Update HMP

Update HMP

 



Seminar Pendidikan HMP PGMI: Guru Pembaharu dan Kreativitas Mengajar

Sarang     Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (HMP PGMI) STAI Al-Anwar Sarang menggelar seminar pendidikan dengan tema “Menjadi Guru Pembaharu: Dari Rutinitas Menuju Revolusi Kreativitas” yang menghadirkan Ibu Siti Komariyah, S.Pd. atau akrab disapa Bu Guru Ria  sebagai narasumber. Kegiatan ini bertujuan mendorong calon pendidik agar berani keluar dari rutinitas mengajar dan menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna.

Acara berlangsung pada Sabtu siang dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Studi PGMI. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia. Dalam sambutannya, Imam selaku ketua acara menegaskan bahwa guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu menciptakan proses belajar yang hidup, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik. 

Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional sekaligus menjadi bagian dari program kerja HMP PGMI. Imam juga menambahkan bahwa tema tersebut dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi pendidikan saat ini yang menuntut guru tidak hanya bertahan pada pola mengajar lama, tetapi terus meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kreativitas dalam menghadapi perkembangan zaman.

Seminar ini mendapat respons positif dari mahasiswa PGMI. Salah satunya disampaikan oleh Arwani, mahasiswa PGMI yang mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir. Ia mengungkapkan bahwa seminar tersebut penting bagi pengembangan dirinya sebagai calon guru.
“Seminar ini sangat relevan untuk masa depan saya sebagai mahasiswa PGMI. Tema dan pembahasannya menarik, sehingga saya merasa perlu mengikuti seluruh rangkaian acara,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Bu Guru Ria membagikan pengalaman pribadinya sebagai pendidik. Ia menjelaskan bahwa kejenuhan terhadap rutinitas mengajar justru menjadi titik awal untuk berinovasi, salah satunya dengan menciptakan media pembelajaran sederhana agar suasana kelas lebih menyenangkan dan tidak monoton.

Menurutnya, guru tidak boleh berhenti belajar. Perkembangan zaman menuntut pendidik untuk mampu menyesuaikan metode dan media pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik. Ia juga menegaskan bahwa kreativitas tidak selalu identik dengan hal yang rumit atau mahal, melainkan dapat dimulai dari pemanfaatan lingkungan sekitar kelas.

Materi yang disampaikan dinilai memberikan pandangan baru bagi peserta. Salah satunya yang dirasakan oleh Arwani, yang mengaku seminar ini mengubah cara pandangnya terhadap profesi guru.
“Awalnya saya memandang guru hanya sebagai profesi. Namun dari pemaparan Bu Guru Ria, saya menyadari bahwa guru memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan bermakna, bukan sekadar menjalankan rutinitas,” tuturnya.

Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman tentang pengelolaan kelas yang efektif. Bu Guru Ria menjelaskan bahwa metode ceramah tidak selalu membosankan jika dikombinasikan dengan tanya jawab, diskusi singkat, contoh konkret, serta penggunaan media sederhana agar peserta didik tetap aktif dan fokus.

Dalam sesi wawancara, Bu Guru Ria turut menyampaikan kesan positifnya terhadap lingkungan STAI Al-Anwar Sarang. Ia menilai civitas akademika kampus tersebut ramah dan memiliki budaya sopan santun yang kuat karena berada di lingkungan pesantren.
“Saya merasa senang dan nyaman berada di STAI Al-Anwar Sarang. Lingkungan pesantrennya terasa, mahasiswanya sopan dan ramah, sehingga suasana diskusi menjadi hangat,” ujarnya saat diwawancarai.

Imam juga menyampaikan harapannya semoga seminar ini dapat memberikan dampak nyata bagi mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik. Ia menegaskan bahwa mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan pola pikir yang terbuka dan inovatif, tidak hanya menjalankan rutinitas mengajar, tetapi berani melakukan perubahan serta terus beradaptasi dengan perkembangan pendidikan di era digital.

Menutup kegiatan, Bu Guru Ria berpesan kepada para calon pendidik agar tidak mudah bosan dalam menjalani profesi guru. Ia menegaskan bahwa murid tidak bisa diubah, tetapi cara mengajar guru harus terus berkembang agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dirindukan oleh peserta didik.









Ditulis Tim Jurnalistik HMP PGMI



breaking news

breaking news





Diskusi Lintas Prodi STAI Al Anwar 2025: Menguatkan Ilmu, Adab, dan Amal di Era Digital

Sarang, 27 November 2025 — Tiga Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) STAI Al Anwar, yakni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Perbandingan Mazhab (PM), bersama-sama menjadi penyelenggara Diskusi Lintas Prodi 2025. Agenda tahunan ini mengangkat tema “Ilmu, Adab, dan Amal dalam Beragama Digital” yang dinilai relevan dengan tantangan akademik dan keagamaan di era teknologi.

Acara berlangsung di Auditorium STAI Al Anwar dengan dua sesi, yakni sesi pertama dimulai pukul 10.45–12.15 dan sesi kedua pukul 14.00–15.30. Diskusi diikuti oleh delegasi mahasiswa mulai dari semester 1, 3, dan 5 dari masing-masing prodi. Sejak awal, forum berjalan hidup dengan antusiasme peserta yang aktif menyampaikan pendapat, memberi sanggahan, dan memperkaya argumen lintas disiplin.


Salah satu peserta dari kelompok putri Prodi PGMI menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena mempertemukan cara berpikir yang beragam. “Di sini kami bisa melihat bagaimana teman-teman dari prodi lain memiliki pengetahuan luas. Diskusinya hidup dan saling melengkapi,” ujarnya. Ia menambahkan, forum akan lebih maksimal bila moderator mampu mengatur jalannya diskusi agar penyampaian pendapat lebih merata.

Bagas Ubaidillaah, selaku salah satu penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa diskusi lintas prodi digagas sebagai wadah mahasiswa untuk menyampaikan gagasan secara terbuka sekaligus menyatukan perbedaan fokus keilmuan. “Diskusi lintas prodi ini sebenarnya baru berjalan sejak tahun lalu. Karena mendapat apresiasi yang baik, maka tahun ini kembali dilaksanakan,” terangnya. Ia juga mengakui kendala terbesar dalam penyelenggaraan acara ini adalah menyatukan sudut pandang dalam penentuan tema, mengingat tiap HMP memiliki fokus bidang masing-masing, seperti IQT dengan kajian Al-Qur’an, PGMI dengan pendidikan, dan PM dengan hukum Islam.

Dengan terselenggaranya kegiatan yang digagas oleh tiga HMP, STAI Al Anwar menegaskan komitmennya untuk mengembangkan tradisi akademik yang kolaboratif, kritis, dan beradab. Kolaborasi lintas prodi ini tidak hanya memperluas pengetahuan mahasiswa, tetapi juga memperkuat sikap saling menghargai dalam perbedaan pandangan. Harapannya, diskusi lintas prodi dapat terus berlanjut sebagai agenda tahunan yang mempererat kekompakan antar-HMP sekaligus menjadi ciri khas akademik STAI Al Anwar di era beragama digital.





Ditulis tim jurnalistik HMP PGMI
opini diskusi dalem semester 5

opini diskusi dalem semester 5



Sekolah Rakyat: Sebuah Perdebatan Pendidikan dalam Ruang Imajinasi Akses dan Kesetaraan

Di Indonesia, kesetaraan pendidikan masih menjadi tantangan besar yang sulit diatasi, seperti banyak para anak dari keluarga kurang mampu menghadapi hambatan untuk mengakses sekolah formal, baik karena terkendala biaya, jarak, maupun akses pendidikan yang tidak merata dan setara, seperti halnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Untuk menjawab persoalan ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan konsep sekolah rakyat yang diperkenalkan oleh Presiden Prabowo. Ide ini bukan muncul begitu saja, tetapi lahir dari upaya untuk mencari cara baru dalam mengatasi ketimpangan pendidikan.

Sekolah rakyat hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh, bukan hanya memperbaiki masalah yang sudah ada, tetapi juga mencoba membangun sistem pendidikan alternatif yang lebih fleksibel, berkelanjutan, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan sekolah rakyat dibentuk agar menjadi lembaga pendidikan alternatif yang menawarkan kesempatan belajar bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan. 
Namun pertanyaannya, apakah sekolah rakyat benar-benar mampu membangun sistem pendidikan yang adil dan merata, atau justru hanya menjadi perbaikan sementara di tengah ketimpangan kualitas lembaga pendidikan yang masih menghadapi persoalan guru, fasilitas, dan akses?

Sekolah rakyat sejatinya menawarkan peluang nyata bagi anak-anak yang selama ini sulit mengakses sekolah formal. Melalui lembaga ini, mereka mendapatkan kesempatan belajar sekaligus ijazah yang diakui secara resmi. Sekolah rakyat dirancang untuk menghadirkan pendidikan yang lebih merata dan inklusif bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu, dengan sistem pendidikan yang dibagi menjadi tiga jenjang:
  • K-1, yaitu jenjang pendidikan awal yang berfungsi sebagai tahap fondasi bagi perkembangan kognitif, sosial, dan literasi dasar peserta didik.
  •  K-2, yaitu jenjang yang setara dengan pendidikan dasar, dengan penekanan pada penguatan kemampuan literasi, numerasi, serta keterampilan belajar fundamental.
  •  K-3, yaitu jenjang lanjutan yang mengarahkan peserta didik pada persiapan akademik maupun vokasional sesuai kebutuhan dan potensi perkembangan mereka.

