Adu Argumen di Wanakarya: Mahasiswa PGMI Asah Nalar Kritis Lewat Lomba Debat

Adu Argumen di Wanakarya: Mahasiswa PGMI Asah Nalar Kritis Lewat Lomba Debat



Rembang - Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al Anwar menggelar lomba debat dalam rangkaian kegiatan Wanakarya di Auditorium kampus, Minggu (19/04). Kegiatan yang dimulai pukul 09.20 WIB ini diikuti oleh lima kelompok mahasiswa dari semester 2 dan 4, dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga anggota.

Dalam persiapannya, peserta mempelajari delapan mosi yang telah disiapkan oleh panitia. Mosi tersebut kemudian dibagi kepada masing-masing anggota kelompok untuk diperdalam sebelum pelaksanaan lomba.

Salah satu peserta, Lutfiana Nisak, mengungkapkan bahwa lomba debat ini berlangsung seru dengan kualitas penyampaian argumen yang cukup baik. “Acaranya seru dan penyampaian argumen para peserta juga bagus-bagus. Akan tetapi, sangat disayangkan peserta yang ikut lomba masih kurang banyak,” ujarnya.

Selain memberikan kesan, peserta juga menyampaikan kritik dan saran terkait pelaksanaan lomba. Salah satunya adalah perlunya technical meeting sebelum kegiatan berlangsung, terutama bagi peserta yang belum memiliki pengalaman dalam debat. Selain itu, waktu pelaksanaan lomba dinilai kurang tepat karena mengalami keterlambatan dari jadwal yang telah ditentukan.

Pada babak penentuan juara, peserta diberikan mosi baru di luar delapan mosi yang telah dipelajari sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk menguji kemampuan berpikir kritis dan spontanitas peserta dalam menyusun serta mempertahankan argumen.

Sementara itu, juri lomba, Ika Wahyuningsih, menilai bahwa secara umum peserta masih perlu meningkatkan persiapan dan pemahaman peran dalam debat. Ia menyoroti bahwa sebagian peserta masih cenderung membaca teks dan belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan berpikir kritis.

“Debat itu bukan sekadar membaca teks, tetapi kemampuan berpikir kritis dan beradu argumen. Peserta juga perlu memahami etika debat, seperti cara menyampaikan salam, penghormatan kepada juri, kontak mata, gestur, hingga pengelolaan intonasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berpesan agar peserta terus mengembangkan kemampuan debat dengan memperkuat kerja sama tim dan memperdalam pemahaman materi. Menurutnya, dalam debat, setiap anggota harus saling mendukung, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Melalui kegiatan ini, lomba debat diharapkan dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melatih kepercayaan diri, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta mengembangkan keterampilan berargumentasi. Selain itu, kegiatan ini dinilai penting untuk terus dilaksanakan setiap tahun sebagai sarana pengembangan potensi mahasiswa di bidang akademik.




~Jurnalistik HMP PGMI

day 2 wanakarya

day 2 wanakarya


Sarang - Kegiatan lomba microteaching yang diselenggarakan oleh mahasiswa PGMI berlangsung dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi pengembangan keterampilan calon pendidik. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembelajaran praktik mengajar secara langsung.

Salah satu juri, Danang Setyo Pambudi, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa secara umum pelaksanaan lomba berjalan dengan baik. Ia menilai kegiatan microteaching mampu menjadi stimulus bagi mahasiswa dalam meningkatkan keterampilan mengajar serta membangun rasa percaya diri saat tampil di depan kelas.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat melatih kemampuan menyampaikan materi, mengelola kelas, serta membangun interaksi yang efektif dengan peserta didik,” ujarnya.

Meski demikian, ia memberikan catatan pada aspek durasi pelaksanaan. Waktu yang diberikan sekitar tujuh menit dinilai masih kurang optimal untuk menggambarkan kemampuan mengajar peserta secara menyeluruh. Ia menyarankan agar durasi ditambah menjadi sepuluh menit agar peserta dapat menyampaikan materi dengan lebih maksimal dan terstruktur.

Lebih lanjut, Beliau menekankan pentingnya penguasaan keterampilan dasar bagi calon pendidik, khususnya dalam hal public speaking dan komunikasi. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran karena guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu menyampaikannya secara jelas dan menarik.

“Kemampuan komunikasi tidak terbentuk secara instan, tetapi perlu terus dilatih melalui berbagai kesempatan praktik, salah satunya melalui microteaching,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu peserta lomba, Elvika Putri, mengaku merasa senang sekaligus bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut meskipun sempat merasa gugup. Ia menilai pengalaman tersebut menjadi sarana untuk melatih kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan umum.

“Elvika mengungkapkan bahwa momen paling berkesan adalah saat ia berhasil menyelesaikan praktik mengajar. Senyuman dari juri juga menjadi penyemangat tersendiri baginya,” ujarnya.

