Rabu, 22 April 2026

day 3 Wanakarya


Rembang — Himpunan Mahasiswa Program Studi PGMI STAI Al-Anwar menggelar lomba pidato cilik (pildacil) dan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dalam rangka Wanakarya 2026, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah tersebut berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di dua lokasi berbeda, yakni pildacil di Sport Center dan MTQ di Auditorium Gedung Maimun Zubair.

Sebanyak 17 peserta mengikuti lomba pildacil yang berasal dari sejumlah sekolah, seperti SD Islam An-Nawawiyah Rembang dan SDIT Avicenna Lasem. Para peserta mengaku telah melakukan persiapan selama 1 hingga 2 minggu, mulai dari latihan hingga menghafal teks pidato dengan bimbingan guru masing-masing. Meski sempat merasa gugup dan kurang percaya diri saat melihat penampilan peserta lain, mereka tetap mampu tampil maksimal dengan tema yang beragam, seperti kepedulian lingkungan, cinta tanah air, dan keimanan.

Di waktu yang sama, lomba MTQ juga digelar dengan diikuti sekitar 12 peserta. Salah satu peserta mengungkapkan rasa senang sekaligus gugup saat mengikuti lomba tersebut. Ia menuturkan bahwa persiapannya dilakukan selama kurang lebih dua bulan dan berharap dapat meraih hasil terbaik dalam kompetisi tersebut.


Pendamping peserta dari SDIT Avicenna Lasem, Siti Nur Aisyah, menyampaikan bahwa keikutsertaan sekolahnya dalam kegiatan ini sudah memasuki tahun keempat. Ia menjelaskan bahwa pemilihan peserta dilakukan berdasarkan potensi dan keberanian siswa. “Tidak semua anak berani tampil, sehingga kami memilih siswa yang siap agar bisa berkembang dan percaya diri,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk mencetak generasi yang berani, berprestasi, serta unggul dalam bidang pendidikan dan keagamaan.

Sementara itu, salah satu juri lomba pildacil, Dr. Bisri Musthofa, M.Pd.I, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, acara ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa berjalan aktif. Namun, ia juga memberikan sejumlah masukan, seperti pentingnya peningkatan profesionalisme panitia, pengaturan posisi panitia saat acara berlangsung, serta perluasan promosi agar jumlah peserta semakin meningkat. Ia juga menyoroti perlunya evaluasi terkait peserta yang sudah sering menjuarai lomba agar kesempatan dapat diberikan kepada peserta lain.

Hal senada disampaikan oleh Mohammad Luthfil Anshori, Lc., M. Ud, selaku juri MTQ. Ia menilai tujuan kegiatan sudah baik dalam memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi di bidang pidato dan tilawah Al-Qur’an. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala, seperti ketidakhadiran salah satu juri, yang perlu menjadi bahan evaluasi ke depan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan persiapan agar kegiatan serupa dapat berjalan lebih optimal dan kompetitif.

Melalui kegiatan ini, panitia tidak hanya berupaya mengembangkan bakat siswa, tetapi juga memperkenalkan Program Studi PGMI STAI Al-Anwar kepada masyarakat luas. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan kualitas yang semakin baik di masa mendatang.







~ Jurnalistik HMP PGMI

“Level Up” ala Bukik Setiawan: Saat Guru Berhenti Jadi Pelaksana dan Mulai Berdaya


Rembang, – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al-Anwar menggelar seminar pendidikan dalam rangkaian acara Wanakarya di Auditorium kampus, Minggu (19/04). Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa calon guru dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. 

Seminar tersebut menghadirkan Bukik Setiawan, M.Psi., Ketua Guru Belajar Foundation, sebagai narasumber utama dengan tema “Menjadi Guru Level Up! Memperkuat Kolaborasi dan Mengupgrade Empati Lintas Generasi”, yang mengajak mahasiswa merefleksikan kembali makna profesi guru di tengah berbagai tantangan zaman.

Dalam sesi wawancara, Pak Bukik menyoroti kondisi guru yang kerap berada pada posisi powerlessness atau ketidakberdayaan. Guru seringkali hanya diposisikan sebagai pelaksana teknis kurikulum, tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengelola pembelajaran. Padahal, menurutnya, menjadi guru “level up” berarti bangkit menjadi pendidik yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan proses belajar yang benar-benar berpihak pada murid dan berdampak nyata pada kehidupan mereka.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama ini, profesi guru kerap dibungkus dalam berbagai mitos, seperti pahlawan tanpa tanda jasa, yang justru berpotensi melemahkan posisi guru itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memiliki pemahaman yang lebih realistis dan utuh bahwa guru adalah profesi yang memiliki daya besar dalam membentuk masa depan masyarakat.

Dalam upaya menjadi guru yang berkembang, Pak Bukik memperkenalkan empat kunci utama, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karir, dengan belajar sebagai fondasi utamanya. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan guru untuk mengambil keputusan pembelajaran secara mandiri sesuai kebutuhan siswa. Kompetensi tidak hanya sebatas kelulusan formal, tetapi kemampuan nyata dalam menyelesaikan persoalan di kelas. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci penting karena guru tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas pendidikan. Terakhir, guru juga perlu memiliki visi karir yang jelas sebagai bentuk arah pengembangan diri.

Selain itu, ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan formalisme dalam proses belajar. Menurutnya, orientasi yang terlalu berfokus pada nilai, ijazah, dan formalitas justru mengaburkan esensi pembelajaran. Sistem seperti UTS dan UAS dinilai belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kemampuan mahasiswa secara utuh, karena seringkali hanya mendorong pola belajar instan seperti sistem kebut semalam.

Sebagai solusi, Pak Bukik menekankan pentingnya menguatkan niat belajar sebagai fondasi utama. Tanpa kesadaran niat yang kuat, berbagai inovasi dalam pembelajaran akan sulit berjalan optimal. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif membangun komunitas dan jejaring sebagai ruang bertumbuh bersama. Menurutnya, komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan. “Yang paling penting itu bukan sekadar sistem atau metode, tapi niat belajar itu sendiri. Kalau niatnya kuat, tantangan apa pun bisa dihadapi,” ungkapnya.

Di akhir sesi, Pak Bukik mengungkapkan apresiasinya terhadap mahasiswa STAI Al-Anwar yang dinilai memiliki semangat belajar dan daya kritis yang tinggi. Ia juga menilai keunikan kampus yang menggabungkan tradisi keilmuan dan keagamaan mampu melahirkan perspektif baru yang memperkaya cara berpikir mahasiswa.

Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami profesi guru secara teoritis, tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi pendidik yang adaptif, reflektif, dan berdaya di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh bersama generasi.





~Tim Jurnalistik HMP PGMI