Setiap jenjang dijalankan dengan sistem boarding school yang menanggung kebutuhan dasar siswa, mulai dari tempat tinggal hingga konsumsi harian. Pendidiknya direkrut dari lulusan berpengalaman dan bersertifikasi, salah satunya yaitu dari lulusan PPG. Kurikulum yang digunakan bukan sekadar disetarakan, melainkan memang mengacu pada kurikulum sekolah formal berstandar nasional. Selain itu, sekolah rakyat menambahkan fitur Learning Management System (LMS) untuk memperkuat proses pembelajaran agar lebih fleksibel, modern, dan mampu menjangkau kebutuhan belajar siswa secara lebih luas. Seluruh upaya ini dilakukan agar peserta didik tidak hanya memperoleh akses pendidikan, tetapi juga pengalaman belajar yang berkualitas.

Namun, kenyataannya akses masuk ke sekolah rakyat tetap harus melewati seleksi dengan kuota yang terbatas. Meskipun demikian, sekolah rakyat berupaya memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak dari berbagai latar belakang agar setiap siswa tetap memiliki peluang memperoleh pendidikan, meski melalui jalur yang berbeda. Situasi ini menimbulkan perdebatan mengenai sejauh mana prinsip kesetaraan benar-benar tercapai, terutama terkait siapa saja yang dapat diterima di setiap sekolah. Di sisi lain, kualitas pembelajaran dan kurikulum juga belum sepenuhnya merata di semua sekolah rakyat, sehingga berpotensi menimbulkan dualisme pendidikan, satu jalur bagi mereka yang mampu mengakses sekolah formal unggulan, dan satu jalur bagi mereka yang hanya dapat masuk ke sekolah alternatif. Tanpa upaya penyetaraan kualitas yang serius, gagasan kesetaraan pendidikan hanya akan berhenti sebagai wacana, bukan menjadi kenyataan.

Dalam kerangka teori Paulo Freire (1970), menegaskan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan dan memanusiakan, bukan menciptakan bentuk baru pemisahan berdasarkan kelas. Jika sekolah rakyat dipersepsikan sebagai “sekolah untuk orang miskin”, maka risiko segregasi sosial tetap membayangi. Namun, apabila sekolah rakyat mampu menjadi ruang pemberdayaan yang memberi kesempatan hidup layak tanpa stigma, maka perannya selaras dengan gagasan pendidikan pembebasan Freire. Pendidikan harus mendorong kesadaran kritis, membantu siswa memahami realitas sosialnya, mengembangkan potensi diri, dan terlibat aktif dalam perubahan lingkungan. Dengan demikian, sekolah rakyat tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga wahana transformasi sosial yang benar-benar memberdayakan anak melalui pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketimpangan pendidikan memang tidak hanya soal jumlah sekolah, tetapi mutu dan distribusi layanan. Dalam penelitian Sofwan & Yanuarti (2021) menemukan bahwa pemerataan guru dan fasilitas masih menjadi persoalan utama di wilayah-wilayah miskin. Temuan serupa muncul dalam kajian Nurkholis (2013) bahwa akses pendidikan dasar bagi keluarga miskin sering terhambat oleh faktor biaya tidak langsung seperti transportasi dan kebutuhan hidup lainnya. Artinya, meskipun sekolah formal tersedia, mereka tetap tidak terjangkau oleh kelompok yang lemah.

Di titik inilah sekolah rakyat mengambil peran penting dalam menutup kesenjangan yang tidak mampu dijangkau sekolah formal. Seperti memberikan makan, tempat tinggal, serta pendampingan bagi anak yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar pun kesulitan. Kehadirannya menjadi solusi konkret bagi kelompok paling terpinggirkan, sekaligus berpotensi menurunkan angka kemiskinan karena pendidikan berkualitas yang didukung pemenuhan kebutuhan dasar memungkinkan mobilitas sosial yang lebih tinggi. 

Namun demikian, sekolah rakyat sebaiknya tidak menjadi satu-satunya fokus dalam upaya memperluas akses pendidikan. Program ini perlu didukung, tetapi perbaikan sekolah formal lainnya juga harus tetap menjadi prioritas utama, melalui peningkatan kualitas guru, pemerataan fasilitas, dan integrasi antar jenis lembaga pendidikan, agar sistem pendidikan secara keseluruhan menjadi lebih adil dan merata. Pendidikan adalah soal akses, dan akses yang terbuka harus dimaksimalkan secara menyeluruh agar ketimpangan tidak terus berulang.

Dengan demikian, sekolah rakyat dapat dipandang sebagai sebuah solusi awal yang signifikan dalam mengurangi tingkat kemiskinan pendidikan di Indonesia. Sekolah rakyat mampu membuka jalan bagi keadilan pendidikan, sekaligus mengingatkan bahwa negara masih memiliki tugas besar dalam membangun sistem yang benar-benar setara. 

Sekolah rakyat hanya akan benar-benar menjadi solusi bila dikelola dengan sungguh-sungguh dan berjalan seiring dengan perbaikan sekolah formal di seluruh daerah. Jika tidak, upaya baik ini bisa berubah menjadi ilusi yang tidak menyentuh akar ketimpangan. Pendidikan adalah hak, dan membuka akses seluas-luasnya adalah tanggung jawab bersama. Sekolah rakyat telah mengambil peran penting, tetapi sistem pendidikan nasional tetap bertanggung jawab untuk memastikan keadilan pendidikan benar-benar dirasakan oleh semua anak Indonesia.




Ditulis Tim Jurnalistik HMP PGMI




Opini Diskusi Dalem Semester 3

Opini Diskusi Dalem Semester 3





Ketika Anak Naik Kelas tapi Tak Mengerti Isi Bacaan: Alarm Bahaya Literasi Dasar


Pernahkah kamu menemukan anak yang sudah rajin bersekolah, tapi masih kesulitan memahami isi buku pelajaran? Bahkan ada yang belum lancar membaca, tapi tetap naik kelas. Fenomena ini bukan sekadar masalah akademik, melainkan tanda serius bahwa literasi dasar kita sedang bermasalah.

Apa Itu literasi dan kenapa Penting? Literasi bukan cuma bisa membaca huruf atau kata. Literasi berarti memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dari teks secara kritis. Di SD/MI, kemampuan ini jadi fondasi utama untuk semua pelajaran lain. Anak yang tidak paham bacaan akan kesulitan memahami pelajaran, membangun logika, bahkan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Banyak faktor yang membuat anak naik kelas tanpa benar-benar paham bacaan. Di kota, akses sudah bukan masalah buku, internet, dan gadget melimpah. Tapi anak-anak lebih sering scroll media sosial daripada membaca teks yang menuntut fokus. Sementara di desa, tantangannya lebih ke buku yang sulit didapat, pelatihan guru terbatas, dan budaya membaca di rumah yang belum terbentuk.

Masalah ini juga berkaitan dengan kebijakan pendidikan yang belum konsisten. Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebenarnya sudah ada, namun pelaksanaannya di lapangan masih lemah. Data PISA 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia hanya 359 poin, terendah sejak tahun 2000 dan jauh di bawah rata-rata negara lain. Artinya, krisis literasi ini nyata terjadi, baik di kota besar maupun pelosok.

Lalu siapa yang bertanggung jawab? Krisis ini bukan tanggung jawab satu pihak saja. Pemerintah harus memastikan kurikulum dan pelatihan guru berjalan efektif. Guru perlu menciptakan pembelajaran yang membuat anak benar-benar paham, bukan sekadar hafal. Orang tua berperan menumbuhkan budaya membaca di rumah.
Jika ketiganya tidak sejalan, maka amanat UUD 1945 tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” hanya akan jadi slogan.

Untuk itu, sudah saatnya semua pihak bergerak bersama mencari solusi nyata. Solusi tak selalu rumit. Sekolah bisa mulai dengan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai. Guru diberi ruang untuk berinovasi dalam mengajar. Pemerintah memperluas distribusi buku dan pelatihan berbasis literasi. Orang tua bisa membaca bersama anak setiap hari. Hal-hal kecil seperti ini, jika dilakukan terus-menerus, bisa tumbuh menjadi perubahan besar bagi budaya literasi bangsa. 

Sebab, membangun literasi bukan kerja sehari, melainkan kebiasaan yang tumbuh bersama waktu dan keteladanan.
Jika kita terus membiarkan anak naik kelas tanpa memahami bacaan, artinya kita sedang meluluskan generasi yang cerdas di kertas, tapi kosong di makna.



Ditulis oleh tim Jurnalistik HMP PGMI
Opini Diskusi Dalem Semester 5

Opini Diskusi Dalem Semester 5

Peran Guru MI dalam Menanamkan Akidah-Akhlak dan Karakter Religius Siswa di Tengah Tantangan Gadget dan Globalisasi



Dunia pendidikan kini dihadapkan tantangan besar melalui perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, terutama dalam penanaman akidah-akhlak dan karakter religius peserta didik. Saat ini, anak-anak sekolah dasar tidak hanya berinteraksi dengan lingkungan fisik di rumah dan sekolah, tetapi juga dengan dunia maya melalui gawai dan media sosial. Akses internet yang luas membuat mereka mudah terpapar konten yang tidak sesuai usia dan nilai moral, sehingga perilaku dan pola pikir mereka mulai terpengaruh sejak dini. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di sekolah dasar daerah, seperti SDN 21 Tanjung Bonai, di mana guru menemukan siswa sulit diatur, meniru konten tidak mendidik, bahkan melakukan bullying verbal yang bersumber dari tontonan daring.

Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan penting, apakah krisis akhlak dan karakter religius peserta didik merupakan akibat dari kegagalan guru, sistem pendidikan, atau pengaruh eksternal yang tak terkendali? Dalam pandangan teori struktural fungsional Talcott Parsons, masyarakat adalah sistem sosial yang terdiri dari berbagai bagian saling bergantung dan bekerja untuk menjaga keseimbangan. Setiap unsur keluarga, sekolah, dan masyarakat, memiliki fungsi tersendiri yang mendukung tercapainya stabilitas sosial. Bila salah satu unsur tidak berfungsi, maka sistem akan terganggu.

Guru madrasah ibtidaiyah (MI) memang berperan penting sebagai figur panutan di sekolah. Melalui pembelajaran akidah-akhlak, guru mengajarkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kasih sayang kepada peserta didik. Secara konkret, peran guru MI mencakup tiga aspek utama:

1. Peran edukatif dalam menanamkan nilai akidah-akhlak melalui pembelajaran;
2. Peran keteladanan dalam menunjukkan perilaku religius sehari-hari;
3. Peran kolaboratif dalam bekerja sama dengan keluarga dan masyarakat.

Namun, peran guru tidak berdiri sendiri. Sebagaimana ditegaskan Parsons, setiap tindakan manusia diarahkan pada tujuan tertentu dan dipengaruhi oleh struktur sosial yang melingkupinya. Maka, keberhasilan pendidikan akidah-akhlak tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga pada sinergi dengan keluarga dan Masyarakat.

Keluarga, sebagai madrasah al-ula atau sekolah pertama bagi anak, menjadi fondasi utama dalam pembentukan moral. Di rumah, anak belajar kasih sayang, sopan santun, dan keimanan yang menjadi dasar perilaku di sekolah dan masyarakat. Jika lingkungan keluarga lalai, maka nilai-nilai yang ditanamkan guru di sekolah mudah luntur oleh pengaruh media dan pergaulan bebas. Adapun masyarakat berperan memperkuat nilai tersebut melalui budaya positif seperti kegiatan keagamaan, tradisi gotong royong, dan penghormatan antarindividu.

Pandangan ini selaras dengan prinsip keteladanan yang ditegaskan dalam (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21),

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”

Ayat ini menegaskan bahwa guru MI seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik, sebagaimana Rasulullah menjadi contoh terbaik bagi umatnya. Ketika guru, keluarga, dan masyarakat berperan sesuai fungsinya, maka pendidikan akidah dan akhlak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi menjadi gerakan bersama dalam membentuk karakter religius anak di era digital.

Dengan demikian, guru MI memiliki peran penting dalam menjaga dan menanamkan nilai akidah serta akhlak siswa di tengah pengaruh gadget dan globalisasi. Dalam pandangan teori struktural fungsional Talcott Parsons, guru MI dalam sistem pendidikan berfungsi sebagai pengarah dan teladan nilai akidah-akhlak, sementara keluarga berperan sebagai pendukung utama dalam pembentukan karakter di rumah, dan masyarakat sebagai penguat lingkungan sosial yang sehat. Ketiga unsur ini akan menciptakan keseimbangan pendidikan moral dan spiritual, sehingga karakter religius peserta didik dapat tumbuh kokoh di tengah arus teknologi dan globalisasi.









Ditulis oleh tim Jurnalistik HMP PGMI

Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan  Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang

Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang






HARLAH PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

KE-18

Efektivitas Kebijakan Cek Plagiarisme dalam Penanggulangan

Ketergantungan AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang

Sub Tema: Pendidikan

Transformasi besar saat ini sedang terjadi di dunia pendidikan. Hal itu dapat terjadi karena kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengalami perkembangan yang cukup pesat. Munculnya platform seperti ChatGPT, Quillbot, Grammarly, dan aplikasi AI lainnya kini telah menjadi teman belajar yang semakin populer dan dipercaya di kalangan mahasiswa. Teknologi ini tidak lagi hanya sebatas alat bantu, tetapi telah menjadi realitas sehari-hari. Bahkan telah masuk ke dalam dunia pendidikan khususnya pada ruang-ruang kelas, lembar tugas, hingga ke dalam pikiran mahasiswa.

Berdasarkan survei dalam Katadata Insight Center (2023), dalam pengerjaan tugas kuliah sekitar 68% mahasiswa di Indonesia mengaku pernah menggunakan bantuan AI, baik secara langsung maupun sebagai alat bantu belajar. Data ini bukan hanya menunjukkan betapa tingginya minat, tetapi juga memperlihatkan betapa cepatnya teknologi AI masuk dan beradaptasi dalam ruang akademik.

Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian besar dari mahasiswa STAI Al-Anwar Sarang mulai tergoda menggunakan bantuan AI dalam proses pengerjaan tugas kuliah. Fenomena tersebut berdampak pada aplikasi seperti ChatGPT, mahasiswa dapat mengakses materi dengan cepat, bahkan sekaligus memperoleh rujukan untuk menyusun makalah. Kemudahan ini memungkinkan mereka untuk menyusun karya tulis dengan mudah, memahami konsep rumit melalui penjelasan visual, serta mengakses jutaan informasi dalam waktu singkat.

Namun, dengan segala kemudahan yang ditawarkan, muncul pula kekhawatiran bahwa mahasiswa akan mengalami ketergantungan. Sehingga para mahasiswa akan kesulitan dalam menyelesaikan tugas mandiri tanpa bantuan AI. Untuk mencegah adanya ketergantungan tersebut, salah satu kebijakan yang ada di STAI Al-Anwar Sarang Rembang yaitu cek plagiarisme melalui aplikasi Turnitin sebagai langkah menjaga integritas akademik. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini akan membahas efektivitas kebijakan cek plagiarisme dalam menanggulangi ketergantungan mahasiswa terhadap AI di STAI Al-Anwar Sarang Rembang.

Menurut Zainuddin (2022), penggunaan aplikasi deteksi plagiarisme seperti Turnitin merupakan bagian penting dalam menanamkan nilai kejujuran akademik di perguruan tinggi. Nilai kejujuran sangatlah penting untuk membentuk karakter mahasiswa, sebab kejujuran merupakan fondasi integritas ilmiah yang menentukan kualitas sebuah perguruan tinggi. Tanpa kejujuran, karya ilmiah hanya menjadi formalitas tanpa makna, sementara dengan kejujuran, mahasiswa tidak hanya belajar menyebutkan sumber atau mengakui peran teknologi dalam penulisan, tetapi juga mengembangkan sikap bertanggung jawab dan disiplin dalam setiap proses akademiknya.

Dalam wawancara dengan Mutthi’atul Hamidah (2025), salah satu staf IT di STAI Al-Anwar, ia menjelaskan bahwa penerapan Turnitin tidak sekadar formalitas, melainkan telah menjadi bagian dari sistem evaluasi setiap tugas mahasiswa. Tidak hanya makalah, tetapi juga laporan penelitian kecil, presentasi berbasis teks (PowerPoint), serta tugas tengah semester (UTS) dan tugas akhir semester (UAS) yang berbentuk esai maupun karya tulis. Menurutnya, kebijakan ini merupakan salah satu upaya untuk mengukur tingkat kemampuan mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah. Sebagai ajang dalam menanggulangi tindak plagiarisme serta menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa untuk bisa meningkatkan kemampuan dalam parafrase. Secara teknis, pelaksanaan kebijakan cek plagiarisme dilakukan melalui beberapa tahapan. Untuk memperjelas mekanisme pelaksanaan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, berikut ditampilkan tabel ringkas yang menjelaskan tahapan prosesnya:


Di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, standar toleransi tingkat kesamaan ditetapkan sekitar 30%, meskipun dalam beberapa kasus dapat disesuaikan dengan kebijakan masing-masing dosen atau program studi. Apabila hasil cek melebihi batas toleransi, atau ditemukan satu halaman penuh yang teridentifikasi sebagai plagiat, mahasiswa diwajibkan merevisi hingga sesuai standar yang berlaku. Jika mengacu pada tolok ukur ini, kebijakan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar dapat dikatakan cukup efektif karena berhasil menumbuhkan sikap lebih hati-hati mahasiswa dalam mengutip dan melakukan parafrase.

Hal ini sejalan dengan pendapat Wahyudi (2021) yang menegaskan bahwa dalam mengutip atau menulis, mahasiswa harus tetap hati-hati. Penerapan batas toleransi dalam cek plagiarisme bukan hanya berfungsi sebagai filter, tetapi juga sebagai mekanisme pendidikan. Dengan demikian, kebijakan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar Sarang Rembang tidak hanya berfungsi sebagai pengendali, melainkan juga sebagai sarana dalam membentuk budaya akademik yang sehat.

Perkembangan kecerdasan buatan telah memengaruhi cara mahasiswa menyelesaikan tugas akademik, termasuk di STAI Al-Anwar Sarang Rembang. Berdasarkan pengamatan penulis, sebagian mahasiswa mulai mengandalkan platform seperti ChatGPT, dan Grammarly sebagai alat bantu belajar maupun penyusunan makalah. Menurut penelitian Arifin (2023), kemampuan individu dalam berpikir kritis dapat menurun serta keterampilan menulis akademik akan melemah seiring dengan penggunaan teknologi yang disalahgunakan. Selain itu, akan muncul pula kecenderungan plagiat terselubung yang diciptakan mahasiswa dalam penyelesaian tugasnya.