Dalam praktiknya, Elvika mengaku menghadapi tantangan berupa kurangnya rasa percaya diri dan penyampaian materi yang belum sepenuhnya lancar. Untuk mengatasinya, ia rutin berlatih secara mandiri, seperti berlatih di depan cermin serta melakukan afirmasi positif.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan kemampuan mengajarnya di masa depan. Ia juga bercita-cita menjadi guru yang tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga dapat menginspirasi siswa.

Kegiatan lomba microteaching ini diharapkan dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan kualitasnya, sehingga mampu mencetak calon pendidik yang profesional, komunikatif, dan siap menghadapi tantangan dunia pendidikan.





~ Jurnalistik HMP PGMI
day 3 Wanakarya

day 3 Wanakarya


Rembang — Himpunan Mahasiswa Program Studi PGMI STAI Al-Anwar menggelar lomba pidato cilik (pildacil) dan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dalam rangka Wanakarya 2026, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah tersebut berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di dua lokasi berbeda, yakni pildacil di Sport Center dan MTQ di Auditorium Gedung Maimun Zubair.

Sebanyak 17 peserta mengikuti lomba pildacil yang berasal dari sejumlah sekolah, seperti SD Islam An-Nawawiyah Rembang dan SDIT Avicenna Lasem. Para peserta mengaku telah melakukan persiapan selama 1 hingga 2 minggu, mulai dari latihan hingga menghafal teks pidato dengan bimbingan guru masing-masing. Meski sempat merasa gugup dan kurang percaya diri saat melihat penampilan peserta lain, mereka tetap mampu tampil maksimal dengan tema yang beragam, seperti kepedulian lingkungan, cinta tanah air, dan keimanan.

Di waktu yang sama, lomba MTQ juga digelar dengan diikuti sekitar 12 peserta. Salah satu peserta mengungkapkan rasa senang sekaligus gugup saat mengikuti lomba tersebut. Ia menuturkan bahwa persiapannya dilakukan selama kurang lebih dua bulan dan berharap dapat meraih hasil terbaik dalam kompetisi tersebut.


Pendamping peserta dari SDIT Avicenna Lasem, Siti Nur Aisyah, menyampaikan bahwa keikutsertaan sekolahnya dalam kegiatan ini sudah memasuki tahun keempat. Ia menjelaskan bahwa pemilihan peserta dilakukan berdasarkan potensi dan keberanian siswa. “Tidak semua anak berani tampil, sehingga kami memilih siswa yang siap agar bisa berkembang dan percaya diri,” ujarnya. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk mencetak generasi yang berani, berprestasi, serta unggul dalam bidang pendidikan dan keagamaan.

Sementara itu, salah satu juri lomba pildacil, Dr. Bisri Musthofa, M.Pd.I, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, acara ini menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa berjalan aktif. Namun, ia juga memberikan sejumlah masukan, seperti pentingnya peningkatan profesionalisme panitia, pengaturan posisi panitia saat acara berlangsung, serta perluasan promosi agar jumlah peserta semakin meningkat. Ia juga menyoroti perlunya evaluasi terkait peserta yang sudah sering menjuarai lomba agar kesempatan dapat diberikan kepada peserta lain.

Hal senada disampaikan oleh Mohammad Luthfil Anshori, Lc., M. Ud, selaku juri MTQ. Ia menilai tujuan kegiatan sudah baik dalam memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi di bidang pidato dan tilawah Al-Qur’an. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala, seperti ketidakhadiran salah satu juri, yang perlu menjadi bahan evaluasi ke depan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan persiapan agar kegiatan serupa dapat berjalan lebih optimal dan kompetitif.

Melalui kegiatan ini, panitia tidak hanya berupaya mengembangkan bakat siswa, tetapi juga memperkenalkan Program Studi PGMI STAI Al-Anwar kepada masyarakat luas. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan kualitas yang semakin baik di masa mendatang.







~ Jurnalistik HMP PGMI

“Level Up” ala Bukik Setiawan: Saat Guru Berhenti Jadi Pelaksana dan Mulai Berdaya

“Level Up” ala Bukik Setiawan: Saat Guru Berhenti Jadi Pelaksana dan Mulai Berdaya


Rembang, – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al-Anwar menggelar seminar pendidikan dalam rangkaian acara Wanakarya di Auditorium kampus, Minggu (19/04). Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kompetensi mahasiswa calon guru dalam menghadapi dinamika perubahan zaman. 

Seminar tersebut menghadirkan Bukik Setiawan, M.Psi., Ketua Guru Belajar Foundation, sebagai narasumber utama dengan tema “Menjadi Guru Level Up! Memperkuat Kolaborasi dan Mengupgrade Empati Lintas Generasi”, yang mengajak mahasiswa merefleksikan kembali makna profesi guru di tengah berbagai tantangan zaman.

