Opini Diskusi Dalem Semester 5

Opini Diskusi Dalem Semester 5

Peran Guru MI dalam Menanamkan Akidah-Akhlak dan Karakter Religius Siswa di Tengah Tantangan Gadget dan Globalisasi



Dunia pendidikan kini dihadapkan tantangan besar melalui perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama dalam penanaman akidah-akhlak dan karakter religius peserta didik. Saat ini, anak-anak sekolah dasar tidak hanya berinteraksi dengan lingkungan fisik di rumah dan sekolah, tetapi juga dengan dunia maya melalui gawai dan media sosial. Akses internet yang luas membuat mereka mudah terpapar konten yang tidak sesuai usia dan nilai moral, sehingga perilaku dan pola pikir mereka mulai terpengaruh sejak dini. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di sekolah dasar daerah, seperti SDN 21 Tanjung Bonai, di mana guru menemukan siswa sulit diatur, meniru konten tidak mendidik, bahkan melakukan bullying verbal yang bersumber dari tontonan daring.

Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan penting, apakah krisis akhlak dan karakter religius peserta didik merupakan akibat dari kegagalan guru, sistem pendidikan, atau pengaruh eksternal yang tak terkendali? Dalam pandangan teori struktural fungsional Talcott Parsons, masyarakat adalah sistem sosial yang terdiri dari berbagai bagian saling bergantung dan bekerja untuk menjaga keseimbangan. Setiap unsur keluarga, sekolah, dan masyarakat, memiliki fungsi tersendiri yang mendukung tercapainya stabilitas sosial. Bila salah satu unsur tidak berfungsi, maka sistem akan terganggu.

Guru madrasah ibtidaiyah (MI) memang berperan penting sebagai figur panutan di sekolah. Melalui pembelajaran akidah-akhlak, guru mengajarkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kasih sayang kepada peserta didik. Secara konkret, peran guru MI mencakup tiga aspek utama:

1. Peran edukatif dalam menanamkan nilai akidah-akhlak melalui pembelajaran;
2. Peran keteladanan dalam menunjukkan perilaku religius sehari-hari;
3. Peran kolaboratif dalam bekerja sama dengan keluarga dan masyarakat.

Namun, peran guru tidak berdiri sendiri. Sebagaimana ditegaskan Parsons, setiap tindakan manusia diarahkan pada tujuan tertentu dan dipengaruhi oleh struktur sosial yang melingkupinya. Maka, keberhasilan pendidikan akidah-akhlak tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga pada sinergi dengan keluarga dan Masyarakat.

Keluarga, sebagai madrasah al-ula atau sekolah pertama bagi anak, menjadi fondasi utama dalam pembentukan moral. Di rumah, anak belajar kasih sayang, sopan santun, dan keimanan yang menjadi dasar perilaku di sekolah dan masyarakat. Jika lingkungan keluarga lalai, maka nilai-nilai yang ditanamkan guru di sekolah mudah luntur oleh pengaruh media dan pergaulan bebas. Adapun masyarakat berperan memperkuat nilai tersebut melalui budaya positif seperti kegiatan keagamaan, tradisi gotong royong, dan penghormatan antarindividu.

Pandangan ini selaras dengan prinsip keteladanan yang ditegaskan dalam (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21),

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”

Ayat ini menegaskan bahwa guru MI seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik, sebagaimana Rasulullah menjadi contoh terbaik bagi umatnya. Ketika guru, keluarga, dan masyarakat berperan sesuai fungsinya, maka pendidikan akidah dan akhlak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi menjadi gerakan bersama dalam membentuk karakter religius anak di era digital.

Dengan demikian, guru MI memiliki peran penting dalam menjaga dan menanamkan nilai akidah serta akhlak siswa di tengah pengaruh gadget dan globalisasi. Dalam pandangan teori struktural fungsional Talcott Parsons, guru MI dalam sistem pendidikan berfungsi sebagai pengarah dan teladan nilai akidah-akhlak, sementara keluarga berperan sebagai pendukung utama dalam pembentukan karakter di rumah, dan masyarakat sebagai penguat lingkungan sosial yang sehat. Ketiga unsur ini akan menciptakan keseimbangan pendidikan moral dan spiritual, sehingga karakter religius peserta didik dapat tumbuh kokoh di tengah arus teknologi dan globalisasi.









Ditulis oleh tim Jurnalistik HMP PGMI

Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan  Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang

Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang






HARLAH PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

KE-18

Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan

Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang

Sub Tema: Pendidikan

Transformasi besar saat ini sedang terjadi di dunia pendidikan. Hal itu dapat terjadi karena kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengalami perkembangan yang cukup pesat. Munculnya platform seperti ChatGPT, Quillbot, Grammarly, dan aplikasi AI lainnya kini telah menjadi teman belajar yang semakin populer dan dipercaya di kalangan mahasiswa. Teknologi ini tidak lagi hanya sebatas alat bantu, tetapi telah menjadi realitas sehari-hari. Bahkan telah masuk ke dalam dunia pendidikan khususnya pada ruang-ruang kelas, lembar tugas, hingga ke dalam pikiran mahasiswa.

Berdasarkan survei dalam Katadata Insight Center (2023), dalam pengerjaan tugas kuliah sekitar 68% mahasiswa di Indonesia mengaku pernah menggunakan bantuan AI, baik secara langsung maupun sebagai alat bantu belajar. Data ini bukan hanya menunjukkan betapa tingginya minat, tetapi juga memperlihatkan betapa cepatnya teknologi AI masuk dan beradaptasi dalam ruang akademik.

Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian besar dari mahasiswa STAI Al-Anwar Sarang mulai tergoda menggunakan bantuan AI dalam proses pengerjaan tugas kuliah. Fenomena tersebut berdampak pada aplikasi seperti ChatGPT, mahasiswa dapat mengakses materi dengan cepat, bahkan sekaligus memperoleh rujukan untuk menyusun makalah. Kemudahan ini memungkinkan mereka untuk menyusun karya tulis dengan mudah, memahami konsep rumit melalui penjelasan visual, serta mengakses jutaan informasi dalam waktu singkat.

Namun, dengan segala kemudahan yang ditawarkan, muncul pula kekhawatiran bahwa mahasiswa akan mengalami ketergantungan. Sehingga para mahasiswa akan kesulitan dalam menyelesaikan tugas mandiri tanpa bantuan AI. Untuk mencegah adanya ketergantungan tersebut, salah satu kebijakan yang ada di STAI Al-Anwar Sarang Rembang yaitu cek plagiarisme melalui aplikasi Turnitin sebagai langkah menjaga integritas akademik. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini akan membahas efektivitas kebijakan cek plagiarisme dalam menanggulangi ketergantungan mahasiswa terhadap AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang.

Menurut Zainuddin (2022), penggunaan aplikasi deteksi plagiarisme seperti Turnitin merupakan bagian penting dalam menanamkan nilai kejujuran akademik di perguruan tinggi. Nilai kejujuran sangatlah penting untuk membentuk karakter mahasiswa, sebab kejujuran merupakan fondasi integritas ilmiah yang menentukan kualitas sebuah perguruan tinggi. Tanpa kejujuran, karya ilmiah hanya menjadi formalitas tanpa makna, sementara dengan kejujuran, mahasiswa tidak hanya belajar menyebutkan sumber atau mengakui peran teknologi dalam penulisan, tetapi juga mengembangkan sikap bertanggung jawab dan disiplin dalam setiap proses akademiknya.

Dalam wawancara dengan Mutthi’atul Hamidah (2025), salah satu staf IT di STAI Al-Anwar, ia menjelaskan bahwa penerapan Turnitin tidak sekadar formalitas, melainkan telah menjadi bagian dari sistem evaluasi setiap tugas mahasiswa. Tidak hanya makalah, tetapi juga laporan penelitian kecil, presentasi berbasis teks (PowerPoint), serta tugas tengah semester (UTS) dan tugas akhir semester (UAS) yang berbentuk esai maupun karya tulis. Menurutnya, kebijakan ini merupakan salah satu upaya untuk mengukur tingkat kemampuan mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah. Sebagai ajang dalam menanggulangi tindak plagiarisme serta menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa untuk bisa meningkatkan kemampuan dalam parafrase. Secara teknis, pelaksanaan kebijakan cek plagiarisme dilakukan melalui beberapa tahapan. Untuk memperjelas mekanisme pelaksanaan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, berikut ditampilkan tabel ringkas yang menjelaskan tahapan prosesnya:


Di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, standar toleransi tingkat kesamaan ditetapkan sekitar 30%, meskipun dalam beberapa kasus dapat disesuaikan dengan kebijakan masing-masing dosen atau program studi. Apabila hasil cek melebihi batas toleransi, atau ditemukan satu halaman penuh yang teridentifikasi sebagai plagiat, mahasiswa diwajibkan merevisi hingga sesuai standar yang berlaku. Jika mengacu pada tolok ukur ini, kebijakan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar dapat dikatakan cukup efektif karena berhasil menumbuhkan sikap lebih hati-hati mahasiswa dalam mengutip dan melakukan parafrase.

Hal ini sejalan dengan pendapat Wahyudi (2021) yang menegaskan bahwa dalam mengutip atau menulis, mahasiswa harus tetap hati-hati. Penerapan batas toleransi dalam cek plagiarisme bukan hanya berfungsi sebagai filter, tetapi juga sebagai mekanisme pendidikan. Dengan demikian, kebijakan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar Sarang Rembang tidak hanya berfungsi sebagai pengendali, melainkan juga sebagai sarana dalam membentuk budaya akademik yang sehat.

Perkembangan kecerdasan buatan telah memengaruhi cara mahasiswa menyelesaikan tugas akademik, termasuk di STAI Al-Anwar Sarang Rembang. Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian mahasiswa mulai mengandalkan platform seperti ChatGPT, dan Grammarly sebagai alat bantu belajar maupun penyusunan makalah. Menurut penelitian Arifin (2023), kemampuan individu dalam berpikir kritis dapat menurun serta keterampilan menulis akademik akan melemah seiring dengan penggunaan teknologi yang disalahgunakan. Selain itu, akan muncul pula kecenderungan plagiat terselubung yang diciptakan mahasiswa dalam penyelesaian tugasnya.

Fenomena yang terjadi di STAI Al-Anwar tidaklah unik. Studi yang dilakukan oleh Suryadi (2022) menunjukkan bahwa dalam mendukung penyusunan karya ilmiah, sebagian besar mahasiswa di Indonesia pernah menggunakan bantuan aplikasi AI. Namun, penelitian lain oleh Putri (2023) mengungkap bahwa rasa percaya diri pada mahasiswa dalam berdiskusi dan menulis bisa mengalami penurunan akibat ketergantungan pada AI.