Fenomena yang terjadi di STAI Al-Anwar tidaklah unik. Studi yang dilakukan oleh Suryadi (2022) menunjukkan bahwa dalam mendukung penyusunan karya ilmiah, sebagian besar mahasiswa di Indonesia pernah menggunakan bantuan aplikasi AI. Namun, penelitian lain oleh Putri (2023) mengungkap bahwa rasa percaya diri pada mahasiswa dalam berdiskusi dan menulis bisa mengalami penurunan akibat ketergantungan pada AI.

Fakta ini relevan dengan kondisi nyata di STAI Al-Anwar Sarang Rembang, sebagian mahasiswa mulai menunjukkan kesulitan ketika diminta menyusun tulisan tanpa bantuan AI. Oleh karena itu, kehadiran kebijakan cek plagiarisme melalui Turnitin menjadi sangat penting, karena mampu menjadi benteng awal dalam pemanfaatan teknologi terhadap orisinalitas karya ilmiah yang seimbang. Belum ditemukan penelitian publik dari STAI Al-Anwar yang secara eksplisit mengkaji efektivitas Turnitin dalam menanggulangi ketergantungan AI, sehingga penelitian ini menjadi penting sebagai studi awal di institusi tersebut.

Kebijakan cek plagiarisme di STAI Al-Anwar Sarang Rembang melalui penggunaan aplikasi Turnitin merupakan salah satu upaya untuk menjaga kualitas karya ilmiah mahasiswa. Evaluasi kebijakan ini penting dilakukan agar dapat diketahui sejauh mana efektivitasnya dalam mencegah praktik plagiarisme, sekaligus menilai kelemahan yang perlu diperbaiki. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anton Risparyanto (2022) menemukan bahwa terjadi peningkatan kesadaran akan plagiarisme setelah karya tulis mahasiswa dicek menggunakan Turnitin. Pemahaman dan praktik mahasiswa tentang keaslian karya meningkat secara signifikan.

Kebijakan ini memiliki kelebihan dalam menanamkan budaya akademik yang jujur dan bertanggung jawab. Menurut Siregar (2021), penggunaan aplikasi deteksi plagiarisme dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa untuk menghargai karya orang lain dan menumbuhkan sikap kritis dalam penulisan ilmiah. Namun, dalam penelitiannya Handayani (2022) mengungkapkan bahwa karena keterbatasan teknologi dan lemahnya pengawasan dari pihak dosen, kebijakan cek plagiarisme sering kali belum efektif sepenuhnya. Selain itu, faktor biaya lisensi juga menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi.

STAI Al-Anwar telah memberikan alokasi dana rutin untuk membayar lisensi tersebut sehingga setiap mahasiswa bisa mengakses dengan bebas untuk mengecek tulisannya pada aplikasi tersebut. Mutthi’atul Hamidah juga menilai sisi positif kebijakan ini lebih dominan, meskipun tetap ada kendala, seperti akses internet yang terbatas dan sempat terjadi kasus peretasan akun Turnitin STAI Al-Anwar Sarang Rembang. Namun kendala tersebut kini sudah dapat diatasi oleh pihak kampus.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa pihak yang terkait secara langsung. Para pimpinan kampus yang ikut dalam merumuskan kebijakan dan memastikan keberlanjutan program. Dosen juga berperan sebagai pengawas teknis. Mahasiswa sebagai subjek utama. Dan tim IT yang berperan dalam pengelolaan sistem, dan memastikan aplikasi berjalan dengan baik. Kolaborasi antar pihak ini sangat penting untuk memastikan kebijakan berjalan optimal.

Evaluasi menyeluruh menunjukkan bahwa meskipun kebijakan cek plagiarisme belum sempurna, keberadaannya tetaplah sangat penting dalam menjaga integritas akademik. Kebijakan ini sangatlah efektif untuk diterapkan di perguruan tinggi. Hal ini sejalan dengan temuan Nugraha & Suryana (2019) yang menegaskan bahwa penerapan aplikasi deteksi plagiarisme di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga berperan dalam pembentukan sikap jujur, disiplin, dan tanggung jawab mahasiswa. Dengan demikian, kebijakan ini sudah menjadi bagian dari pendidikan karakter akademik di STAI Al-Anwar Sarang Rembang.

Kebijakan cek plagiarisme melalui Turnitin di STAI Al-Anwar Sarang Rembang terbukti efektif sebagai langkah menjaga integritas akademik mahasiswa. Meskipun terdapat kendala teknis seperti jaringan internet, biaya lisensi, dan potensi manipulasi, manfaatnya tetap lebih dominan. Turnitin tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran terhadap orisinalitas karya, memperkuat budaya akademik yang jujur, serta menumbuhkan sikap kritis mahasiswa. Keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi pimpinan kampus, dosen, mahasiswa, dan tim IT, sehingga dapat menjadi sarana pendidikan karakter akademik sekaligus benteng menghadapi tantangan era digital.

Oleh: Irma Latifatul Muazaroh



Arifin, A. (2023). Etika akademik di era digital. Jakarta: Prenada Media.
Handayani, F. (2022). “Tantangan implementasi kebijakan cek plagiarisme di perguruan tinggi Indonesia”. Jurnal Manajemen Pendidikan Tinggi, 8(2).
Katadata Insight Center. (2023). Survei pemanfaatan AI di kalangan mahasiswa Indonesia. Jakarta: Katadata.
Nugraha, D., & Suryana, Y. (2019). “Penerapan aplikasi anti-plagiarisme untuk meningkatkan integritas akademik mahasiswa”. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(2).
Putri, D. (2023). “Academic confidence in the age of AI: A study of Indonesian university students”. Jurnal Pendidikan Tinggi Indonesia, 9(1).
Risparyanto, A. (2022). “Turnitin sebagai alat deteksi plagiarisme”. UNILIB: Jurnal Perpustakaan, 11(2).
Siregar, H. (2021). Etika akademik dan pencegahan plagiarisme di perguruan tinggi. Bandung: Alfabeta.
Suryadi, R. (2022). “Pemanfaatan artificial intelligence dalam dunia akademik: Antara manfaat dan tantangan”. Jurnal Teknologi Pendidikan, 14(2).
Wahyudi, A. (2021). Manajemen plagiarisme di perguruan tinggi: Kebijakan dan implementasi. Yogyakarta: Deepublish.
Zainuddin. (2022). Integritas akademik di era digital. Jakarta: Prenadamedia.
Open Recruetmen HMP PGMI

Open Recruetmen HMP PGMI

Open Recruitment UKM: HMP PGMI Sambut Mahasiswa Baru dengan Meriah



Sarang - Suasana Kampus STAI AL-Anwar pada jumat (19/09/2025) tampak semarak ketika Dewan Mahasiswa menggelar Open Recruitment. Kegiatan ini berlangsung di lantai 2 Gedung Maimoen Zubair, dengan jadwal pukul 09.00-11.00 WIB khusus putri dan pukul 14.00-16.00 WIB untuk putra. Acara yang diselenggarakan pada awal perkuliahan ini semakin meriah berkat partisipasi mahasiswa dari semester 1 sampai semester 5.

Salah satu panitia Open Recruitmen, Abdul Fattah, menjelaskan bahwa perpisahan acara telah dilakukan sejak kamis (04/09/2025) untuk memastikan kegiatan berjalan maksimal. "Rencana awal sudah dimulai pada kamis, kemudian pada minggu dilakukan pembahasan lebih lanjut. open recruetment ini memeang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai ajang regenerasi, agar lahir kader-kader baru sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa dalam mengekpresikan potesinya. harapannya, setiap mahasiswa mampu menegembangakan potensi dirinya melalui organisasi yang dipilih," terang Fatah.

Salah satu stand yang cukup mencuri perhatian adalah stand Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) PGMI. Sejak pukul 09.00 WIB, pengurus HMP PGMI putri dengan penuh semangat menyambut maba putri. Mereka menata meja stand dengan poster finalis pemenang lomba yang pernah diraih dan memamerkan video microteahing lewat layar laptop, seakan ingin menunjukkan bahwa organisasi ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga wadah prestasi. Senyum ramah, sapaan hangat, hingga penjelasan detail mengenai program kerja membuat suasana stand terasa hidup.

Tidak hanya berhenti di pagi hari, acara berlanjut pada pukul 13.00 WIB untuk sesi maba putra. Selanjutnya pengurus HMP PGMI putra yang menjaga stand, memberikan informasi, dan mengajak mahasiswa baru untuk bergabung. Sistem pemisahan waktu ini diterapkan agar pelayanan kepada mahasiswa baru lebih fokus, nyaman, dan interaktif. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk menjaga batasan pergaulan antara putra dan putri sesuai aturan kampus. Sebagai mahasiswa sekaligus santri, kita dituntut untuk senantiasa menjunjung adab dan nilai kesopanan di setiap kegiatan.
 
Kemeriahan Open Recruitment ini semakin terasa ketika setiap UKM berusaha menampilkan daya tarik masing-masing. Ada yang memamerkan karya seni, menampilkan video dokumentasi kegiatan, hingga memberikan gimmick atau hadiah kecil bagi maba yang mampir. Suasananya begitu hangat, penuh tawa, dan antusiasme. Dalam konteks itu, HMP PGMI tampil percaya diri dengan mengedepankan identitasnya sebagai organisasi akademik sekaligus wadah pengembangan diri.

Dalam wawancara, Nur Izzati Salma selaku Wakil Ketua HMP PGMI menuturkan bahwa tujuan utama diadakannya Open Recruitment adalah memberikan wadah bagi mahasiswa baru untuk belajar berorganisasi sekaligus memperdalam program-program unggulan HMP PGMI. “Harapannya, melalui kegiatan ini lahir generasi mahasiswa yang berprestasi, aktif, dan mampu membawa nama baik prodi. Selain itu, Open Recruitment juga menjadi sarana untuk menyalakan semangat dan meramaikan HMP PGMI,” jelasnya.
 