Dalam sesi wawancara, Pak Bukik menyoroti kondisi guru yang kerap berada pada posisi powerlessness atau ketidakberdayaan. Guru seringkali hanya diposisikan sebagai pelaksana teknis kurikulum, tanpa memiliki ruang otonomi dalam mengelola pembelajaran. Padahal, menurutnya, menjadi guru “level up” berarti bangkit menjadi pendidik yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan proses belajar yang benar-benar berpihak pada murid dan berdampak nyata pada kehidupan mereka.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap profesi guru. Selama ini, profesi guru kerap dibungkus dalam berbagai mitos, seperti pahlawan tanpa tanda jasa, yang justru berpotensi melemahkan posisi guru itu sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon pendidik perlu memiliki pemahaman yang lebih realistis dan utuh bahwa guru adalah profesi yang memiliki daya besar dalam membentuk masa depan masyarakat.

Dalam upaya menjadi guru yang berkembang, Pak Bukik memperkenalkan empat kunci utama, yaitu kemerdekaan, kompetensi, kolaborasi, dan karir, dengan belajar sebagai fondasi utamanya. Kemerdekaan dimaknai sebagai kemampuan guru untuk mengambil keputusan pembelajaran secara mandiri sesuai kebutuhan siswa. Kompetensi tidak hanya sebatas kelulusan formal, tetapi kemampuan nyata dalam menyelesaikan persoalan di kelas. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci penting karena guru tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi kompleksitas pendidikan. Terakhir, guru juga perlu memiliki visi karir yang jelas sebagai bentuk arah pengembangan diri.

Selain itu, ia juga menyoroti tantangan terbesar dalam dunia pendidikan, yaitu kecenderungan formalisme dalam proses belajar. Menurutnya, orientasi yang terlalu berfokus pada nilai, ijazah, dan formalitas justru mengaburkan esensi pembelajaran. Sistem seperti UTS dan UAS dinilai belum sepenuhnya mampu merepresentasikan kemampuan mahasiswa secara utuh, karena seringkali hanya mendorong pola belajar instan seperti sistem kebut semalam.

Sebagai solusi, Pak Bukik menekankan pentingnya menguatkan niat belajar sebagai fondasi utama. Tanpa kesadaran niat yang kuat, berbagai inovasi dalam pembelajaran akan sulit berjalan optimal. Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif membangun komunitas dan jejaring sebagai ruang bertumbuh bersama. Menurutnya, komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi ruang untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan. “Yang paling penting itu bukan sekadar sistem atau metode, tapi niat belajar itu sendiri. Kalau niatnya kuat, tantangan apa pun bisa dihadapi,” ungkapnya.

Di akhir sesi, Pak Bukik mengungkapkan apresiasinya terhadap mahasiswa STAI Al-Anwar yang dinilai memiliki semangat belajar dan daya kritis yang tinggi. Ia juga menilai keunikan kampus yang menggabungkan tradisi keilmuan dan keagamaan mampu melahirkan perspektif baru yang memperkaya cara berpikir mahasiswa.

Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami profesi guru secara teoritis, tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi pendidik yang adaptif, reflektif, dan berdaya di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan panjang untuk terus belajar dan bertumbuh bersama generasi.





~Tim Jurnalistik HMP PGMI

opening Wanakarya daay 1

opening Wanakarya daay 1



Rabu, 15/04/2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) menggelar kegiatan Opening Wanakarya sebagai agenda tahunan organisasi, yang bertujuan mengembangkan potensi dan kreativitas mahasiswa.

Kegiatan dibuka dengan seremoni resmi yang dilanjutkan dengan sambutan oleh Sekertaris Program Studi, Syamsul Hadi, M.Pd. dan Ketua kegiatan Wanakarya, Anas Aufal Marom. Prosesi pemotongan tumpeng turut menjadi simbol dimulainya rangkaian acara. Suasana semakin meriah dengan berbagai penampilan seni, seperti puisi berantai, tari, dan pertunjukan musik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Anas aufal Marom selaku Ketua kegiatan Wanakarya, kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, sesuai dengan tema yang diangkat “Mendidik Generasi, Menumbuhkan Peradaban di tengah perubahan zaman”. Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keberlanjutan dari program yang telah di rintis oleh pendahulu sebelumnya.
“Harapannya, Wana Karya dapat terus berjalan ke tahun-tahun berikutnya serta lebih terstruktur dan semakin baik ke depannya,” ujarnya.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pertunjukan tari yang dibawakan dengan indah, serta penampilan teater saroengan yang mengusung puisi berantai.

Menurut Siti Nur Sarifah selaku panitia PenanggungJawab pertunjukan tari, mengungkapkan bahwa persiapan penampilan tari untuk opening ini memakan waktu sekitar dua bulan, dimulai sejak bulan Maret. Ia juga mengaku merasa puas dengan hasil yang telah ditampilkan.

Sementara itu, Nayla Risya selaku peserta opening mengungkapkan bahwa ia merasa sangat senang karena acara berlangsung dengan seru, menghibur, dan menarik sekaligus bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa PGMI.

Selanjutnya, Ketua Musik Al-Farabi, Moh. Hasan Thuba, juga menyampaikan rasa senangnya karena dapat berkolaborasi dalam memeriahkan acara Opening Wana Karya ini. Ia berharap kegiatan Wanakarya dapat terus konsisten dan memberikan manfaat bagi mahasiswa PGMI.