Fakta ini relevan dengan kondisi nyata di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, sebagian mahasiswa mulai menunjukkan kesulitan ketika diminta menyusun tulisan tanpa bantuan AI. Oleh karena itu, kehadiran kebijakan cek plagiarisme melalui Turnitin menjadi sangat penting, karena mampu menjadi benteng awal dalam pemanfaatan teknologi terhadap orisinalitas karya ilmiah yang seimbang. Belum ditemukan penelitian publik dari STAI Al-Anwar yang secara eksplisit mengkaji efektivitas Turnitin dalam menanggulangi ketergantungan AI, sehingga penelitian ini menjadi penting sebagai studi awal di institusi tersebut.

Kebijakan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar Sarang Rembang melalui penggunaan aplikasi Turnitin merupakan salah satu upaya untuk menjaga kualitas karya ilmiah mahasiswa. Evaluasi kebijakan ini penting dilakukan agar dapat diketahui sejauh mana efektivitasnya dalam mencegah praktik plagiarisme, sekaligus menilai kelemahan yang perlu diperbaiki. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anton Risparyanto (2022) menemukan bahwa terjadi peningkatan kesadaran akan plagiarisme setelah karya tulis mahasiswa dicek menggunakan Turnitin. Pemahaman dan praktik mahasiswa tentang keaslian karya meningkat secara signifikan.

Kebijakan ini memiliki kelebihan dalam menanamkan budaya akademik yang jujur dan bertanggung jawab. Menurut Siregar (2021), penggunaan aplikasi deteksi plagiarisme dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa untuk menghargai karya orang lain dan menumbuhkan sikap kritis dalam penulisan ilmiah. Namun, dalam penelitiannya Handayani (2022) mengungkapkan bahwa karena keterbatasan teknologi dan lemahnya pengawasan dari pihak dosen, kebijakan cek plagiarisme sering kali belum efektif sepenuhnya. Selain itu, faktor biaya lisensi juga menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi.

STAI Al-Anwar telah memberikan alokasi dana rutin untuk membayar lisensi tersebut sehingga setiap mahasiswa bisa mengakses dengan bebas untuk mengecek tulisannya pada aplikasi tersebut. Mutthi’atul Hamidah juga menilai sisi positif kebijakan ini lebih dominan, meskipun tetap ada kendala, seperti akses internet yang terbatas dan sempat terjadi kasus peretasan akun Turnitin STAI Al-Anwar Sarang Rembang. Namun kendala tersebut kini sudah dapat diatasi oleh pihak kampus.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa pihak yang terkait secara langsung. Para pimpinan kampus yang ikut dalam merumuskan kebijakan dan memastikan keberlanjutan program. Dosen juga berperan sebagai pengawas teknis. Mahasiswa sebagai subjek utama. Dan tim IT yang berperan dalam pengelolaan sistem, dan memastikan aplikasi berjalan dengan baik. Kolaborasi antar pihak ini sangat penting untuk memastikan kebijakan berjalan optimal.

Evaluasi menyeluruh menunjukkan bahwa meskipun kebijakan cek plagiarisme belum sempurna, keberadaannya tetaplah sangat penting dalam menjaga integritas akademik. Kebijakan ini sangatlah efektif untuk diterapkan di perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan temuan Nugraha & Suryana (2019) yang menegaskan bahwa penerapan aplikasi deteksi plagiarisme di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga berperan dalam pembentukan sikap jujur, disiplin, dan tanggung jawab mahasiswa. Dengan demikian, kebijakan ini sudah menjadi bagian dari pendidikan karakter akademik di STAI Al-Anwar Sarang Rembang.

Kebijakan cek plagiarisme melalui Turnitin di STAI Al-Anwar Sarang Rembang terbukti efektif sebagai langkah menjaga integritas akademik mahasiswa. Meskipun terdapat kendala teknis seperti jaringan internet, biaya lisensi, dan potensi manipulasi, manfaatnya tetap lebih dominan. Turnitin tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran terhadap orisinalitas karya, memperkuat budaya akademik yang jujur, serta menumbuhkan sikap kritis mahasiswa. Keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, dan tim IT, sehingga dapat menjadi sarana pendidikan karakter akademik sekaligus benteng menghadapi tantangan era digital.

Oleh: Irma Latifatul Muazaroh



Arifin, A. (2023). Etika akademik di era digital. Jakarta: Prenada Media.
Handayani, F. (2022). “Tantangan implementasi kebijakan cek plagiarisme di perguruan tinggi Indonesia”. Jurnal Manajemen Pendidikan Tinggi, 8(2).
Katadata Insight Center. (2023). Survei pemanfaatan AI di kalangan mahasiswa Indonesia. Jakarta: Katadata.
Nugraha, D., & Suryana, Y. (2019). “Penerapan aplikasi anti-plagiarisme untuk meningkatkan integritas akademik mahasiswa”. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2).
Putri, D. (2023). “Academic confidence in the age of AI: A study of Indonesian university students”. Jurnal Pendidikan Tinggi Indonesia, 9(1).
Risparyanto, A. (2022). “Turnitin sebagai alat deteksi plagiarisme”. UNILIB: Jurnal Perpustakaan, 11(2).
Siregar, H. (2021). Etika akademik dan pencegahan plagiarisme di perguruan tinggi. Bandung: Alfabeta.
Suryadi, R. (2022). “Pemanfaatan artificial intelligence dalam dunia akademik: Antara manfaat dan tantangan”. Jurnal Teknologi Pendidikan, 14(2).
Wahyudi, A. (2021). Manajemen plagiarisme di perguruan tinggi: Kebijakan dan implementasi. Yogyakarta: Deepublish.
Zainuddin. (2022). Integritas akademik di era digital. Jakarta: Prenadamedia.
Open Recruetmen HMP PGMI

Open Recruetmen HMP PGMI

Open Recruitment UKM: HMP PGMI Sambut Mahasiswa Baru dengan Meriah



Sarang - Suasana Kampus STAI AL-Anwar pada jumat (19/09/2025) tampak semarak ketika Dewan Mahasiswa menggelar Open Recruitment. Kegiatan ini berlangsung di lantai 2 Gedung Maimoen Zubair, dengan jadwal pukul 09.00-11.00 WIB khusus putri dan pukul 14.00-16.00 WIB untuk putra. Acara yang diselenggarakan pada awal perkuliahan ini semakin meriah berkat partisipasi mahasiswa dari semester 1 sampai semester 5.