Lebih lanjut, Izzati juga menambahkan bahwa jumlah pendaftar tidak dibatasi. “Siapa pun mahasiswa PGMI boleh bergabung, dan kami berharap teman-teman yang sudah mendaftar tetap istiqomah serta mampu mencapai tujuan bersama,” ungkapnya penuh Keseruan acara ini juga dirasakan langsung oleh Arifatul Khoiriyah, salah satu mahasiswa baru yang memutuskan untuk bergabung dengan HMP PGMI. “Saya tertarik masuk ke HMP PGMI karena sejak awal memang ingin belajar untuk menjadi guru yang baik. Saya berharap bisa melatih tingkat kepercayaan diri sekaligus menggali potensi diri sebagai bekal mengajar di masa depan. Setelah mendengar cerita dan penjelasan mengenai HMP, saya semakin yakin bahwa inilah wadah yang tepat untuk belajar lebih banyak dan berkembang,” ungkapnya dengan semangat.

Hingga acara ditutup pada pukul 11.00 WIB untuk sesi putri dan dilanjutkan sore hari untuk sesi putra, antusias mahasiswa baru tidak surut. Stand HMP PGMI tetap dipadati pengunjung, bahkan beberapa di antaranya langsung mengisi formulir pendaftaran dengan wajah penuh semangat.
 
Acara Open Recruitment tahun ini menjadi bukti bahwa organisasi mahasiswa di kampus bukan sekadar pelengkap, melainkan pilar penting dalam membentuk karakter, kreativitas, dan jiwa kepemimpinan. Bagi HMP PGMI, kesempatan ini adalah awal perjalanan panjang bersama mahasiswa baru untuk terus melangkah, berprestasi, dan memberikan kontribusi nyata.
 
Dengan kegiatan Open Recruitment ini, HMP PGMI berhasil menunjukkan diri sebagai organisasi yang terbuka dan siap menampung semangat mahasiswa baru. Antusiasme mahasiswa baru yang bergabung menjadi bukti bahwa HMP PGMI tidak hanya menjadi wadah berkegiatan, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk karakter, melatih kepemimpinan, dan menumbuhkan prestasi.

Pada akhirnya, HMP PGMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan rumah kedua tempat tumbuh bersama, berbagi pengalaman, dan mempersiapkan diri sebagai calon pendidik masa depan.




Ditulis oleh: Irma Latifatul Muazaroh, Ishom Syirfi, Mahasiswa PGMI AL-Anwar


Kesehatan Mental di Era Digital

Kesehatan Mental di Era Digital

KESEHATAN MENTAL DI ERA DIGITAL
Bersama Bu Nely Rahmawati Zaimah M,Pd.



Di balik gemerlap layar ponsel dan derasnya trend media sosial, krisis yang sering tak kasat mata mulai menyeruak: gangguan kesehatan mental. Khususnya bagi generasi muda, dunia digital bukan lagi sekadar ruang hiburan, tapi juga arena tekanan sosial yang intens.

Ibu Nely Rahmawati Zaimah, M.Pd., selaku dosen STAI AL-Anwar, menyebut bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang bebas dari stres atau gangguan psikis. Lebih dari itu, mental yang sehat adalah ketika seseorang mampu mengenal dirinya, mengelola emosi, dan tetap berpikir positif dalam berbagai kondisi.

“Kesehatan mental adalah di mana seseorang dapat menggali dan tahu potensinya, maka itu artinya mentalnya sehat. Terus bisa mengolah emosi dalam situasi apapun, baik dalam kondisi tenang atau tidak. Jika bisa, maka mentalnya sehat. Terus berpikir positif, contoh berhusnuzan,” tuturnya.

Sayangnya menurut beliau media digital saat ini sering kali menjadi faktor tergerusnya ketenangan dalam kesahatan mental. Informasi yang kian mengalir tanpa jeda henti, perbandingan relasi sosial yang selalu muncul dalam tiap swipe secara perlahan mengikis rasa percaya diri yang melekat pada seseorang. Hal ini lah yang menjadi pengaruh pada kesehatan mental terutama di era digital kini. “Media digital ini punya pengaruh yang besar. Yang awalnya orang itu tenang-tenang aja bisa jadi insecure, terus yang punya harapan tinggi tapi usahanya nol,” jelasnya.

Fenomena ini makin diperjelas oleh istilah-istilah yang familiar pada zaman sekarang ini dan akrab di telinga para lapisan masyarakat seperti istilah insecure, FOMO (Fear Of Missing Out), dan validasi online. Kesemua ini menjadi polemik dari krisis eksistensi generasi Z. bahkan ironisnya, bukan hanya berlaku pada kaum muda saja orang dewasa pun mulai terjebak pada validitas online untuk diakui secara digital. Hal ini menjadi bukti bahwa terdapat kesinambungan antara rasa insecure, FOMO dan validasi online. Bu Nely menjelaskan “Ada, bahkan tidak hanya generasi muda, bahkan yang tua pun juga pengin divalidasi. Seperti ketika mereka memposting sesuatu, jika ada yang memberikan like tentu mereka akan merasa senang,” ungkapnya.

Walau begitu, Bu Nely tidak menyamaratakan bentuk FOMO ke semuanya adalah negative. Ia juga menjelaskan bahwa FOMO pun terkadang bisa menjadi dorongan untuk hal positif, seperti semangat literasi atau berbagai edukasi. Dalam hal ini penting sekali kebijaksanaan untuk memilah suatu hal yang bersiat FOMO. “Terkait yang FOMO itu tergantung FOMO-nya itu ke hal negatif atau positif. Contoh yang positif: literasi, bagaimana cara menumbuhkan dan meningkatkan literasi di mahasiswa,” ujarnya.

Ia juga menambahi bahwa tidak semua hal perlu kita ekspos ke media sosial. Segala hal rutinitas boleh diumbar ke media sosial dengan memerhatikan refleksi dan kesopanan yang harus selalu dijaga. “Boleh memposting sesuatu dalam artian ya kita ngaca dulu lah, mana yang cocok untuk dipublikasikan, mana yang untuk konsumsi pribadi. Terus sopan tidak kita memposting itu,” katanya.

Baca juga: WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF

Dari perspektif akademik, kehidupan di era digital juga harus digunakan seperlunya saja, bukan hanya untuk konten tapi bagaimana juga mahasiswa dan pengguna secara umum bisa memilah konten atau informasi yang mereka konsumsi. “Ya, kita gunakan media itu sesuai kebutuhan. Ya kalau kita ngerasa gk butuh ya jangan. Kita memilih dan dapat memilah hal tersebut,” jelasnya.

Dalam ranah kampus, salah satu tekanan mental kerap beranjak dari tugas akademik yang menumpuk. Tapi menurut Bu Nely masalah utama bukan terdapat pada tugas nya saja, tetapi juga pada pola pikir mahasiswa yang dianggap kurang dalam mengatur waktu dan menikmati proses. “Kalau dikerjakannya sehari semalam, ya bisa membuat mental menjadi down. Apalagi itu SKS (sistem kebut semalam), dan itu dianggap sebagai beban pikiran tanpa kita tahu coba dan enjoy. Beda lagi kalau itu dinikmati, itu tidak akan menjadi beban,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa mahasiswa harus bisa menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dan non akademik. “Harus seimbang antara non-akademik dan akademiknya. Jadi tidak bisa kita unggul di non-akademik tapi akademiknya nol,” tegasnya.

Terkait dengan siapa subjek utama yang sangat turut andil ambil peran menjaga kesehatan mental generasi muda, Bu Nely menjawab bukan pada satu pihak saja. Semua turut andil baik dari individu, keluarga, isntitusi pendidikan bahkan pemerintah. “Semua peran itu ada kontribusinya. Dari diri sendiri, bahkan yang paling atas yaitu pemerintah. Keluarga juga merupakan orang yang penting juga, terutama orang tua,” katanya.

Ia menyoroti fenomena yang sering terjadi pada generas muda, yaitu berdiam diri di kamar. Mereka tampak tenang tetapi sebenernya mereka terjebak dalam isolasi dunia maya. “Karena diamnya dia di kamar itu kayak ya main HP, kayak scroll lah. Jadi interaksi dia itu kurang, kadang diajak bicara aja kurang nyambung,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, orang tua diminta lebih tegas tanpa mengabaikan hak privasi anak, menurut Bu Nely kunci nya terletak pada komunikasi dan kepercayaan. Sebagai solusi, ia menyarankan untuk memulai dari hal sederhana seperti mengurangi scroll tanpa batas di media sosial, memperbanyak interaksi dalam dunia nyata dan tidak begitu mengikuti trend.

“Ya yang pertama: mengurangi penggunaan sosmed/media digital. Ya dalam artian dikurangilah kayak nycroll. Lebih ke interaksinya sosialnya yang ditingkatkan,” sarannya.

“Tidak perlu takut kalau nanti dibilang, ‘Kolot banget sih kamu?’ Ya nggak apa-apa kita dibilang gitu. Lagian kalau trennya kayak joget-joget, terus velocity-an, terus kayak pakaian-pakaian yang kurang pantas, ya nggak apa-apa. Orang itu juga nggak ngaruh dan enggak rugi di saya,” tambahnya.

Sebagai penutup, Bu Nely mentipkan harapan besar bagi generasi muda di zaman sekarang ini untuk kembali ke diri nya, mengenal potensi, dan tidak dikaburkan oleh dunia digital yang semu.

