Selamat Datang Di Website Resmi PGMI STAI AL-ANWAR
Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang
Open Recruetmen HMP PGMI
Open Recruitment UKM: HMP PGMI Sambut Mahasiswa Baru dengan Meriah
Sarang - Suasana Kampus STAI AL-Anwar pada jumat (19/09/2025) tampak semarak ketika Dewan Mahasiswa menggelar Open Recruitment. Kegiatan ini berlangsung di lantai 2 Gedung Maimoen Zubair, dengan jadwal pukul 09.00-11.00 WIB khusus putri dan pukul 14.00-16.00 WIB untuk putra. Acara yang diselenggarakan pada awal perkuliahan ini semakin meriah berkat partisipasi mahasiswa dari semester 1 sampai semester 5.
Salah satu panitia Open Recruitmen, Abdul Fattah, menjelaskan bahwa perpisahan acara telah dilakukan sejak kamis (04/09/2025) untuk memastikan kegiatan berjalan maksimal. "Rencana awal sudah dimulai pada kamis, kemudian pada minggu dilakukan pembahasan lebih lanjut. open recruetment ini memeang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai ajang regenerasi, agar lahir kader-kader baru sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengekpresikan potesinya. harapannya, setiap mahasiswa mampu menegembangakan potensi dirinya melalui organisasi yang dipilih," terang Fatah.
Salah satu stand yang cukup mencuri perhatian adalah stand Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) PGMI. Sejak pukul 09.00 WIB, pengurus HMP PGMI putri dengan penuh semangat menyambut maba putri. Mereka menata meja stand dengan poster finalis pemenang lomba yang pernah diraih dan memamerkan video microteahing lewat layar laptop, seakan ingin menunjukkan bahwa organisasi ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah prestasi. Senyum ramah, sapaan hangat, hingga penjelasan detail mengenai program kerja membuat suasana stand terasa hidup.
Tidak hanya berhenti di pagi hari, acara berlanjut pada pukul 13.00 WIB untuk sesi maba putra. Selanjutnya pengurus HMP PGMI putra yang menjaga stand, memberikan informasi, dan mengajak mahasiswa baru untuk bergabung. Sistem pemisahan waktu ini diterapkan agar pelayanan kepada mahasiswa baru lebih fokus, nyaman, dan interaktif. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk menjaga batasan pergaulan antara putra dan putri sesuai aturan kampus. Sebagai mahasiswa sekaligus santri, kita dituntut untuk senantiasa menjunjung adab dan nilai kesopanan di setiap kegiatan.
Kemeriahan Open Recruitment ini semakin terasa ketika setiap UKM berusaha menampilkan daya tarik masing-masing. Ada yang memamerkan karya seni, menampilkan video dokumentasi kegiatan, hingga memberikan gimmick atau hadiah kecil bagi maba yang mampir. Suasananya begitu hangat, penuh tawa, dan antusiasme. Dalam konteks itu, HMP PGMI tampil percaya diri dengan mengedepankan identitasnya sebagai organisasi akademik sekaligus wadah pengembangan diri.
Dalam wawancara, Nur Izzati Salma selaku Wakil Ketua HMP PGMI menuturkan bahwa tujuan utama diadakannya Open Recruitment adalah memberikan wadah bagi mahasiswa baru untuk belajar berorganisasi sekaligus memperdalam program-program unggulan HMP PGMI. “Harapannya, melalui kegiatan ini lahir generasi mahasiswa yang berprestasi, aktif, dan mampu membawa nama baik prodi. Selain itu, Open Recruitment juga menjadi sarana untuk menyalakan semangat dan meramaikan HMP PGMI,” jelasnya.
Lebih lanjut, Izzati juga menambahkan bahwa jumlah pendaftar tidak dibatasi. “Siapa pun mahasiswa PGMI boleh bergabung, dan kami berharap teman-teman yang sudah mendaftar tetap istiqomah serta mampu mencapai tujuan bersama,” ungkapnya penuh Keseruan acara ini juga dirasakan langsung oleh Arifatul Khoiriyah, salah satu mahasiswa baru yang memutuskan untuk bergabung dengan HMP PGMI. “Saya tertarik masuk ke HMP PGMI karena sejak awal memang ingin belajar untuk menjadi guru yang baik. Saya berharap bisa melatih tingkat kepercayaan diri sekaligus menggali potensi diri sebagai bekal mengajar di masa depan. Setelah mendengar cerita dan penjelasan mengenai HMP, saya semakin yakin bahwa inilah wadah yang tepat untuk belajar lebih banyak dan berkembang,” ungkapnya dengan semangat.