Salah satu panitia Open Recruitmen, Abdul Fattah, menjelaskan bahwa perpisahan acara telah dilakukan sejak kamis (04/09/2025) untuk memastikan kegiatan berjalan maksimal. "Rencana awal sudah dimulai pada kamis, kemudian pada minggu dilakukan pembahasan lebih lanjut. open recruetment ini memeang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai ajang regenerasi, agar lahir kader-kader baru sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengekpresikan potesinya. harapannya, setiap mahasiswa mampu menegembangakan potensi dirinya melalui organisasi yang dipilih," terang Fatah.

Salah satu stand yang cukup mencuri perhatian adalah stand Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) PGMI. Sejak pukul 09.00 WIB, pengurus HMP PGMI putri dengan penuh semangat menyambut maba putri. Mereka menata meja stand dengan poster finalis pemenang lomba yang pernah diraih dan memamerkan video microteahing lewat layar laptop, seakan ingin menunjukkan bahwa organisasi ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah prestasi. Senyum ramah, sapaan hangat, hingga penjelasan detail mengenai program kerja membuat suasana stand terasa hidup.

Tidak hanya berhenti di pagi hari, acara berlanjut pada pukul 13.00 WIB untuk sesi maba putra. Selanjutnya pengurus HMP PGMI putra yang menjaga stand, memberikan informasi, dan mengajak mahasiswa baru untuk bergabung. Sistem pemisahan waktu ini diterapkan agar pelayanan kepada mahasiswa baru lebih fokus, nyaman, dan interaktif. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk menjaga batasan pergaulan antara putra dan putri sesuai aturan kampus. Sebagai mahasiswa sekaligus santri, kita dituntut untuk senantiasa menjunjung adab dan nilai kesopanan di setiap kegiatan.
 
Kemeriahan Open Recruitment ini semakin terasa ketika setiap UKM berusaha menampilkan daya tarik masing-masing. Ada yang memamerkan karya seni, menampilkan video dokumentasi kegiatan, hingga memberikan gimmick atau hadiah kecil bagi maba yang mampir. Suasananya begitu hangat, penuh tawa, dan antusiasme. Dalam konteks itu, HMP PGMI tampil percaya diri dengan mengedepankan identitasnya sebagai organisasi akademik sekaligus wadah pengembangan diri.

Dalam wawancara, Nur Izzati Salma selaku Wakil Ketua HMP PGMI menuturkan bahwa tujuan utama diadakannya Open Recruitment adalah memberikan wadah bagi mahasiswa baru untuk belajar berorganisasi sekaligus memperdalam program-program unggulan HMP PGMI. “Harapannya, melalui kegiatan ini lahir generasi mahasiswa yang berprestasi, aktif, dan mampu membawa nama baik prodi. Selain itu, Open Recruitment juga menjadi sarana untuk menyalakan semangat dan meramaikan HMP PGMI,” jelasnya.
 
Lebih lanjut, Izzati juga menambahkan bahwa jumlah pendaftar tidak dibatasi. “Siapa pun mahasiswa PGMI boleh bergabung, dan kami berharap teman-teman yang sudah mendaftar tetap istiqomah serta mampu mencapai tujuan bersama,” ungkapnya penuh Keseruan acara ini juga dirasakan langsung oleh Arifatul Khoiriyah, salah satu mahasiswa baru yang memutuskan untuk bergabung dengan HMP PGMI. “Saya tertarik masuk ke HMP PGMI karena sejak awal memang ingin belajar untuk menjadi guru yang baik. Saya berharap bisa melatih tingkat kepercayaan diri sekaligus menggali potensi diri sebagai bekal mengajar di masa depan. Setelah mendengar cerita dan penjelasan mengenai HMP, saya semakin yakin bahwa inilah wadah yang tepat untuk belajar lebih banyak dan berkembang,” ungkapnya dengan semangat.

Hingga acara ditutup pada pukul 11.00 WIB untuk sesi putri dan dilanjutkan sore hari untuk sesi putra, antusias mahasiswa baru tidak surut. Stand HMP PGMI tetap dipadati pengunjung, bahkan beberapa di antaranya langsung mengisi formulir pendaftaran dengan wajah penuh semangat.
 
Acara Open Recruitment tahun ini menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa di kampus bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar penting dalam membentuk karakter, kreativitas, dan jiwa kepemimpinan. Bagi HMP PGMI, kesempatan ini adalah awal perjalanan panjang bersama mahasiswa baru untuk terus melangkah, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata.
 
Dengan kegiatan Open Recruitment ini, HMP PGMI berhasil menunjukkan diri sebagai organisasi yang terbuka dan siap menampung semangat mahasiswa baru. Antusiasme mahasiswa baru yang bergabung menjadi bukti bahwa HMP PGMI tidak hanya menjadi wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk karakter, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan prestasi.