~Tim Jurnalistik HMP PGMI


 Update HMP

Update HMP

 



Seminar Pendidikan HMP PGMI: Guru Pembaharu dan Kreativitas Mengajar

Sarang     Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al-Anwar Sarang menggelar seminar pendidikan dengan tema “Menjadi Guru Pembaharu: Dari Rutinitas Menuju Revolusi Kreativitas” yang menghadirkan Ibu Siti Komariyah, S.Pd. atau akrab disapa Bu Guru Ria  sebagai narasumber. Kegiatan ini bertujuan mendorong calon pendidik agar berani keluar dari rutinitas mengajar dan menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.

Acara berlangsung pada Sabtu siang dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Studi PGMI. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia. Dalam sambutannya, Imam selaku ketua acara menegaskan bahwa guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu menciptakan proses belajar yang hidup, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik. 

Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional sekaligus menjadi bagian dari program kerja HMP PGMI. Imam juga menambahkan bahwa tema tersebut dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi pendidikan saat ini yang menuntut guru tidak hanya bertahan pada pola mengajar lama, tetapi terus meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kreativitas dalam menghadapi perkembangan zaman.

Seminar ini mendapat respons positif dari mahasiswa PGMI. Salah satunya disampaikan oleh Arwani, mahasiswa PGMI yang mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. Ia mengungkapkan bahwa seminar tersebut penting bagi pengembangan dirinya sebagai calon guru.
“Seminar ini sangat relevan untuk masa depan saya sebagai mahasiswa PGMI. Tema dan pembahasannya menarik, sehingga saya merasa perlu mengikuti seluruh rangkaian acara,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Bu Guru Ria membagikan pengalaman pribadinya sebagai pendidik. Ia menjelaskan bahwa kejenuhan terhadap rutinitas mengajar justru menjadi titik awal untuk berinovasi, salah satunya dengan menciptakan media pembelajaran sederhana agar suasana kelas lebih menyenangkan dan tidak monoton.

Menurutnya, guru tidak boleh berhenti belajar. Perkembangan zaman menuntut pendidik untuk mampu menyesuaikan metode dan media pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Ia juga menegaskan bahwa kreativitas tidak selalu identik dengan hal yang rumit atau mahal, melainkan dapat dimulai dari pemanfaatan lingkungan sekitar kelas.

Materi yang disampaikan dinilai memberikan pandangan baru bagi peserta. Salah satunya yang dirasakan oleh Arwani, yang mengaku seminar ini mengubah cara pandangnya terhadap profesi guru.
“Awalnya saya memandang guru hanya sebagai profesi. Namun dari pemaparan Bu Guru Ria, saya menyadari bahwa guru memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan bermakna, bukan sekadar menjalankan rutinitas,” tuturnya.

Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman tentang pengelolaan kelas yang efektif. Bu Guru Ria menjelaskan bahwa metode ceramah tidak selalu membosankan jika dikombinasikan dengan tanya jawab, diskusi singkat, contoh konkret, serta penggunaan media sederhana agar peserta didik tetap aktif dan fokus.

Dalam sesi wawancara, Bu Guru Ria turut menyampaikan kesan positifnya terhadap lingkungan STAI Al-Anwar Sarang. Ia menilai civitas akademika kampus tersebut ramah dan memiliki budaya sopan santun yang kuat karena berada di lingkungan pesantren.
“Saya merasa senang dan nyaman berada di STAI Al-Anwar Sarang. Lingkungan pesantrennya terasa, mahasiswanya sopan dan ramah, sehingga suasana diskusi menjadi hangat,” ujarnya saat diwawancarai.

Imam juga menyampaikan harapannya semoga seminar ini dapat memberikan dampak nyata bagi mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik. Ia menegaskan bahwa mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan pola pikir yang terbuka dan inovatif, tidak hanya menjalankan rutinitas mengajar, tetapi berani melakukan perubahan serta terus beradaptasi dengan perkembangan pendidikan di era digital.

Menutup kegiatan, Bu Guru Ria berpesan kepada para calon pendidik agar tidak mudah bosan dalam menjalani profesi guru. Ia menegaskan bahwa murid tidak bisa diubah, tetapi cara mengajar guru harus terus berkembang agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dirindukan oleh peserta didik.









Ditulis Tim Jurnalistik HMP PGMI



breaking news

breaking news





Diskusi Lintas Prodi STAI Al Anwar 2025: Menguatkan Ilmu, Adab, dan Amal di Era Digital

Sarang, 27 November 2025 — Tiga Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) STAI Al Anwar, yakni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Perbandingan Mazhab (PM), bersama-sama menjadi penyelenggara Diskusi Lintas Prodi 2025. Agenda tahunan ini mengangkat tema “Ilmu, Adab, dan Amal dalam Beragama Digital” yang dinilai relevan dengan tantangan akademik dan keagamaan di era teknologi.

