnya, orientasi yang terlalu berfokus
pada nilai, ijazah, dan formalitas justru mengaburkan esensi pembelajaran.
Sistem seperti UTS dan UAS dinilai belum sepenuhnya mampu merepresentasikan
kemampuan mahasiswa secara utuh, karena seringkali hanya mendorong pola belajar
instan seperti sistem kebut semalam.
Sebagai solusi, Pak Bukik menekankan pentingnya menguatkan niat belajar sebagai fondasi utama. Tanpa kesadaran niat yang kuat, berbagai inovasi dalam pembelajaran akan sulit berjalan optimal. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif membangun komunitas dan jejaring sebagai ruang bertumbuh bersama. Menurutnya, komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan. “Yang paling penting itu bukan sekadar sistem atau metode, tapi niat belajar itu sendiri. Kalau niatnya kuat, tantangan apa pun bisa dihadapi,” ungkapnya.
Di akhir sesi,
Pak Bukik mengungkapkan apresiasinya terhadap mahasiswa STAI Al-Anwar yang
dinilai memiliki semangat belajar dan daya kritis yang tinggi. Ia juga menilai
keunikan kampus yang menggabungkan tradisi keilmuan dan keagamaan mampu
melahirkan perspektif baru yang memperkaya cara berpikir mahasiswa.
Melalui seminar
ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami profesi guru secara teoritis,
tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi pendidik yang adaptif, reflektif,
dan berdaya di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan
sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh
bersama generasi.
~Tim Jurnalistik HMP PGMI
