“Level Up” ala Bukik Setiawan: Saat Guru Berhenti Jadi Pelaksana dan Mulai Berdaya
Rembang, – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al-Anwar menggelar seminar pendidikan dalam rangkaian acara Wanakarya di Auditorium kampus, Minggu (19/04). Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa calon guru dalam menghadapi dinamika perubahan zaman.
Seminar tersebut menghadirkan Bukik Setiawan, M.Psi., Ketua Guru Belajar Foundation, sebagai narasumber utama dengan tema “Menjadi Guru Level Up! Memperkuat Kolaborasi dan Mengupgrade Empati Lintas Generasi”, yang mengajak mahasiswa merefleksikan kembali makna profesi guru di tengah berbagai tantangan zaman.
Dalam sesi wawancara, Pak Bukik menyoroti kondisi guru yang kerap berada pada posisi powerlessness atau ketidakberdayaan. Guru seringkali hanya diposisikan sebagai pelaksana teknis kurikulum, tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengelola pembelajaran. Padahal, menurutnya, menjadi guru “level up” berarti bangkit menjadi pendidik yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan proses belajar yang benar-benar berpihak pada murid dan berdampak nyata pada kehidupan mereka.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama ini, profesi guru kerap dibungkus dalam berbagai mitos, seperti pahlawan tanpa tanda jasa, yang justru berpotensi melemahkan posisi guru itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memiliki pemahaman yang lebih realistis dan utuh bahwa guru adalah profesi yang memiliki daya besar dalam membentuk masa depan masyarakat.
Dalam upaya menjadi guru yang berkembang, Pak Bukik memperkenalkan empat kunci utama, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karir, dengan belajar sebagai fondasi utamanya. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan guru untuk mengambil keputusan pembelajaran secara mandiri sesuai kebutuhan siswa. Kompetensi tidak hanya sebatas kelulusan formal, tetapi kemampuan nyata dalam menyelesaikan persoalan di kelas. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci penting karena guru tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas pendidikan. Terakhir, guru juga perlu memiliki visi karir yang jelas sebagai bentuk arah pengembangan diri.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan formalisme dalam proses belajar. Menurutnya, orientasi yang terlalu berfokus pada nilai, ijazah, dan formalitas justru mengaburkan esensi pembelajaran. Sistem seperti UTS dan UAS dinilai belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kemampuan mahasiswa secara utuh, karena seringkali hanya mendorong pola belajar instan seperti sistem kebut semalam.
Sebagai solusi, Pak Bukik menekankan pentingnya menguatkan niat belajar sebagai fondasi utama. Tanpa kesadaran niat yang kuat, berbagai inovasi dalam pembelajaran akan sulit berjalan optimal. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif membangun komunitas dan jejaring sebagai ruang bertumbuh bersama. Menurutnya, komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan. “Yang paling penting itu bukan sekadar sistem atau metode, tapi niat belajar itu sendiri. Kalau niatnya kuat, tantangan apa pun bisa dihadapi,” ungkapnya.
Di akhir sesi, Pak Bukik mengungkapkan apresiasinya terhadap mahasiswa STAI Al-Anwar yang dinilai memiliki semangat belajar dan daya kritis yang tinggi. Ia juga menilai keunikan kampus yang menggabungkan tradisi keilmuan dan keagamaan mampu melahirkan perspektif baru yang memperkaya cara berpikir mahasiswa.
Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami profesi guru secara teoritis, tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi pendidik yang adaptif, reflektif, dan berdaya di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh bersama generasi.
Dalam sesi wawancara, Pak Bukik menyoroti kondisi guru yang kerap berada pada posisi powerlessness atau ketidakberdayaan. Guru seringkali hanya diposisikan sebagai pelaksana teknis kurikulum, tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengelola pembelajaran. Padahal, menurutnya, menjadi guru “level up” berarti bangkit menjadi pendidik yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan proses belajar yang benar-benar berpihak pada murid dan berdampak nyata pada kehidupan mereka.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama ini, profesi guru kerap dibungkus dalam berbagai mitos, seperti pahlawan tanpa tanda jasa, yang justru berpotensi melemahkan posisi guru itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memiliki pemahaman yang lebih realistis dan utuh bahwa guru adalah profesi yang memiliki daya besar dalam membentuk masa depan masyarakat.
Dalam upaya menjadi guru yang berkembang, Pak Bukik memperkenalkan empat kunci utama, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karir, dengan belajar sebagai fondasi utamanya. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan guru untuk mengambil keputusan pembelajaran secara mandiri sesuai kebutuhan siswa. Kompetensi tidak hanya sebatas kelulusan formal, tetapi kemampuan nyata dalam menyelesaikan persoalan di kelas. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci penting karena guru tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas pendidikan. Terakhir, guru juga perlu memiliki visi karir yang jelas sebagai bentuk arah pengembangan diri.
Selain itu, ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan formalisme dalam proses belajar. Menurutnya, orientasi yang terlalu berfokus pada nilai, ijazah, dan formalitas justru mengaburkan esensi pembelajaran. Sistem seperti UTS dan UAS dinilai belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kemampuan mahasiswa secara utuh, karena seringkali hanya mendorong pola belajar instan seperti sistem kebut semalam.
Sebagai solusi, Pak Bukik menekankan pentingnya menguatkan niat belajar sebagai fondasi utama. Tanpa kesadaran niat yang kuat, berbagai inovasi dalam pembelajaran akan sulit berjalan optimal. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif membangun komunitas dan jejaring sebagai ruang bertumbuh bersama. Menurutnya, komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan. “Yang paling penting itu bukan sekadar sistem atau metode, tapi niat belajar itu sendiri. Kalau niatnya kuat, tantangan apa pun bisa dihadapi,” ungkapnya.
Di akhir sesi, Pak Bukik mengungkapkan apresiasinya terhadap mahasiswa STAI Al-Anwar yang dinilai memiliki semangat belajar dan daya kritis yang tinggi. Ia juga menilai keunikan kampus yang menggabungkan tradisi keilmuan dan keagamaan mampu melahirkan perspektif baru yang memperkaya cara berpikir mahasiswa.
Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami profesi guru secara teoritis, tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi pendidik yang adaptif, reflektif, dan berdaya di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh bersama generasi.
~Tim Jurnalistik HMP PGMI