Hingga acara ditutup pada pukul 11.00 WIB untuk sesi putri dan dilanjutkan sore hari untuk sesi putra, antusias mahasiswa baru tidak surut. Stand HMP PGMI tetap dipadati pengunjung, bahkan beberapa di antaranya langsung mengisi formulir pendaftaran dengan wajah penuh semangat.
Acara Open Recruitment tahun ini menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa di kampus bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar penting dalam membentuk karakter, kreativitas, dan jiwa kepemimpinan. Bagi HMP PGMI, kesempatan ini adalah awal perjalanan panjang bersama mahasiswa baru untuk terus melangkah, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata.
Dengan kegiatan Open Recruitment ini, HMP PGMI berhasil menunjukkan diri sebagai organisasi yang terbuka dan siap menampung semangat mahasiswa baru. Antusiasme mahasiswa baru yang bergabung menjadi bukti bahwa HMP PGMI tidak hanya menjadi wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk karakter, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan prestasi.
Kesehatan Mental di Era Digital
Di balik gemerlap layar ponsel dan derasnya trend media sosial, krisis yang sering tak kasat mata mulai menyeruak: gangguan kesehatan mental. Khususnya bagi generasi muda, dunia digital bukan lagi sekadar ruang hiburan, tapi juga arena tekanan sosial yang intens.
Ibu Nely Rahmawati Zaimah, M.Pd., selaku dosen STAI AL-Anwar, menyebut bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang bebas dari stres atau gangguan psikis. Lebih dari itu, mental yang sehat adalah ketika seseorang mampu mengenal dirinya, mengelola emosi, dan tetap berpikir positif dalam berbagai kondisi.
“Kesehatan mental adalah di mana seseorang dapat menggali dan tahu potensinya, maka itu artinya mentalnya sehat. Terus bisa mengolah emosi dalam situasi apapun, baik dalam kondisi tenang atau tidak. Jika bisa, maka mentalnya sehat. Terus berpikir positif, contoh berhusnuzan,” tuturnya.
Sayangnya menurut beliau media digital saat ini sering kali menjadi faktor tergerusnya ketenangan dalam kesahatan mental. Informasi yang kian mengalir tanpa jeda henti, perbandingan relasi sosial yang selalu muncul dalam tiap swipe secara perlahan mengikis rasa percaya diri yang melekat pada seseorang. Hal ini lah yang menjadi pengaruh pada kesehatan mental terutama di era digital kini. “Media digital ini punya pengaruh yang besar. Yang awalnya orang itu tenang-tenang aja bisa jadi insecure, terus yang punya harapan tinggi tapi usahanya nol,” jelasnya.
Fenomena ini makin diperjelas oleh istilah-istilah yang familiar pada zaman sekarang ini dan akrab di telinga para lapisan masyarakat seperti istilah insecure, FOMO (Fear Of Missing Out), dan validasi online. Kesemua ini menjadi polemik dari krisis eksistensi generasi Z. bahkan ironisnya, bukan hanya berlaku pada kaum muda saja orang dewasa pun mulai terjebak pada validitas online untuk diakui secara digital. Hal ini menjadi bukti bahwa terdapat kesinambungan antara rasa insecure, FOMO dan validasi online. Bu Nely menjelaskan “Ada, bahkan tidak hanya generasi muda, bahkan yang tua pun juga pengin divalidasi. Seperti ketika mereka memposting sesuatu, jika ada yang memberikan like tentu mereka akan merasa senang,” ungkapnya.