“Generasi muda itu minimal tahu potensi dirinya. Kalau kesehatan mentalnya terganggu, maka dia tidak bisa menggali potensi dirinya. Karena negara butuh generasi muda yang bagus, bukan hanya sekedar velocity saja,” pesannya.

“Menjaga kesehatan mental itu penting. Karena bila mental terganggu akan sulit untuk menggali potensi diri. Sayang sekali bila Gen Z cuek, tidak berkarya. Itu nanti akan merugikan diri sendiri dan sekitar, dan masa depannya dan supaya nanti kita tidak akan tergeser oleh teknologi yang berkembang pesat,” pungkasnya.


Reporter: Acica, Sari dan Nisa

Korelasi Pendidikan Dasar Dengan Sistem Pendidikan Nasional Dalam Konteks Regulasi (Analisis Sejarah dan Undang-undang Pendidikan SD Atau MI di Indonesia)

Korelasi Pendidikan Dasar Dengan Sistem Pendidikan Nasional Dalam Konteks Regulasi (Analisis Sejarah dan Undang-undang Pendidikan SD Atau MI di Indonesia)

 

Pendidikan dasar di Indonesia memiliki peran sentral dalam membentuk arah dan kualitas sistem pendidikan nasional. Perjalanan panjang pendidikan dasar dimulai sejak masa kolonial, ketika pemerintah Belanda mendirikan berbagai jenis sekolah untuk kepentingan mereka, seperti ELS (Europeesche Lagere School), HCS (Hollandsch-Chineesche School), dan HIS (Hollandsch Inlandsche School). Meskipun akses pendidikan saat itu sangat terbatas bagi pribumi, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik awal terbentuknya pendidikan dasar di Indonesia yang lebih merata.

Sementara itu, sistem pendidikan Islam yang berkembang melalui pondok pesantren juga memainkan peran penting. Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter dan perlawanan terhadap penjajahan. K.H. Ahmad Dahlan kemudian menjadi tokoh kunci dalam upaya modernisasi pendidikan Islam melalui pendirian Madrasah Ibtidaiyah dan organisasi Muhammadiyah, yang memperkuat peran pendidikan dalam masyarakat.

Setelah kemerdekaan, pendidikan dasar menjadi perhatian utama pemerintah. Pada 13 Maret 1946, nama Sekolah Rakyat secara resmi diubah menjadi Sekolah Dasar. Pemerintah mulai membangun sistem pendidikan nasional yang lebih sistematis dan inklusif. Berbagai regulasi kemudian diterbitkan untuk mengatur dan memperkuat posisi pendidikan dasar sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa.

Regulasi pertama yang mengatur pendidikan dasar secara nasional adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1947, yang menetapkan bahwa semua sekolah negeri berada di bawah Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. Kemudian, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 menegaskan pendidikan dasar sebagai jenjang pendidikan wajib bagi warga negara Indonesia usia 7 sampai 15 tahun, yang terdiri dari SD dan SMP. Puncaknya, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) menyempurnakan kerangka hukum pendidikan dengan menjadikan pendidikan dasar sebagai fondasi pembentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Korelasi pendidikan dasar dengan sistem pendidikan nasional sangatlah kuat. Pendidikan dasar menjadi pondasi awal dalam membentuk karakter, literasi, numerasi, serta kemampuan sosial anak. Keberhasilan pada jenjang ini akan sangat memengaruhi jenjang pendidikan selanjutnya. Selain itu, pendidikan dasar juga menjadi instrumen utama dalam pemerataan akses pendidikan, sebagaimana diwujudkan dalam kebijakan wajib belajar sembilan tahun.

Pendidikan dasar juga berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa. Nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan toleransi mulai ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Dengan demikian, pendidikan dasar tidak hanya menjadi tahap awal dalam pendidikan formal, tetapi juga menjadi tahap kunci dalam proses pembangunan manusia Indonesia yang utuh.

Meski demikian, berbagai tantangan masih menghambat integrasi optimal pendidikan dasar dalam sistem pendidikan nasional. Keterbatasan infrastruktur di daerah tertinggal, minimnya jumlah dan kualitas guru yang merata, serta kesenjangan mutu antar sekolah menjadi masalah yang perlu segera diatasi. Pemerintah perlu menerapkan strategi konkret, seperti peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan dan sertifikasi, pemerataan fasilitas belajar, serta reformasi kurikulum yang kontekstual dengan kebutuhan lokal dan perkembangan zaman.

Dengan regulasi yang tepat dan implementasi yang konsisten, pendidikan dasar akan terus menjadi tulang punggung sistem pendidikan nasional. Masa depan pendidikan Indonesia bergantung pada sejauh mana pendidikan dasar mampu menjawab tantangan zaman dan membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi dunia global.

WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF

WANAKARYA 2025 HMP PGMI STAI Al-ANWAR TAMPILKAN RAGAM ACARA EDUKATIF DAN KREATIF


SARANG – HMP PGMI STAI Al-Anwar sukses gelar acara wanakarya 2025 selama empat hari berturut-turut mulai, Senin (5/5/2025) hingga Kamis, (8/5/2025) di auditorium gedung MZ. Acara ini menghadirkan beragam kegiatan edukatif, inspiratif dan kreatif seperti penampilan talkshow, lomba, dan pertunjukkan seni teater dari UKM teater Saroengan dan seni lukis dari Art Panca.

Hari pertama penampilan talkshow

Hari pertama diisi dengan talkshow inspiratif bertemakan Mengabdi dengan Aksi, Berkarya dengan Hati: Guru Berkualitas Generasi Cerdas yang dinarasumberi oleh Daimul Umam S,pd dan Zakiyatun Nisa S,pd. Dalam pemaparannya, Ishom Syirfi menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan pendidikan saat ini, “Di zaman ini setidaknya guru harus bisa mengkolaborasi antara teknologi dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan,”, Ujarnya.

Dalam talkshow tersebut narasumber utama, Daimul Umam S,Pd menekankan tantangan utama dalam mencetak guru berkualitas di Indonesia mencakup kesenjangan keterampilan, minimnya penguasaan metode pembelajaran modern, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan memadai, ketimpangan akses di daerah tertinggal, serta rendahnya kemampuan integrasi teknologi dalam proses belajar mengajar "Guru saat ini menghadapi tantangan besar, mulai dari kesenjangan keterampilan, perubahan kurikulum yang cepat tanpa pelatihan, hingga keterbatasan akses dan penguasaan teknologi, terutama di daerah tertinggal," jelas Daimul Umam S,Pd salah satu narasumber.

Penampilan talkshow menuai komentar positif dari peserta, yang mengatakan bahwa materi talkshow sesuai dengan kondisi zaman sekarang “Materi yang diangkat relevan karena mencerminkan dari tema wanakarya,”, Ujar Jimi Wulandari, peserta talkshow. ketua panitia menyatakan penampilan talkshow ini bukan hanya untuk menambah wawasan “Saya berharap peserta selain dapet wawasan juga mengerti akan peran guru yang selain mengajar juga membentuk karakter,” Ujar Ismail, ketua panitia.

Hari Kedua, lomba debat, LKTI dan micro teaching.

Memasuki hari kedua, mahasiswa PGMI unjuk kebolehan melalui debat antar angkatan yang termasuk dalam bagian acara wanakarya 2025. Debat ini mnegusung 13 mosi seputar pendidikan dasar, yang dibahas dengan pikiran kritis dan argumen solutif. Partisipatif mereka terlihat dari berbagai argument yang didebatkan, walaupun persiapan mereka terbilang singkat. Salah satu peserta mengaku hanya sempat mempersiapkan diri selama tiga jam “Persiapannya agak kurang, karena kami baru sempat mengerjakannya malam sebelumnya,” Ujar Fina, peserta debat.


Debat ini juga mengalami tantangan tersendiri seperti yang dialami oleh Shopiana, ia mengatakan tantangan terbesar debat adalah mengatur omongan “Gimana biar bisa ngontrol omongan, terus nyusun kalimat supaya gampang dipahami,” Jelasnya. Meski begitu debat ini menjadi ajang untuk melatih public speaking dan menambah wawasan “Kita jadi belajar nyampaikan pendapat dan tahu berbagai sudut pandang,” jelas Iffat.

Menurut Bapak Aji Pangestu, M.Pd., selaku dosen juri debat, kualitas peserta tahun ini cukup bagus walau terdapat penurunan dibanding tahun lalu dalam hal menyampaikan argumen. "Secara keseluruhan, kualitas peserta tahun ini cukup bagus. Meskipun demikian, Tahun lalu banyak peserta mengikuti pelatihan, jadi mereka lebih terlatih dalam meyakinkan juri. Sementara tahun ini, pemahaman materi tetap baik, tapi penyampaiannya masih perlu ditingkatkan" jelasnya. Dalam menilai, beliau menekankan tiga aspek penting, meliputi isi, tata cara (manner), dan penggunaan bahasa.

Di hari yang sama, lomba karya tulis ilmiah turut menghiasi wanakarya 2025, salah satu peserta LKTI mengangkat tema perjuangan guru honorer yang menerpa daerah yang tertinggal, terdepan dan terluar. Dalam karyanya, Ia menggambarkan perjuangan guru honorer untuk mengajar meski rasa sulit menerpa dan pendapatan minim, “Saya menjelaskan bagaimana perjuangan mereka mengajar walau ditengah keterbatasan, tantangan dan pendapatan yang minim, guru tetap harus professional dalam mengajar,” Ujar Naila Khoirin, peserta lomba LKTI.