Acara berlangsung di Auditorium STAI Al Anwar dengan dua sesi, yakni sesi pertama dimulai pukul 10.45–12.15 dan sesi kedua pukul 14.00–15.30. Diskusi diikuti oleh delegasi mahasiswa mulai dari semester 1, 3, dan 5 dari masing-masing prodi. Sejak awal, forum berjalan hidup dengan antusiasme peserta yang aktif menyampaikan pendapat, memberi sanggahan, dan memperkaya argumen lintas disiplin.


Salah satu peserta dari kelompok putri Prodi PGMI menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena mempertemukan cara berpikir yang beragam. “Di sini kami bisa melihat bagaimana teman-teman dari prodi lain memiliki pengetahuan luas. Diskusinya hidup dan saling melengkapi,” ujarnya. Ia menambahkan, forum akan lebih maksimal bila moderator mampu mengatur jalannya diskusi agar penyampaian pendapat lebih merata.

Bagas Ubaidillaah, selaku salah satu penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa diskusi lintas prodi digagas sebagai wadah mahasiswa untuk menyampaikan gagasan secara terbuka sekaligus menyatukan perbedaan fokus keilmuan. “Diskusi lintas prodi ini sebenarnya baru berjalan sejak tahun lalu. Karena mendapat apresiasi yang baik, maka tahun ini kembali dilaksanakan,” terangnya. Ia juga mengakui kendala terbesar dalam penyelenggaraan acara ini adalah menyatukan sudut pandang dalam penentuan tema, mengingat tiap HMP memiliki fokus bidang masing-masing, seperti IQT dengan kajian Al-Qur’an, PGMI dengan pendidikan, dan PM dengan hukum Islam.

Dengan terselenggaranya kegiatan yang digagas oleh tiga HMP, STAI Al Anwar menegaskan komitmennya untuk mengembangkan tradisi akademik yang kolaboratif, kritis, dan beradab. Kolaborasi lintas prodi ini tidak hanya memperluas pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memperkuat sikap saling menghargai dalam perbedaan pandangan. Harapannya, diskusi lintas prodi dapat terus berlanjut sebagai agenda tahunan yang mempererat kekompakan antar-HMP sekaligus menjadi ciri khas akademik STAI Al Anwar di era beragama digital.





Ditulis tim jurnalistik HMP PGMI
Open Recruetmen HMP PGMI

Open Recruetmen HMP PGMI

Open Recruitment UKM: HMP PGMI Sambut Mahasiswa Baru dengan Meriah



Sarang - Suasana Kampus STAI AL-Anwar pada jumat (19/09/2025) tampak semarak ketika Dewan Mahasiswa menggelar Open Recruitment. Kegiatan ini berlangsung di lantai 2 Gedung Maimoen Zubair, dengan jadwal pukul 09.00-11.00 WIB khusus putri dan pukul 14.00-16.00 WIB untuk putra. Acara yang diselenggarakan pada awal perkuliahan ini semakin meriah berkat partisipasi mahasiswa dari semester 1 sampai semester 5.

Salah satu panitia Open Recruitmen, Abdul Fattah, menjelaskan bahwa perpisahan acara telah dilakukan sejak kamis (04/09/2025) untuk memastikan kegiatan berjalan maksimal. "Rencana awal sudah dimulai pada kamis, kemudian pada minggu dilakukan pembahasan lebih lanjut. open recruetment ini memeang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai ajang regenerasi, agar lahir kader-kader baru sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengekpresikan potesinya. harapannya, setiap mahasiswa mampu menegembangakan potensi dirinya melalui organisasi yang dipilih," terang Fatah.

Salah satu stand yang cukup mencuri perhatian adalah stand Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) PGMI. Sejak pukul 09.00 WIB, pengurus HMP PGMI putri dengan penuh semangat menyambut maba putri. Mereka menata meja stand dengan poster finalis pemenang lomba yang pernah diraih dan memamerkan video microteahing lewat layar laptop, seakan ingin menunjukkan bahwa organisasi ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah prestasi. Senyum ramah, sapaan hangat, hingga penjelasan detail mengenai program kerja membuat suasana stand terasa hidup.

Tidak hanya berhenti di pagi hari, acara berlanjut pada pukul 13.00 WIB untuk sesi maba putra. Selanjutnya pengurus HMP PGMI putra yang menjaga stand, memberikan informasi, dan mengajak mahasiswa baru untuk bergabung. Sistem pemisahan waktu ini diterapkan agar pelayanan kepada mahasiswa baru lebih fokus, nyaman, dan interaktif. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk menjaga batasan pergaulan antara putra dan putri sesuai aturan kampus. Sebagai mahasiswa sekaligus santri, kita dituntut untuk senantiasa menjunjung adab dan nilai kesopanan di setiap kegiatan.
 