Walau begitu, Bu Nely tidak menyamaratakan bentuk FOMO ke semuanya adalah negative. Ia juga menjelaskan bahwa FOMO pun terkadang bisa menjadi dorongan untuk hal positif, seperti semangat literasi atau berbagai edukasi. Dalam hal ini penting sekali kebijaksanaan untuk memilah suatu hal yang bersiat FOMO. “Terkait yang FOMO itu tergantung FOMO-nya itu ke hal negatif atau positif. Contoh yang positif: literasi, bagaimana cara menumbuhkan dan meningkatkan literasi di mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga menambahi bahwa tidak semua hal perlu kita ekspos ke media sosial. Segala hal rutinitas boleh diumbar ke media sosial dengan memerhatikan refleksi dan kesopanan yang harus selalu dijaga. “Boleh memposting sesuatu dalam artian ya kita ngaca dulu lah, mana yang cocok untuk dipublikasikan, mana yang untuk konsumsi pribadi. Terus sopan tidak kita memposting itu,” katanya.
Baca juga: WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF
Dari perspektif akademik, kehidupan di era digital juga harus digunakan seperlunya saja, bukan hanya untuk konten tapi bagaimana juga mahasiswa dan pengguna secara umum bisa memilah konten atau informasi yang mereka konsumsi. “Ya, kita gunakan media itu sesuai kebutuhan. Ya kalau kita ngerasa gk butuh ya jangan. Kita memilih dan dapat memilah hal tersebut,” jelasnya.
Dalam ranah kampus, salah satu tekanan mental kerap beranjak dari tugas akademik yang menumpuk. Tapi menurut Bu Nely masalah utama bukan terdapat pada tugas nya saja, tetapi juga pada pola pikir mahasiswa yang dianggap kurang dalam mengatur waktu dan menikmati proses. “Kalau dikerjakannya sehari semalam, ya bisa membuat mental menjadi down. Apalagi itu SKS (sistem kebut semalam), dan itu dianggap sebagai beban pikiran tanpa kita tahu coba dan enjoy. Beda lagi kalau itu dinikmati, itu tidak akan menjadi beban,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa mahasiswa harus bisa menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan non akademik. “Harus seimbang antara non-akademik dan akademiknya. Jadi tidak bisa kita unggul di non-akademik tapi akademiknya nol,” tegasnya.
Terkait dengan siapa subjek utama yang sangat turut andil ambil peran menjaga kesehatan mental generasi muda, Bu Nely menjawab bukan pada satu pihak saja. Semua turut andil baik dari individu, keluarga, isntitusi pendidikan bahkan pemerintah. “Semua peran itu ada kontribusinya. Dari diri sendiri, bahkan yang paling atas yaitu pemerintah. Keluarga juga merupakan orang yang penting juga, terutama orang tua,” katanya.
Ia menyoroti fenomena yang sering terjadi pada generas muda, yaitu berdiam diri di kamar. Mereka tampak tenang tetapi sebenernya mereka terjebak dalam isolasi dunia maya. “Karena diamnya dia di kamar itu kayak ya main HP, kayak scroll lah. Jadi interaksi dia itu kurang, kadang diajak bicara aja kurang nyambung,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, orang tua diminta lebih tegas tanpa mengabaikan hak privasi anak, menurut Bu Nely kunci nya terletak pada komunikasi dan kepercayaan. Sebagai solusi, ia menyarankan untuk memulai dari hal sederhana seperti mengurangi scroll tanpa batas di media sosial, memperbanyak interaksi dalam dunia nyata dan tidak begitu mengikuti trend.
“Ya yang pertama: mengurangi penggunaan sosmed/media digital. Ya dalam artian dikurangilah kayak nycroll. Lebih ke interaksinya sosialnya yang ditingkatkan,” sarannya.
“Tidak perlu takut kalau nanti dibilang, ‘Kolot banget sih kamu?’ Ya nggak apa-apa kita dibilang gitu. Lagian kalau trennya kayak joget-joget, terus velocity-an, terus kayak pakaian-pakaian yang kurang pantas, ya nggak apa-apa. Orang itu juga nggak ngaruh dan enggak rugi di saya,” tambahnya.
Sebagai penutup, Bu Nely mentipkan harapan besar bagi generasi muda di zaman sekarang ini untuk kembali ke diri nya, mengenal potensi, dan tidak dikaburkan oleh dunia digital yang semu.
“Generasi muda itu minimal tahu potensi dirinya. Kalau kesehatan mentalnya terganggu, maka dia tidak bisa menggali potensi dirinya. Karena negara butuh generasi muda yang bagus, bukan hanya sekedar velocity saja,” pesannya.