Sementara itu, Umar Khan, salah satu peserta lomba microteaching, mengaku asik saat tampil membawakan materi pelajaran IPA bertema ekosistem. Ia menyebut pengalaman itu sebagai hal yang menyenangkan sekaligus menantang. “Seru, karena asik membawakan pelajaran IPA judulnya tentang ekosistem,” ucapnya. Untuk mempersiapkan diri, Umar sudah mulai belajar dua hari sebelum tampil, dengan membuat RPP, menyusun materi, serta menentukan metode pembelajaran dan strategi manajemen kelas.

Umar juga berharap pengalaman dari lomba microteaching ini bisa menjadi bekal nyata saat dirinya nanti benar-benar terjun ke dunia pendidikan. “Harapan saya bisa menguasai untuk ke depannya ketika terjun langsung saat pembelajaran,” katanya. Ia menilai bahwa lomba seperti ini bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tapi juga latihan mental untuk menjadi guru yang kreatif.

Hari ketiga, Lomba MTQ, pidacil dan pertunjukkan seni teater

Hari ketiga tidak kalah seru, wanakarya kembali diwarnai dengan lomba untuk anak kecil, seperti MTQ dan pidacil yang digelar dengan antusias, para pendamping anak-anak pun turut serta mendampingi ajang lomba tersebut.

Dalam menghadapi lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), para guru mengaku semakin semangat melatih karena peserta sudah memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. "Anak sekolah sudah terdidik, itu jadi latar belakang sehingga guru makin semangat dalam melatih dan menguatkan mental," ujar Bu Sofiatun, guru MI Nurul Huda Kragan. Menurutnya, proses latihan berjalan dengan lancar karena anak-anak sudah terbiasa mengikuti kegiatan serupa di lingkungan sekolah.

Terkait rasa gugup yang biasa dialami peserta, Bu Sofiatun menyebut bahwa siswanya justru semakin percaya diri. "Anak saya sudah terbiasa dengan kompetisi MTQ, maka buat rasa gugup sih nggak, malah menambah jiwa kompetisinya," tambahnya. Ia melihat bahwa pengalaman yang dimiliki anak-anak memberikan dampak positif dalam membentuk mental kompetitif saat lomba.

Sementara itu, dalam ajang lomba pidato anak (pidacil), persiapan peserta juga terbilang matang. Bapak Jamil, pendamping MI Manhail Futuh, mengaku terbantu karena siswanya sudah pernah tampil di beberapa kegiatan sebelumnya. "Saya merasa untung karena sebelumnya sudah pernah tampil dalam wanakarya di STAI dan sudah pernah ikut di tingkat kota, jadi untuk persiapan saya serahkan kepada guru yang melatih," ungkapnya.

Meskipun masih mungkin merasakan gugup, Bapak Jamil melihat bahwa pengalaman membawa perubahan besar pada keberanian siswa. "Mungkin masih, tetapi karena lamanya pengalaman rasa gugup pun berkurang. Yang terpenting bagi saya, ketika anak saya sudah berani untuk maju berarti dia sudah menang," tuturnya.

Setelah dua perlombaan selesai, wanakarya kembali dihiasi dengan pertunjukkan seni teater, pertunjukkan ini memberi kesempatan bagi mahasiswa dalam melatih jiwa seni dan menambah rasa percaya diri. Penonton teater pun menyambut pertunjukkan ini dengan sambutan yang meriah.

Baca juga: UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”

Hari keempat, penutupan wanakarya diiringi musik dan talent.

Acara puncak hari keempat ditutup dengan pertunjukkan dan pagelaran talent show dari penonton, para penampil tunjuk muka dengan berbagai penampilan. Perasaan senang begitu terasa di penutupan wanakarya 2025 ini. “saya merasa bahagia banget yak karena ikut berpartisipasi dalam penampilan acara ini terutama karena sorak dari penonton bikin makin rame,” ucap M Fadhillah, peserta talent.

Begitu juga dengan pameran seni lukis, para pengunjung merasa terpukau dengan lukisan dan pameran media pembelajaran “saya seneng banget dan wow karena lukisan seni nya bagus dan indah, juga media pembelajaran yang dibuat kaka juga bagus,” ujar Latifah salah satu pengunjung pameran.

Pertunjukan seni lukis dan media juga membuat kesan kebersamaan antara panitia HMP PGMI dan pemilik seni lukis Art Panca “Saya bisa mengambil rasa kebersamaan, perasaan kolektif dan membangun rasa satu sama lain sehingga tercipta keberasamaan antara HMP PGMI dan Art Panca,” ucap Maldini Raul, pemilik seni lukis

Tak hanya itu, penutupan wanakarya memberi kesan tersendiri bagi pengurus HMP PGMI periode sebelumnya, seperti Yunia Shofiatun Nisa, ia mengaku acara ini menarik dan bisa bernostalgia saat dirinya menjadi pengurus tahun lalu “Acaranya cukup menarik dan saya merasa senang karena bisa hadir serta bernostalgia, merasakan kembali suasana organisasi. Harapannya, tahun depan acara ini bisa lebih baik lagi dan terus ditingkatkan,” jelasnya.

Panitia mengungkapkan rasa syukur atas kesuksesan rangkaian acara. Meski menghadapi tantangan koordinasi dan teknis, mereka merasa puas karena seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan antusias dari seluruh peserta.







Reporter: Rehan, Ishom, Acica dan Fitri.
UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”

UKM TEATER SAROENGAN GELAR PENTAS BERTAJUK “RUANG TUNGGU”


SARANG - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Saroengan sukses menggelar pertunjukan teater bertajuk Ruang Tunggu pada Rabu (7/5/2025), sekitar pukul 14.30 WIB di Auditorium MZ. Pertunjukan ini mengangkat naskah berjudul Lakon Ruang Tunggu karya Selamet Nico, dan disambut antusias oleh para penonton, terutama kalangan mahasiswa dan pecinta seni pertunjukan.

Mengusung konsep pementasan realis, lakon Ruang Tunggu menyajikan dinamika kehidupan manusia yang saling bersinggungan dalam satu ruang dan waktu. Tema yang diangkat berkisar pada keresahan, penantian, dan perjumpaan-perjumpaan yang tak terduga semuanya dibungkus dalam dialog yang reflektif dan penuh makna.

Ketua UKM teater saroengan Anwari Amin, dirinya menjelaskan persiapan acara ini sudah direncanakan sejak lama pada desember 2024 untuk menampilkan pertunjukan yang memuaskan “Persiapan mulai dari Desember, latihan dari setelah diklat SAR (diklat teater), dan latihan intensif dimulai bulan Desember,” jelas Anwari.

Rasa sedikit gelisah pun ia ungkapkan karena menurutnya pentas ini bukanlah akhir, tapi awal dari proses kreatif yang harus terus dilanjutkan “Saya berpikir ini bukan akhir, namun awal dari proses kedua pembentukan skill di bagian devisi masing-masing, seperti keaktoran, produksi, ataupun artistik,” ungkapnya dengan penuh harap.

Pementasan Ruang Tunggu bukan hanya menjadi ajang ekspresi seni, tetapi juga wadah pengembangan diri bagi para anggota UKM Teater Saroengan. Dengan semangat kolektif dan kerja sama yang kuat, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa proses panjang dan dedikasi mampu melahirkan karya teater yang bermakna dan menyentuh.


Reporter: Ishom Syirfi
Lulusan PGMI harus banget jadi guru?

Lulusan PGMI harus banget jadi guru?

 

Apakah Lulusan PGMI Harus Jadi Guru?

Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) secara umum dirancang untuk mencetak guru MI profesional. Kurikulum PGMI berfokus pada penguasaan pedagogik, kepribadian islami, sosial, serta materi keilmuan yang mendukung praktik pembelajaran di tingkat dasar. Karena itu, profesi guru sering dianggap sebagai satu-satunya arah karier ideal bagi lulusan PGMI.

Namun realitanya, perkembangan zaman membuka peluang karier yang lebih luas. Lulusan PGMI dibekali dengan keterampilan yang bisa diterapkan di berbagai bidang lain, seperti penulisan buku anak Islami, pengembangan konten edukasi digital, manajemen lembaga pendidikan, hingga menjadi trainer atau penyuluh masyarakat. Dunia kerja saat ini lebih fleksibel, menuntut kreativitas, adaptasi teknologi, dan keberanian dalam merintis jalan sendiri.

Meski profesi guru tetap menjadi pilihan utama dan mulia, tidak semua lulusan harus terpaku pada satu jalan tersebut. Selama membawa nilai-nilai pendidikan Islam dan kontribusi sosial, lulusan PGMI dapat tetap berkarya di jalur lain yang relevan. Dengan demikian, menjadi guru bukanlah satu-satunya takdir lulusan PGMI, melainkan salah satu dari banyak pilihan kontribusi dalam dunia pendidikan dan dakwah Islam.





Ditulis oleh Ishom Syirfi

Regulasi dan Praktik Pendidikan Inklusi pada Anak Berkebutuhan Khusus di Tingkat Pendidikan Dasar

Regulasi dan Praktik Pendidikan Inklusi pada Anak Berkebutuhan Khusus di Tingkat Pendidikan Dasar

 


Pendidikan sejatinya adalah hak dari semua masyarakat Indonesia. Dalam Undang-undang disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan inklusi merupakan pendekatan pendidikan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas di lingkungan sekolah reguler. Pendidikan inklusi tidak hanya memberikan manfaat bagi ABK, tetapi juga bagi seluruh peserta didik, karena mengajarkan nilai-nilai toleransi, empati, dan keragaman.