Pada akhirnya, HMP PGMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan rumah kedua tempat tumbuh bersama, berbagi pengalaman, dan mempersiapkan diri sebagai calon pendidik masa depan.




Ditulis oleh: Irma Latifatul Muazaroh, Ishom Syirfi, Mahasiswa PGMI AL-Anwar


Kesehatan Mental di Era Digital

Kesehatan Mental di Era Digital

KESEHATAN MENTAL DI ERA DIGITAL
Bersama Bu Nely Rahmawati Zaimah M,Pd.



Di balik gemerlap layar ponsel dan derasnya trend media sosial, krisis yang sering tak kasat mata mulai menyeruak: gangguan kesehatan mental. Khususnya bagi generasi muda, dunia digital bukan lagi sekadar ruang hiburan, tapi juga arena tekanan sosial yang intens.

Ibu Nely Rahmawati Zaimah, M.Pd., selaku dosen STAI AL-Anwar, menyebut bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang bebas dari stres atau gangguan psikis. Lebih dari itu, mental yang sehat adalah ketika seseorang mampu mengenal dirinya, mengelola emosi, dan tetap berpikir positif dalam berbagai kondisi.

“Kesehatan mental adalah di mana seseorang dapat menggali dan tahu potensinya, maka itu artinya mentalnya sehat. Terus bisa mengolah emosi dalam situasi apapun, baik dalam kondisi tenang atau tidak. Jika bisa, maka mentalnya sehat. Terus berpikir positif, contoh berhusnuzan,” tuturnya.

Sayangnya menurut beliau media digital saat ini sering kali menjadi faktor tergerusnya ketenangan dalam kesahatan mental. Informasi yang kian mengalir tanpa jeda henti, perbandingan relasi sosial yang selalu muncul dalam tiap swipe secara perlahan mengikis rasa percaya diri yang melekat pada seseorang. Hal ini lah yang menjadi pengaruh pada kesehatan mental terutama di era digital kini. “Media digital ini punya pengaruh yang besar. Yang awalnya orang itu tenang-tenang aja bisa jadi insecure, terus yang punya harapan tinggi tapi usahanya nol,” jelasnya.

Fenomena ini makin diperjelas oleh istilah-istilah yang familiar pada zaman sekarang ini dan akrab di telinga para lapisan masyarakat seperti istilah insecure, FOMO (Fear Of Missing Out), dan validasi online. Kesemua ini menjadi polemik dari krisis eksistensi generasi Z. bahkan ironisnya, bukan hanya berlaku pada kaum muda saja orang dewasa pun mulai terjebak pada validitas online untuk diakui secara digital. Hal ini menjadi bukti bahwa terdapat kesinambungan antara rasa insecure, FOMO dan validasi online. Bu Nely menjelaskan “Ada, bahkan tidak hanya generasi muda, bahkan yang tua pun juga pengin divalidasi. Seperti ketika mereka memposting sesuatu, jika ada yang memberikan like tentu mereka akan merasa senang,” ungkapnya.

Walau begitu, Bu Nely tidak menyamaratakan bentuk FOMO ke semuanya adalah negative. Ia juga menjelaskan bahwa FOMO pun terkadang bisa menjadi dorongan untuk hal positif, seperti semangat literasi atau berbagai edukasi. Dalam hal ini penting sekali kebijaksanaan untuk memilah suatu hal yang bersiat FOMO. “Terkait yang FOMO itu tergantung FOMO-nya itu ke hal negatif atau positif. Contoh yang positif: literasi, bagaimana cara menumbuhkan dan meningkatkan literasi di mahasiswa,” ujarnya.

Ia juga menambahi bahwa tidak semua hal perlu kita ekspos ke media sosial. Segala hal rutinitas boleh diumbar ke media sosial dengan memerhatikan refleksi dan kesopanan yang harus selalu dijaga. “Boleh memposting sesuatu dalam artian ya kita ngaca dulu lah, mana yang cocok untuk dipublikasikan, mana yang untuk konsumsi pribadi. Terus sopan tidak kita memposting itu,” katanya.

Baca juga: WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF

Dari perspektif akademik, kehidupan di era digital juga harus digunakan seperlunya saja, bukan hanya untuk konten tapi bagaimana juga mahasiswa dan pengguna secara umum bisa memilah konten atau informasi yang mereka konsumsi. “Ya, kita gunakan media itu sesuai kebutuhan. Ya kalau kita ngerasa gk butuh ya jangan. Kita memilih dan dapat memilah hal tersebut,” jelasnya.

Dalam ranah kampus, salah satu tekanan mental kerap beranjak dari tugas akademik yang menumpuk. Tapi menurut Bu Nely masalah utama bukan terdapat pada tugas nya saja, tetapi juga pada pola pikir mahasiswa yang dianggap kurang dalam mengatur waktu dan menikmati proses. “Kalau dikerjakannya sehari semalam, ya bisa membuat mental menjadi down. Apalagi itu SKS (sistem kebut semalam), dan itu dianggap sebagai beban pikiran tanpa kita tahu coba dan enjoy. Beda lagi kalau itu dinikmati, itu tidak akan menjadi beban,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa mahasiswa harus bisa menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan non akademik. “Harus seimbang antara non-akademik dan akademiknya. Jadi tidak bisa kita unggul di non-akademik tapi akademiknya nol,” tegasnya.