“Menjaga kesehatan mental itu penting. Karena bila mental terganggu akan sulit untuk menggali potensi diri. Sayang sekali bila Gen Z cuek, tidak berkarya. Itu nanti akan merugikan diri sendiri dan sekitar, dan masa depannya dan supaya nanti kita tidak akan tergeser oleh teknologi yang berkembang pesat,” pungkasnya.
Reporter: Acica, Sari dan Nisa
Korelasi Pendidikan Dasar Dengan Sistem Pendidikan Nasional Dalam Konteks Regulasi (Analisis Sejarah dan Undang-undang Pendidikan SD Atau MI di Indonesia)
Pendidikan
dasar di Indonesia memiliki peran sentral dalam membentuk arah dan kualitas
sistem pendidikan nasional. Perjalanan panjang pendidikan dasar dimulai sejak
masa kolonial, ketika pemerintah Belanda mendirikan berbagai jenis sekolah
untuk kepentingan mereka, seperti ELS (Europeesche Lagere School), HCS
(Hollandsch-Chineesche School), dan HIS (Hollandsch Inlandsche School).
Meskipun akses pendidikan saat itu sangat terbatas bagi pribumi, kehadiran
Sekolah Rakyat menjadi titik awal terbentuknya pendidikan dasar di Indonesia
yang lebih merata.
Sementara itu,
sistem pendidikan Islam yang berkembang melalui pondok pesantren juga memainkan
peran penting. Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga
menjadi pusat pembentukan karakter dan perlawanan terhadap penjajahan. K.H.
Ahmad Dahlan kemudian menjadi tokoh kunci dalam upaya modernisasi pendidikan
Islam melalui pendirian Madrasah Ibtidaiyah dan organisasi Muhammadiyah, yang
memperkuat peran pendidikan dalam masyarakat.
Setelah
kemerdekaan, pendidikan dasar menjadi perhatian utama pemerintah. Pada 13 Maret
1946, nama Sekolah Rakyat secara resmi diubah menjadi Sekolah Dasar. Pemerintah
mulai membangun sistem pendidikan nasional yang lebih sistematis dan inklusif.
Berbagai regulasi kemudian diterbitkan untuk mengatur dan memperkuat posisi
pendidikan dasar sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.
Regulasi pertama
yang mengatur pendidikan dasar secara nasional adalah Undang-Undang Nomor 32
Tahun 1947, yang menetapkan bahwa semua sekolah negeri berada di bawah
Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Kemudian, Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 1989 menegaskan pendidikan dasar sebagai jenjang pendidikan wajib
bagi warga negara Indonesia usia 7 sampai 15 tahun, yang terdiri dari SD dan
SMP. Puncaknya, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (SISDIKNAS) menyempurnakan kerangka hukum pendidikan dengan menjadikan
pendidikan dasar sebagai fondasi pembentukan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
Korelasi
pendidikan dasar dengan sistem pendidikan nasional sangatlah kuat. Pendidikan
dasar menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter, literasi, numerasi, serta
kemampuan sosial anak. Keberhasilan pada jenjang ini akan sangat memengaruhi
jenjang pendidikan selanjutnya. Selain itu, pendidikan dasar juga menjadi
instrumen utama dalam pemerataan akses pendidikan, sebagaimana diwujudkan dalam
kebijakan wajib belajar sembilan tahun.
Pendidikan
dasar juga berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai dasar
seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan toleransi mulai ditanamkan
sejak bangku sekolah dasar. Dengan demikian, pendidikan dasar tidak hanya
menjadi tahap awal dalam pendidikan formal, tetapi juga menjadi tahap kunci
dalam proses pembangunan manusia Indonesia yang utuh.
Meski demikian,
berbagai tantangan masih menghambat integrasi optimal pendidikan dasar dalam
sistem pendidikan nasional. Keterbatasan infrastruktur di daerah tertinggal,
minimnya jumlah dan kualitas guru yang merata, serta kesenjangan mutu antar
sekolah menjadi masalah yang perlu segera diatasi. Pemerintah perlu menerapkan
strategi konkret, seperti peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan
sertifikasi, pemerataan fasilitas belajar, serta reformasi kurikulum yang
kontekstual dengan kebutuhan lokal dan perkembangan zaman.
