Opini Diskusi Dalem Semester 3
Ketika Anak Naik Kelas tapi Tak Mengerti Isi Bacaan: Alarm Bahaya Literasi Dasar
Pernahkah kamu menemukan anak yang sudah rajin bersekolah, tapi masih kesulitan memahami isi buku pelajaran? Bahkan ada yang belum lancar membaca, tapi tetap naik kelas. Fenomena ini bukan sekadar masalah akademik, melainkan tanda serius bahwa literasi dasar kita sedang bermasalah.
Apa Itu literasi dan kenapa Penting? Literasi bukan cuma bisa membaca huruf atau kata. Literasi berarti memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dari teks secara kritis. Di SD/MI, kemampuan ini jadi fondasi utama untuk semua pelajaran lain. Anak yang tidak paham bacaan akan kesulitan memahami pelajaran, membangun logika, bahkan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Banyak faktor yang membuat anak naik kelas tanpa benar-benar paham bacaan. Di kota, akses sudah bukan masalah buku, internet, dan gadget melimpah. Tapi anak-anak lebih sering scroll media sosial daripada membaca teks yang menuntut fokus. Sementara di desa, tantangannya lebih ke buku yang sulit didapat, pelatihan guru terbatas, dan budaya membaca di rumah yang belum terbentuk.
Masalah ini juga berkaitan dengan kebijakan pendidikan yang belum konsisten. Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebenarnya sudah ada, namun pelaksanaannya di lapangan masih lemah. Data PISA 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia hanya 359 poin, terendah sejak tahun 2000 dan jauh di bawah rata-rata negara lain. Artinya, krisis literasi ini nyata terjadi, baik di kota besar maupun pelosok.
Lalu siapa yang bertanggung jawab? Krisis ini bukan tanggung jawab satu pihak saja. Pemerintah harus memastikan kurikulum dan pelatihan guru berjalan efektif. Guru perlu menciptakan pembelajaran yang membuat anak benar-benar paham, bukan sekadar hafal. Orang tua berperan menumbuhkan budaya membaca di rumah.
Jika ketiganya tidak sejalan, maka amanat UUD 1945 tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” hanya akan jadi slogan.
Untuk itu, sudah saatnya semua pihak bergerak bersama mencari solusi nyata. Solusi tak selalu rumit. Sekolah bisa mulai dengan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai. Guru diberi ruang untuk berinovasi dalam mengajar. Pemerintah memperluas distribusi buku dan pelatihan berbasis literasi. Orang tua bisa membaca bersama anak setiap hari. Hal-hal kecil seperti ini, jika dilakukan terus-menerus, bisa tumbuh menjadi perubahan besar bagi budaya literasi bangsa.
Sebab, membangun literasi bukan kerja sehari, melainkan kebiasaan yang tumbuh bersama waktu dan keteladanan.
Jika kita terus membiarkan anak naik kelas tanpa memahami bacaan, artinya kita sedang meluluskan generasi yang cerdas di kertas, tapi kosong di makna.
Ditulis oleh tim Jurnalistik HMP PGMI
Ditulis oleh tim Jurnalistik HMP PGMI