Kemeriahan Open Recruitment ini semakin terasa ketika setiap UKM berusaha menampilkan daya tarik masing-masing. Ada yang memamerkan karya seni, menampilkan video dokumentasi kegiatan, hingga memberikan gimmick atau hadiah kecil bagi maba yang mampir. Suasananya begitu hangat, penuh tawa, dan antusiasme. Dalam konteks itu, HMP PGMI tampil percaya diri dengan mengedepankan identitasnya sebagai organisasi akademik sekaligus wadah pengembangan diri.

Dalam wawancara, Nur Izzati Salma selaku Wakil Ketua HMP PGMI menuturkan bahwa tujuan utama diadakannya Open Recruitment adalah memberikan wadah bagi mahasiswa baru untuk belajar berorganisasi sekaligus memperdalam program-program unggulan HMP PGMI. “Harapannya, melalui kegiatan ini lahir generasi mahasiswa yang berprestasi, aktif, dan mampu membawa nama baik prodi. Selain itu, Open Recruitment juga menjadi sarana untuk menyalakan semangat dan meramaikan HMP PGMI,” jelasnya.
 
Lebih lanjut, Izzati juga menambahkan bahwa jumlah pendaftar tidak dibatasi. “Siapa pun mahasiswa PGMI boleh bergabung, dan kami berharap teman-teman yang sudah mendaftar tetap istiqomah serta mampu mencapai tujuan bersama,” ungkapnya penuh Keseruan acara ini juga dirasakan langsung oleh Arifatul Khoiriyah, salah satu mahasiswa baru yang memutuskan untuk bergabung dengan HMP PGMI. “Saya tertarik masuk ke HMP PGMI karena sejak awal memang ingin belajar untuk menjadi guru yang baik. Saya berharap bisa melatih tingkat kepercayaan diri sekaligus menggali potensi diri sebagai bekal mengajar di masa depan. Setelah mendengar cerita dan penjelasan mengenai HMP, saya semakin yakin bahwa inilah wadah yang tepat untuk belajar lebih banyak dan berkembang,” ungkapnya dengan semangat.

Hingga acara ditutup pada pukul 11.00 WIB untuk sesi putri dan dilanjutkan sore hari untuk sesi putra, antusias mahasiswa baru tidak surut. Stand HMP PGMI tetap dipadati pengunjung, bahkan beberapa di antaranya langsung mengisi formulir pendaftaran dengan wajah penuh semangat.
 
Acara Open Recruitment tahun ini menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa di kampus bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar penting dalam membentuk karakter, kreativitas, dan jiwa kepemimpinan. Bagi HMP PGMI, kesempatan ini adalah awal perjalanan panjang bersama mahasiswa baru untuk terus melangkah, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata.
 
Dengan kegiatan Open Recruitment ini, HMP PGMI berhasil menunjukkan diri sebagai organisasi yang terbuka dan siap menampung semangat mahasiswa baru. Antusiasme mahasiswa baru yang bergabung menjadi bukti bahwa HMP PGMI tidak hanya menjadi wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk karakter, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan prestasi.

Pada akhirnya, HMP PGMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan rumah kedua tempat tumbuh bersama, berbagi pengalaman, dan mempersiapkan diri sebagai calon pendidik masa depan.




Ditulis oleh: Irma Latifatul Muazaroh, Ishom Syirfi, Mahasiswa PGMI AL-Anwar


WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF

WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF


SARANG – HMP PGMI STAI Al-Anwar sukses gelar acara wanakarya 2025 selama empat hari berturut-turut mulai, Senin (5/5/2025) hingga Kamis, (8/5/2025) di auditorium gedung MZ. Acara ini menghadirkan beragam kegiatan edukatif, inspiratif dan kreatif seperti penampilan talkshow, lomba, dan pertunjukkan seni teater dari UKM teater Saroengan dan seni lukis dari Art Panca.

Hari pertama penampilan talkshow

Hari pertama diisi dengan talkshow inspiratif bertemakan Mengabdi dengan Aksi, Berkarya dengan Hati: Guru Berkualitas Generasi Cerdas yang dinarasumberi oleh Daimul Umam S,pd dan Zakiyatun Nisa S,pd. Dalam pemaparannya, Ishom Syirfi menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan pendidikan saat ini, “Di zaman ini setidaknya guru harus bisa mengkolaborasi antara teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,”, Ujarnya.

Dalam talkshow tersebut narasumber utama, Daimul Umam S,Pd menekankan tantangan utama dalam mencetak guru berkualitas di Indonesia mencakup kesenjangan keterampilan, minimnya penguasaan metode pembelajaran modern, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan memadai, ketimpangan akses di daerah tertinggal, serta rendahnya kemampuan integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar "Guru saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari kesenjangan keterampilan, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan, hingga keterbatasan akses dan penguasaan teknologi, terutama di daerah tertinggal," jelas Daimul Umam S,Pd salah satu narasumber.

Penampilan talkshow menuai komentar positif dari peserta, yang mengatakan bahwa materi talkshow sesuai dengan kondisi zaman sekarang “Materi yang diangkat relevan karena mencerminkan dari tema wanakarya,”, Ujar Jimi Wulandari, peserta talkshow. ketua panitia menyatakan penampilan talkshow ini bukan hanya untuk menambah wawasan “Saya berharap peserta selain dapet wawasan juga mengerti akan peran guru yang selain mengajar juga membentuk karakter,” Ujar Ismail, ketua panitia.