Dengan regulasi
yang tepat dan implementasi yang konsisten, pendidikan dasar akan terus menjadi
tulang punggung sistem pendidikan nasional. Masa depan pendidikan Indonesia
bergantung pada sejauh mana pendidikan dasar mampu menjawab tantangan zaman dan
membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi dunia
global.
WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF
Hari pertama penampilan talkshow
Hari pertama diisi dengan talkshow inspiratif bertemakan Mengabdi dengan Aksi, Berkarya dengan Hati: Guru Berkualitas Generasi Cerdas yang dinarasumberi oleh Daimul Umam S,pd dan Zakiyatun Nisa S,pd. Dalam pemaparannya, Ishom Syirfi menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan pendidikan saat ini, “Di zaman ini setidaknya guru harus bisa mengkolaborasi antara teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,”, Ujarnya.
Dalam talkshow tersebut narasumber utama, Daimul Umam S,Pd menekankan tantangan utama dalam mencetak guru berkualitas di Indonesia mencakup kesenjangan keterampilan, minimnya penguasaan metode pembelajaran modern, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan memadai, ketimpangan akses di daerah tertinggal, serta rendahnya kemampuan integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar "Guru saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari kesenjangan keterampilan, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan, hingga keterbatasan akses dan penguasaan teknologi, terutama di daerah tertinggal," jelas Daimul Umam S,Pd salah satu narasumber.
Penampilan talkshow menuai komentar positif dari peserta, yang mengatakan bahwa materi talkshow sesuai dengan kondisi zaman sekarang “Materi yang diangkat relevan karena mencerminkan dari tema wanakarya,”, Ujar Jimi Wulandari, peserta talkshow. ketua panitia menyatakan penampilan talkshow ini bukan hanya untuk menambah wawasan “Saya berharap peserta selain dapet wawasan juga mengerti akan peran guru yang selain mengajar juga membentuk karakter,” Ujar Ismail, ketua panitia.
Hari Kedua, lomba debat, LKTI dan micro teaching.
Memasuki hari kedua, mahasiswa PGMI unjuk kebolehan melalui debat antar angkatan yang termasuk dalam bagian acara wanakarya 2025. Debat ini mnegusung 13 mosi seputar pendidikan dasar, yang dibahas dengan pikiran kritis dan argumen solutif. Partisipatif mereka terlihat dari berbagai argument yang didebatkan, walaupun persiapan mereka terbilang singkat. Salah satu peserta mengaku hanya sempat mempersiapkan diri selama tiga jam “Persiapannya agak kurang, karena kami baru sempat mengerjakannya malam sebelumnya,” Ujar Fina, peserta debat.
Menurut Bapak Aji Pangestu, M.Pd., selaku dosen juri debat, kualitas peserta tahun ini cukup bagus walau terdapat penurunan dibanding tahun lalu dalam hal menyampaikan argumen. "Secara keseluruhan, kualitas peserta tahun ini cukup bagus. Meskipun demikian, Tahun lalu banyak peserta mengikuti pelatihan, jadi mereka lebih terlatih dalam meyakinkan juri. Sementara tahun ini, pemahaman materi tetap baik, tapi penyampaiannya masih perlu ditingkatkan" jelasnya. Dalam menilai, beliau menekankan tiga aspek penting, meliputi isi, tata cara (manner), dan penggunaan bahasa.
Di hari yang sama, lomba karya tulis ilmiah turut menghiasi wanakarya 2025, salah satu peserta LKTI mengangkat tema perjuangan guru honorer yang menerpa daerah yang tertinggal, terdepan dan terluar. Dalam karyanya, Ia menggambarkan perjuangan guru honorer untuk mengajar meski rasa sulit menerpa dan pendapatan minim, “Saya menjelaskan bagaimana perjuangan mereka mengajar walau ditengah keterbatasan, tantangan dan pendapatan yang minim, guru tetap harus professional dalam mengajar,” Ujar Naila Khoirin, peserta lomba LKTI.