Terkait dengan siapa subjek utama yang sangat turut andil ambil peran menjaga kesehatan mental generasi muda, Bu Nely menjawab bukan pada satu pihak saja. Semua turut andil baik dari individu, keluarga, isntitusi pendidikan bahkan pemerintah. “Semua peran itu ada kontribusinya. Dari diri sendiri, bahkan yang paling atas yaitu pemerintah. Keluarga juga merupakan orang yang penting juga, terutama orang tua,” katanya.

Ia menyoroti fenomena yang sering terjadi pada generas muda, yaitu berdiam diri di kamar. Mereka tampak tenang tetapi sebenernya mereka terjebak dalam isolasi dunia maya. “Karena diamnya dia di kamar itu kayak ya main HP, kayak scroll lah. Jadi interaksi dia itu kurang, kadang diajak bicara aja kurang nyambung,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, orang tua diminta lebih tegas tanpa mengabaikan hak privasi anak, menurut Bu Nely kunci nya terletak pada komunikasi dan kepercayaan. Sebagai solusi, ia menyarankan untuk memulai dari hal sederhana seperti mengurangi scroll tanpa batas di media sosial, memperbanyak interaksi dalam dunia nyata dan tidak begitu mengikuti trend.

“Ya yang pertama: mengurangi penggunaan sosmed/media digital. Ya dalam artian dikurangilah kayak nycroll. Lebih ke interaksinya sosialnya yang ditingkatkan,” sarannya.

“Tidak perlu takut kalau nanti dibilang, ‘Kolot banget sih kamu?’ Ya nggak apa-apa kita dibilang gitu. Lagian kalau trennya kayak joget-joget, terus velocity-an, terus kayak pakaian-pakaian yang kurang pantas, ya nggak apa-apa. Orang itu juga nggak ngaruh dan enggak rugi di saya,” tambahnya.

Sebagai penutup, Bu Nely mentipkan harapan besar bagi generasi muda di zaman sekarang ini untuk kembali ke diri nya, mengenal potensi, dan tidak dikaburkan oleh dunia digital yang semu.

“Generasi muda itu minimal tahu potensi dirinya. Kalau kesehatan mentalnya terganggu, maka dia tidak bisa menggali potensi dirinya. Karena negara butuh generasi muda yang bagus, bukan hanya sekedar velocity saja,” pesannya.

“Menjaga kesehatan mental itu penting. Karena bila mental terganggu akan sulit untuk menggali potensi diri. Sayang sekali bila Gen Z cuek, tidak berkarya. Itu nanti akan merugikan diri sendiri dan sekitar, dan masa depannya dan supaya nanti kita tidak akan tergeser oleh teknologi yang berkembang pesat,” pungkasnya.


Reporter: Acica, Sari dan Nisa

Korelasi Pendidikan Dasar Dengan Sistem Pendidikan Nasional Dalam Konteks Regulasi (Analisis Sejarah dan Undang-undang Pendidikan SD Atau MI di Indonesia)

Korelasi Pendidikan Dasar Dengan Sistem Pendidikan Nasional Dalam Konteks Regulasi (Analisis Sejarah dan Undang-undang Pendidikan SD Atau MI di Indonesia)

 

Pendidikan dasar di Indonesia memiliki peran sentral dalam membentuk arah dan kualitas sistem pendidikan nasional. Perjalanan panjang pendidikan dasar dimulai sejak masa kolonial, ketika pemerintah Belanda mendirikan berbagai jenis sekolah untuk kepentingan mereka, seperti ELS (Europeesche Lagere School), HCS (Hollandsch-Chineesche School), dan HIS (Hollandsch Inlandsche School). Meskipun akses pendidikan saat itu sangat terbatas bagi pribumi, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik awal terbentuknya pendidikan dasar di Indonesia yang lebih merata.

Sementara itu, sistem pendidikan Islam yang berkembang melalui pondok pesantren juga memainkan peran penting. Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter dan perlawanan terhadap penjajahan. K.H. Ahmad Dahlan kemudian menjadi tokoh kunci dalam upaya modernisasi pendidikan Islam melalui pendirian Madrasah Ibtidaiyah dan organisasi Muhammadiyah, yang memperkuat peran pendidikan dalam masyarakat.

Setelah kemerdekaan, pendidikan dasar menjadi perhatian utama pemerintah. Pada 13 Maret 1946, nama Sekolah Rakyat secara resmi diubah menjadi Sekolah Dasar. Pemerintah mulai membangun sistem pendidikan nasional yang lebih sistematis dan inklusif. Berbagai regulasi kemudian diterbitkan untuk mengatur dan memperkuat posisi pendidikan dasar sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.

Regulasi pertama yang mengatur pendidikan dasar secara nasional adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1947, yang menetapkan bahwa semua sekolah negeri berada di bawah Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Kemudian, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 menegaskan pendidikan dasar sebagai jenjang pendidikan wajib bagi warga negara Indonesia usia 7 sampai 15 tahun, yang terdiri dari SD dan SMP. Puncaknya, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) menyempurnakan kerangka hukum pendidikan dengan menjadikan pendidikan dasar sebagai fondasi pembentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Korelasi pendidikan dasar dengan sistem pendidikan nasional sangatlah kuat. Pendidikan dasar menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter, literasi, numerasi, serta kemampuan sosial anak. Keberhasilan pada jenjang ini akan sangat memengaruhi jenjang pendidikan selanjutnya. Selain itu, pendidikan dasar juga menjadi instrumen utama dalam pemerataan akses pendidikan, sebagaimana diwujudkan dalam kebijakan wajib belajar sembilan tahun.