Hari Kedua, lomba debat, LKTI dan micro teaching.

Memasuki hari kedua, mahasiswa PGMI unjuk kebolehan melalui debat antar angkatan yang termasuk dalam bagian acara wanakarya 2025. Debat ini mnegusung 13 mosi seputar pendidikan dasar, yang dibahas dengan pikiran kritis dan argumen solutif. Partisipatif mereka terlihat dari berbagai argument yang didebatkan, walaupun persiapan mereka terbilang singkat. Salah satu peserta mengaku hanya sempat mempersiapkan diri selama tiga jam “Persiapannya agak kurang, karena kami baru sempat mengerjakannya malam sebelumnya,” Ujar Fina, peserta debat.


Debat ini juga mengalami tantangan tersendiri seperti yang dialami oleh Shopiana, ia mengatakan tantangan terbesar debat adalah mengatur omongan “Gimana biar bisa ngontrol omongan, terus nyusun kalimat supaya gampang dipahami,” Jelasnya. Meski begitu debat ini menjadi ajang untuk melatih public speaking dan menambah wawasan “Kita jadi belajar nyampaikan pendapat dan tahu berbagai sudut pandang,” jelas Iffat.

Menurut Bapak Aji Pangestu, M.Pd., selaku dosen juri debat, kualitas peserta tahun ini cukup bagus walau terdapat penurunan dibanding tahun lalu dalam hal menyampaikan argumen. "Secara keseluruhan, kualitas peserta tahun ini cukup bagus. Meskipun demikian, Tahun lalu banyak peserta mengikuti pelatihan, jadi mereka lebih terlatih dalam meyakinkan juri. Sementara tahun ini, pemahaman materi tetap baik, tapi penyampaiannya masih perlu ditingkatkan" jelasnya. Dalam menilai, beliau menekankan tiga aspek penting, meliputi isi, tata cara (manner), dan penggunaan bahasa.

Di hari yang sama, lomba karya tulis ilmiah turut menghiasi wanakarya 2025, salah satu peserta LKTI mengangkat tema perjuangan guru honorer yang menerpa daerah yang tertinggal, terdepan dan terluar. Dalam karyanya, Ia menggambarkan perjuangan guru honorer untuk mengajar meski rasa sulit menerpa dan pendapatan minim, “Saya menjelaskan bagaimana perjuangan mereka mengajar walau ditengah keterbatasan, tantangan dan pendapatan yang minim, guru tetap harus professional dalam mengajar,” Ujar Naila Khoirin, peserta lomba LKTI.

Sementara itu, Umar Khan, salah satu peserta lomba microteaching, mengaku asik saat tampil membawakan materi pelajaran IPA bertema ekosistem. Ia menyebut pengalaman itu sebagai hal yang menyenangkan sekaligus menantang. “Seru, karena asik membawakan pelajaran IPA judulnya tentang ekosistem,” ucapnya. Untuk mempersiapkan diri, Umar sudah mulai belajar dua hari sebelum tampil, dengan membuat RPP, menyusun materi, serta menentukan metode pembelajaran dan strategi manajemen kelas.

Umar juga berharap pengalaman dari lomba microteaching ini bisa menjadi bekal nyata saat dirinya nanti benar-benar terjun ke dunia pendidikan. “Harapan saya bisa menguasai untuk ke depannya ketika terjun langsung saat pembelajaran,” katanya. Ia menilai bahwa lomba seperti ini bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tapi juga latihan mental untuk menjadi guru yang kreatif.

Hari ketiga, Lomba MTQ, pidacil dan pertunjukkan seni teater

Hari ketiga tidak kalah seru, wanakarya kembali diwarnai dengan lomba untuk anak kecil, seperti MTQ dan pidacil yang digelar dengan antusias, para pendamping anak-anak pun turut serta mendampingi ajang lomba tersebut.

Dalam menghadapi lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), para guru mengaku semakin semangat melatih karena peserta sudah memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. "Anak sekolah sudah terdidik, itu jadi latar belakang sehingga guru makin semangat dalam melatih dan menguatkan mental," ujar Bu Sofiatun, guru MI Nurul Huda Kragan. Menurutnya, proses latihan berjalan dengan lancar karena anak-anak sudah terbiasa mengikuti kegiatan serupa di lingkungan sekolah.

Terkait rasa gugup yang biasa dialami peserta, Bu Sofiatun menyebut bahwa siswanya justru semakin percaya diri. "Anak saya sudah terbiasa dengan kompetisi MTQ, maka buat rasa gugup sih nggak, malah menambah jiwa kompetisinya," tambahnya. Ia melihat bahwa pengalaman yang dimiliki anak-anak memberikan dampak positif dalam membentuk mental kompetitif saat lomba.