Sementara itu, Umar Khan, salah satu peserta lomba microteaching, mengaku asik saat tampil membawakan materi pelajaran IPA bertema ekosistem. Ia menyebut pengalaman itu sebagai hal yang menyenangkan sekaligus menantang. “Seru, karena asik membawakan pelajaran IPA judulnya tentang ekosistem,” ucapnya. Untuk mempersiapkan diri, Umar sudah mulai belajar dua hari sebelum tampil, dengan membuat RPP, menyusun materi, serta menentukan metode pembelajaran dan strategi manajemen kelas.
Umar juga berharap pengalaman dari lomba microteaching ini bisa menjadi bekal nyata saat dirinya nanti benar-benar terjun ke dunia pendidikan. “Harapan saya bisa menguasai untuk ke depannya ketika terjun langsung saat pembelajaran,” katanya. Ia menilai bahwa lomba seperti ini bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tapi juga latihan mental untuk menjadi guru yang kreatif.
Dalam menghadapi lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), para guru mengaku semakin semangat melatih karena peserta sudah memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. "Anak sekolah sudah terdidik, itu jadi latar belakang sehingga guru makin semangat dalam melatih dan menguatkan mental," ujar Bu Sofiatun, guru MI Nurul Huda Kragan. Menurutnya, proses latihan berjalan dengan lancar karena anak-anak sudah terbiasa mengikuti kegiatan serupa di lingkungan sekolah.
Terkait rasa gugup yang biasa dialami peserta, Bu Sofiatun menyebut bahwa siswanya justru semakin percaya diri. "Anak saya sudah terbiasa dengan kompetisi MTQ, maka buat rasa gugup sih nggak, malah menambah jiwa kompetisinya," tambahnya. Ia melihat bahwa pengalaman yang dimiliki anak-anak memberikan dampak positif dalam membentuk mental kompetitif saat lomba.
Sementara itu, dalam ajang lomba pidato anak (pidacil), persiapan peserta juga terbilang matang. Bapak Jamil, pendamping MI Manhail Futuh, mengaku terbantu karena siswanya sudah pernah tampil di beberapa kegiatan sebelumnya. "Saya merasa untung karena sebelumnya sudah pernah tampil dalam wanakarya di STAI dan sudah pernah ikut di tingkat kota, jadi untuk persiapan saya serahkan kepada guru yang melatih," ungkapnya.
Meskipun masih mungkin merasakan gugup, Bapak Jamil melihat bahwa pengalaman membawa perubahan besar pada keberanian siswa. "Mungkin masih, tetapi karena lamanya pengalaman rasa gugup pun berkurang. Yang terpenting bagi saya, ketika anak saya sudah berani untuk maju berarti dia sudah menang," tuturnya.
Setelah dua perlombaan selesai, wanakarya kembali dihiasi dengan pertunjukkan seni teater, pertunjukkan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dalam melatih jiwa seni dan menambah rasa percaya diri. Penonton teater pun menyambut pertunjukkan ini dengan sambutan yang meriah.
Hari keempat, penutupan wanakarya diiringi musik dan talent.
Begitu juga dengan pameran seni lukis, para pengunjung merasa terpukau dengan lukisan dan pameran media pembelajaran “saya seneng banget dan wow karena lukisan seni nya bagus dan indah, juga media pembelajaran yang dibuat kaka juga bagus,” ujar Latifah salah satu pengunjung pameran.
Pertunjukan seni lukis dan media juga membuat kesan kebersamaan antara panitia HMP PGMI dan pemilik seni lukis Art Panca “Saya bisa mengambil rasa kebersamaan, perasaan kolektif dan membangun rasa satu sama lain sehingga tercipta keberasamaan antara HMP PGMI dan Art Panca,” ucap Maldini Raul, pemilik seni lukis
Tak hanya itu, penutupan wanakarya memberi kesan tersendiri bagi pengurus HMP PGMI periode sebelumnya, seperti Yunia Shofiatun Nisa, ia mengaku acara ini menarik dan bisa bernostalgia saat dirinya menjadi pengurus tahun lalu “Acaranya cukup menarik dan saya merasa senang karena bisa hadir serta bernostalgia, merasakan kembali suasana organisasi. Harapannya, tahun depan acara ini bisa lebih baik lagi dan terus ditingkatkan,” jelasnya.
Panitia mengungkapkan rasa syukur atas kesuksesan rangkaian acara. Meski menghadapi tantangan koordinasi dan teknis, mereka merasa puas karena seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta.