Pendidikan dasar juga berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan toleransi mulai ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Dengan demikian, pendidikan dasar tidak hanya menjadi tahap awal dalam pendidikan formal, tetapi juga menjadi tahap kunci dalam proses pembangunan manusia Indonesia yang utuh.

Meski demikian, berbagai tantangan masih menghambat integrasi optimal pendidikan dasar dalam sistem pendidikan nasional. Keterbatasan infrastruktur di daerah tertinggal, minimnya jumlah dan kualitas guru yang merata, serta kesenjangan mutu antar sekolah menjadi masalah yang perlu segera diatasi. Pemerintah perlu menerapkan strategi konkret, seperti peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan sertifikasi, pemerataan fasilitas belajar, serta reformasi kurikulum yang kontekstual dengan kebutuhan lokal dan perkembangan zaman.

Dengan regulasi yang tepat dan implementasi yang konsisten, pendidikan dasar akan terus menjadi tulang punggung sistem pendidikan nasional. Masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada sejauh mana pendidikan dasar mampu menjawab tantangan zaman dan membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi dunia global.

WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF

WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF


SARANG – HMP PGMI STAI Al-Anwar sukses gelar acara wanakarya 2025 selama empat hari berturut-turut mulai, Senin (5/5/2025) hingga Kamis, (8/5/2025) di auditorium gedung MZ. Acara ini menghadirkan beragam kegiatan edukatif, inspiratif dan kreatif seperti penampilan talkshow, lomba, dan pertunjukkan seni teater dari UKM teater Saroengan dan seni lukis dari Art Panca.

Hari pertama penampilan talkshow

Hari pertama diisi dengan talkshow inspiratif bertemakan Mengabdi dengan Aksi, Berkarya dengan Hati: Guru Berkualitas Generasi Cerdas yang dinarasumberi oleh Daimul Umam S,pd dan Zakiyatun Nisa S,pd. Dalam pemaparannya, Ishom Syirfi menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan pendidikan saat ini, “Di zaman ini setidaknya guru harus bisa mengkolaborasi antara teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,”, Ujarnya.

Dalam talkshow tersebut narasumber utama, Daimul Umam S,Pd menekankan tantangan utama dalam mencetak guru berkualitas di Indonesia mencakup kesenjangan keterampilan, minimnya penguasaan metode pembelajaran modern, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan memadai, ketimpangan akses di daerah tertinggal, serta rendahnya kemampuan integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar "Guru saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari kesenjangan keterampilan, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan, hingga keterbatasan akses dan penguasaan teknologi, terutama di daerah tertinggal," jelas Daimul Umam S,Pd salah satu narasumber.

Penampilan talkshow menuai komentar positif dari peserta, yang mengatakan bahwa materi talkshow sesuai dengan kondisi zaman sekarang “Materi yang diangkat relevan karena mencerminkan dari tema wanakarya,”, Ujar Jimi Wulandari, peserta talkshow. ketua panitia menyatakan penampilan talkshow ini bukan hanya untuk menambah wawasan “Saya berharap peserta selain dapet wawasan juga mengerti akan peran guru yang selain mengajar juga membentuk karakter,” Ujar Ismail, ketua panitia.

Hari Kedua, lomba debat, LKTI dan micro teaching.

Memasuki hari kedua, mahasiswa PGMI unjuk kebolehan melalui debat antar angkatan yang termasuk dalam bagian acara wanakarya 2025. Debat ini mnegusung 13 mosi seputar pendidikan dasar, yang dibahas dengan pikiran kritis dan argumen solutif. Partisipatif mereka terlihat dari berbagai argument yang didebatkan, walaupun persiapan mereka terbilang singkat. Salah satu peserta mengaku hanya sempat mempersiapkan diri selama tiga jam “Persiapannya agak kurang, karena kami baru sempat mengerjakannya malam sebelumnya,” Ujar Fina, peserta debat.


Debat ini juga mengalami tantangan tersendiri seperti yang dialami oleh Shopiana, ia mengatakan tantangan terbesar debat adalah mengatur omongan “Gimana biar bisa ngontrol omongan, terus nyusun kalimat supaya gampang dipahami,” Jelasnya. Meski begitu debat ini menjadi ajang untuk melatih public speaking dan menambah wawasan “Kita jadi belajar nyampaikan pendapat dan tahu berbagai sudut pandang,” jelas Iffat.

Menurut Bapak Aji Pangestu, M.Pd., selaku dosen juri debat, kualitas peserta tahun ini cukup bagus walau terdapat penurunan dibanding tahun lalu dalam hal menyampaikan argumen. "Secara keseluruhan, kualitas peserta tahun ini cukup bagus. Meskipun demikian, Tahun lalu banyak peserta mengikuti pelatihan, jadi mereka lebih terlatih dalam meyakinkan juri. Sementara tahun ini, pemahaman materi tetap baik, tapi penyampaiannya masih perlu ditingkatkan" jelasnya. Dalam menilai, beliau menekankan tiga aspek penting, meliputi isi, tata cara (manner), dan penggunaan bahasa.

Di hari yang sama, lomba karya tulis ilmiah turut menghiasi wanakarya 2025, salah satu peserta LKTI mengangkat tema perjuangan guru honorer yang menerpa daerah yang tertinggal, terdepan dan terluar. Dalam karyanya, Ia menggambarkan perjuangan guru honorer untuk mengajar meski rasa sulit menerpa dan pendapatan minim, “Saya menjelaskan bagaimana perjuangan mereka mengajar walau ditengah keterbatasan, tantangan dan pendapatan yang minim, guru tetap harus professional dalam mengajar,” Ujar Naila Khoirin, peserta lomba LKTI.