Sementara itu, dalam ajang lomba pidato anak (pidacil), persiapan peserta juga terbilang matang. Bapak Jamil, pendamping MI Manhail Futuh, mengaku terbantu karena siswanya sudah pernah tampil di beberapa kegiatan sebelumnya. "Saya merasa untung karena sebelumnya sudah pernah tampil dalam wanakarya di STAI dan sudah pernah ikut di tingkat kota, jadi untuk persiapan saya serahkan kepada guru yang melatih," ungkapnya.

Meskipun masih mungkin merasakan gugup, Bapak Jamil melihat bahwa pengalaman membawa perubahan besar pada keberanian siswa. "Mungkin masih, tetapi karena lamanya pengalaman rasa gugup pun berkurang. Yang terpenting bagi saya, ketika anak saya sudah berani untuk maju berarti dia sudah menang," tuturnya.

Setelah dua perlombaan selesai, wanakarya kembali dihiasi dengan pertunjukkan seni teater, pertunjukkan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dalam melatih jiwa seni dan menambah rasa percaya diri. Penonton teater pun menyambut pertunjukkan ini dengan sambutan yang meriah.

Baca juga: UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”

Hari keempat, penutupan wanakarya diiringi musik dan talent.

Acara puncak hari keempat ditutup dengan pertunjukkan dan pagelaran talent show dari penonton, para penampil tunjuk muka dengan berbagai penampilan. Perasaan senang begitu terasa di penutupan wanakarya 2025 ini. “saya merasa bahagia banget yak karena ikut berpartisipasi dalam penampilan acara ini terutama karena sorak dari penonton bikin makin rame,” ucap M Fadhillah, peserta talent.

Begitu juga dengan pameran seni lukis, para pengunjung merasa terpukau dengan lukisan dan pameran media pembelajaran “saya seneng banget dan wow karena lukisan seni nya bagus dan indah, juga media pembelajaran yang dibuat kaka juga bagus,” ujar Latifah salah satu pengunjung pameran.

Pertunjukan seni lukis dan media juga membuat kesan kebersamaan antara panitia HMP PGMI dan pemilik seni lukis Art Panca “Saya bisa mengambil rasa kebersamaan, perasaan kolektif dan membangun rasa satu sama lain sehingga tercipta keberasamaan antara HMP PGMI dan Art Panca,” ucap Maldini Raul, pemilik seni lukis

Tak hanya itu, penutupan wanakarya memberi kesan tersendiri bagi pengurus HMP PGMI periode sebelumnya, seperti Yunia Shofiatun Nisa, ia mengaku acara ini menarik dan bisa bernostalgia saat dirinya menjadi pengurus tahun lalu “Acaranya cukup menarik dan saya merasa senang karena bisa hadir serta bernostalgia, merasakan kembali suasana organisasi. Harapannya, tahun depan acara ini bisa lebih baik lagi dan terus ditingkatkan,” jelasnya.

Panitia mengungkapkan rasa syukur atas kesuksesan rangkaian acara. Meski menghadapi tantangan koordinasi dan teknis, mereka merasa puas karena seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta.







Reporter: Rehan, Ishom, Acica dan Fitri.
UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”

UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”


SARANG - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Saroengan sukses menggelar pertunjukan teater bertajuk Ruang Tunggu pada Rabu (7/5/2025), sekitar pukul 14.30 WIB di Auditorium MZ. Pertunjukan ini mengangkat naskah berjudul Lakon Ruang Tunggu karya Selamet Nico, dan disambut antusias oleh para penonton, terutama kalangan mahasiswa dan pecinta seni pertunjukan.

Mengusung konsep pementasan realis, lakon Ruang Tunggu menyajikan dinamika kehidupan manusia yang saling bersinggungan dalam satu ruang dan waktu. Tema yang diangkat berkisar pada keresahan, penantian, dan perjumpaan-perjumpaan yang tak terduga semuanya dibungkus dalam dialog yang reflektif dan penuh makna.

Ketua UKM teater saroengan Anwari Amin, dirinya menjelaskan persiapan acara ini sudah direncanakan sejak lama pada desember 2024 untuk menampilkan pertunjukan yang memuaskan “Persiapan mulai dari Desember, latihan dari setelah diklat SAR (diklat teater), dan latihan intensif dimulai bulan Desember,” jelas Anwari.

Rasa sedikit gelisah pun ia ungkapkan karena menurutnya pentas ini bukanlah akhir, tapi awal dari proses kreatif yang harus terus dilanjutkan “Saya berpikir ini bukan akhir, namun awal dari proses kedua pembentukan skill di bagian devisi masing-masing, seperti keaktoran, produksi, ataupun artistik,” ungkapnya dengan penuh harap.

Pementasan Ruang Tunggu bukan hanya menjadi ajang ekspresi seni, tetapi juga wadah pengembangan diri bagi para anggota UKM Teater Saroengan. Dengan semangat kolektif dan kerja sama yang kuat, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa proses panjang dan dedikasi mampu melahirkan karya teater yang bermakna dan menyentuh.


Reporter: Ishom Syirfi