Sementara itu, Umar Khan, salah satu peserta lomba microteaching, mengaku asik saat tampil membawakan materi pelajaran IPA bertema ekosistem. Ia menyebut pengalaman itu sebagai hal yang menyenangkan sekaligus menantang. “Seru, karena asik membawakan pelajaran IPA judulnya tentang ekosistem,” ucapnya. Untuk mempersiapkan diri, Umar sudah mulai belajar dua hari sebelum tampil, dengan membuat RPP, menyusun materi, serta menentukan metode pembelajaran dan strategi manajemen kelas.

Umar juga berharap pengalaman dari lomba microteaching ini bisa menjadi bekal nyata saat dirinya nanti benar-benar terjun ke dunia pendidikan. “Harapan saya bisa menguasai untuk ke depannya ketika terjun langsung saat pembelajaran,” katanya. Ia menilai bahwa lomba seperti ini bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tapi juga latihan mental untuk menjadi guru yang kreatif.

Hari ketiga, Lomba MTQ, pidacil dan pertunjukkan seni teater

Hari ketiga tidak kalah seru, wanakarya kembali diwarnai dengan lomba untuk anak kecil, seperti MTQ dan pidacil yang digelar dengan antusias, para pendamping anak-anak pun turut serta mendampingi ajang lomba tersebut.

Dalam menghadapi lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), para guru mengaku semakin semangat melatih karena peserta sudah memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. "Anak sekolah sudah terdidik, itu jadi latar belakang sehingga guru makin semangat dalam melatih dan menguatkan mental," ujar Bu Sofiatun, guru MI Nurul Huda Kragan. Menurutnya, proses latihan berjalan dengan lancar karena anak-anak sudah terbiasa mengikuti kegiatan serupa di lingkungan sekolah.

Terkait rasa gugup yang biasa dialami peserta, Bu Sofiatun menyebut bahwa siswanya justru semakin percaya diri. "Anak saya sudah terbiasa dengan kompetisi MTQ, maka buat rasa gugup sih nggak, malah menambah jiwa kompetisinya," tambahnya. Ia melihat bahwa pengalaman yang dimiliki anak-anak memberikan dampak positif dalam membentuk mental kompetitif saat lomba.

Sementara itu, dalam ajang lomba pidato anak (pidacil), persiapan peserta juga terbilang matang. Bapak Jamil, pendamping MI Manhail Futuh, mengaku terbantu karena siswanya sudah pernah tampil di beberapa kegiatan sebelumnya. "Saya merasa untung karena sebelumnya sudah pernah tampil dalam wanakarya di STAI dan sudah pernah ikut di tingkat kota, jadi untuk persiapan saya serahkan kepada guru yang melatih," ungkapnya.

Meskipun masih mungkin merasakan gugup, Bapak Jamil melihat bahwa pengalaman membawa perubahan besar pada keberanian siswa. "Mungkin masih, tetapi karena lamanya pengalaman rasa gugup pun berkurang. Yang terpenting bagi saya, ketika anak saya sudah berani untuk maju berarti dia sudah menang," tuturnya.

Setelah dua perlombaan selesai, wanakarya kembali dihiasi dengan pertunjukkan seni teater, pertunjukkan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dalam melatih jiwa seni dan menambah rasa percaya diri. Penonton teater pun menyambut pertunjukkan ini dengan sambutan yang meriah.

Baca juga: UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”

Hari keempat, penutupan wanakarya diiringi musik dan talent.

Acara puncak hari keempat ditutup dengan pertunjukkan dan pagelaran talent show dari penonton, para penampil tunjuk muka dengan berbagai penampilan. Perasaan senang begitu terasa di penutupan wanakarya 2025 ini. “saya merasa bahagia banget yak karena ikut berpartisipasi dalam penampilan acara ini terutama karena sorak dari penonton bikin makin rame,” ucap M Fadhillah, peserta talent.

Begitu juga dengan pameran seni lukis, para pengunjung merasa terpukau dengan lukisan dan pameran media pembelajaran “saya seneng banget dan wow karena lukisan seni nya bagus dan indah, juga media pembelajaran yang dibuat kaka juga bagus,” ujar Latifah salah satu pengunjung pameran.

Pertunjukan seni lukis dan media juga membuat kesan kebersamaan antara panitia HMP PGMI dan pemilik seni lukis Art Panca “Saya bisa mengambil rasa kebersamaan, perasaan kolektif dan membangun rasa satu sama lain sehingga tercipta keberasamaan antara HMP PGMI dan Art Panca,” ucap Maldini Raul, pemilik seni lukis

Tak hanya itu, penutupan wanakarya memberi kesan tersendiri bagi pengurus HMP PGMI periode sebelumnya, seperti Yunia Shofiatun Nisa, ia mengaku acara ini menarik dan bisa bernostalgia saat dirinya menjadi pengurus tahun lalu “Acaranya cukup menarik dan saya merasa senang karena bisa hadir serta bernostalgia, merasakan kembali suasana organisasi. Harapannya, tahun depan acara ini bisa lebih baik lagi dan terus ditingkatkan,” jelasnya.

Panitia mengungkapkan rasa syukur atas kesuksesan rangkaian acara. Meski menghadapi tantangan koordinasi dan teknis, mereka merasa puas karena seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta.







Reporter: Rehan, Ishom, Acica dan Fitri.