Pendidikan inklusif merupakan sebuah sistem penyelenggaraan Pendidikan yang memberikan kesempatan pada seluruh peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) termasuk penyandang disabilitas untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Regulasi pendidikan inklusi yang pertama adalah regulasi di pemerintahan. Regulasi menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan. Beberapa regulasi yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif, diantaranya:

1. UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
3. PP No 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas.
4. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
5. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus.

Pada pasal 10 Undang-undang No.8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, disebutkan bahwa hak pendidikan untuk penyandang disabilitas meliputi, hak mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus, mempunyai kesamaan kesempatan untuk menjadi pendidik atau tenaga kependidikan pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan, mempunyai kesamaan kesempatan sebagai penyelenggara pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan.

Praktik pendidikan inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus di tingkat dasar melibatkan beberapa pendekatan dan strategi untuk memastikan bahwa semua siswa, terlepas dari kebutuhan khusus mereka, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang berkualitas. Kurikulum harus dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan berbagai siswa. Ini mungkin termasuk penggunaan materi ajar yang bervariasi, teknik pengajaran yang berbeda, dan penilaian yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa.

Selain itu kelas harus dirancang untuk mendukung siswa dengan berbagai kebutuhan. Ini termasuk pengaturan fisik yang memfasilitasi mobilitas dan aksesibilitas, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran bagi semua siswa. Dengan menerapkan praktik-praktik ini, sekolah dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan mendukung kebutuhan semua siswa, serta memungkinkan mereka untuk berkembang dan belajar secara optimal.





Menjelang Ujian Akhir Semester, Organisasi HMPS STAI Al-Anwar Gelar Khataman dan Doa Bersama

Menjelang Ujian Akhir Semester, Organisasi HMPS STAI Al-Anwar Gelar Khataman dan Doa Bersama

 


Rembang – Acara Khataman Al-Quran dengan tema "Merajut Keilmuan, Menggapai Keberkahan Bersama Al-Quran" kembali digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) di Sport Center STAI Al-Anwar pada Kamis, (26/12/2024) sekitar pukul 14.30. Kegiatan rutin ini diselenggarakan menjelang ujian. Beberapa tokoh penting turut diundang dalam acara tersebut, termasuk Kh Abdul Ghofur Maimoen, Nyai Haji Nadia Jirjis, Abdullah Mubarok Lc., MThi, dan Ust Nur As’ad. Diperkirakan semua mahasiswa program studi turut hadir dalam acara ini.

Acara dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran oleh Arwani Haidar, yang diikuti sambutan dari ketua panitia. Dalam sambutannya, ketua panitia menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran peserta dan meminta maaf jika terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan acara. “khataman bersama itu adalah agenda tahunan untuk meneruskan apa yang sudah jadi tradisi tujuannya biar semua mahasiswa suka membaca al qur'an dan untuk menjalin silaturahmi antar prodi” kata Nasirudiin ketua acara khataman. Selanjutnya, dilanjutkan pembacaan istighasah oleh Yik Royyan Basyaiban, diikuti dengan khotmil Quran yang dibacakan kembali oleh Arwani Haidar dan doa tahlil yang dipimpin oleh Ust Nur Asad.

Acara ini diisi dengan mauidoh hasanah oleh Abdulullah Mubarok Lc., MThi dan Kh. Abdul Ghofur Maimoen. Dalam mauidoh hasanah, Abdulullah Mubarok Lc., MThi yang kerap disapa Gus Barok menekankan pentingnya memahami Al-Qur'an sebagai sumber ilmu yang tidak hanya sekadar hafalan. Ia menjelaskan bahwa sanad keilmuan dalam mengajar sangat penting untuk memastikan keberkahan ilmu yang diperoleh. “Sampean semua kalo ngaji harus punya sanad, kalo belum punya sanad maka belum boleh jadi kyai”. Kata Gus Barok dalam mauidoh nya. Gus Barok mendorong umat Islam untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang memberikan solusi atas berbagai permasalahan.


Mauidoh hasanah dilanjutkan oleh beliau Kh Abdul Ghofur Maimoen para santri kerap memanggil beliau dengan sebutan Babah Ghofur. Beliau menekankan bahwa membaca Al-Qur'an merupakan proses pembersihan hati, meskipun tidak sepenuhnya dipahami atau dihafal. Ia mengibaratkan membaca Al-Qur'an seperti keranjang arang yang tetap bersih meski tidak bisa menampung air, Beliau menegaskan bahwa membaca Al-Qur'an membawa kebaikan dan keberkahan bagi setiap individu. “membaca al qur'an diibaratkan dengan menimba menggunakan keranjang arang walaupun tidak ada hasilnya tapi keranjangnya jadi bersih dengan begitu kita merasa berkawan dengan al qur'an” kata Babah Ghofur dalam mauidoh nya.

Tanggapan dari mahasiswa mengenai acara ini sangat positif. Banyak yang merasa acara ini inspiratif dan mampu meningkatkan minat membaca Al-Qur'an di kalangan mahasiswa. Namun, mereka juga berharap agar beberapa kesalahan teknis yang terjadi selama acara dapat diperbaiki untuk kegiatan mendatang. “Acara ini sangat bagus, penuh inspirasi, meningkatakan keinginan membaca al-quran, mungkin dari kesalahan teknisnya bisa diperbaiki lagi.” Tutur salah satu peserta.

Acara Khataman Al-Quran ini tidak hanya menjadi ritual sebelum ujian, tetapi juga sebagai sarana untuk merajut keilmuan dan keberkahan bersama dalam komunitas akademik STAI Al-Anwar.






Reporter, Acica dan Ishom
Penulis Berita, Zahrotun Nisa dan Raehan
Berita: Pengertian, Nilai berita, dan Jenis-jenis berita

Berita: Pengertian, Nilai berita, dan Jenis-jenis berita

 



Hallo sobat PGMI semuanya
Gimana kabar kalian? Pastinya baik yah

Kini akses informasi di ruang lingkup kehidupan sangat mudah sekali didapat. Salah satu nya melalui berita. Seperti yang kita tahu berita membuat masyarakat mendapatkan informasi yang berguna untuk memperluas wawasan dan jangkauan bahkan tidak jarang berita bisa merubah pola pikir manusia.

Berita adalah jendela dunia yang menyajikan informasi akurat dan faktual tentang berbagai peristiwa penting di sekitar kita. Dengan perkembangan teknologi, berita kini hadir lebih cepat dan mudah diakses melalui berbagai platform, termasuk website ini. Pada kali ini mimin mau bahas apa itu berita, nilai berita, dan apa saja jenis-jenis berita.

1. Pengertian Berita
Berita adalah laporan tentang fakta peristiwa atau pendapat yang menarik dan penting bagi sebagian besar khalayak. Berita merupakan laporan mengenai kejadian atau peritistiwa penting dan menarik bagi khalayak pembacanya. Dan isi berita mengandung unsur – unsur layak berita dan kriteria umum nilai berita.

2. Nilai Berita
Suatu berita dikatakan bernilai apabila memenuhi beberapa kriteria. Apa saja?
a. Faktual
Dalam berita harus bersifat factual, yaitu di dasari oleh kejadian yang terjadi secara nyata. Kefaktualisasian berita bertujuan agar berita tersebut dapat dipercaya oleh khalayak umum yang membaca nya dan tidak menimbulkan spekulasi.
b. Aktual
Artinya dalam berita baru saja terjadi. Hal ini menunjukan waktu kapan berita itu diproduksi. Semakin cepat berita ditayangkan maka semakin bernilai atau berkualitas berita tersebut.
c. Kedekatan (Proximity)
Peristiwa yang terjadi di dekat audiens, baik secara geografis maupun emosional, lebih menarik untuk diberitakan. Orang biasanya lebih tertarik pada kejadian di lingkungan atau tempat yang dekat dengan mereka.
d. Signifikansi (Impact/Consequence)
Berita yang memengaruhi atau berdampak besar pada kehidupan banyak orang memiliki nilai berita tinggi. Semakin besar dampak peristiwa tersebut, semakin penting berita itu.
e. Keunikan (Novelty)
Hal-hal yang tidak biasa, unik, atau jarang terjadi sering kali memiliki daya tarik tersendiri. Kejadian yang aneh, luar biasa, atau mengejutkan lebih mudah menarik perhatian pembaca atau penonton.

3. Jenis-jenis Berita
1. Hard News (Berita Keras)
Berita yang bersifat aktual, penting, dan seringkali mendesak. Biasanya terkait dengan peristiwa besar seperti politik, ekonomi, bencana alam, kriminalitas, atau konflik.
Dalam hard news terdapat ciri-ciri diantara nya:
a. Fokus pada fakta dan informasi yang penting.
b. Disajikan secara langsung dan lugas.
c. Urutan berita mengikuti piramida terbalik (informasi terpenting di awal).
d. Harus segara ditayangkan atau diproduksi
e. Memuat unsur 5w+1h
f. Menekankan pada isu-isu serius

2. Soft News (Berita Lunak)
Berita yang lebih bersifat menghibur, menarik, dan tidak terlalu mendesak. Biasanya terkait dengan topik-topik seperti gaya hidup, hiburan, dan human interest.
Ciri-ciri soft news diantaranya:
a. Lebih menekankan pada aspek emosional dan human interest.
b. Bahasa yang digunakan lebih santai dan menarik.
c. Durasi Publikasi Lebih Fleksibel
d. Tidak Mendesak (Non-Urgent)

3. Straight News (Berita Langsung)
Berita yang melaporkan peristiwa secara langsung, apa adanya, tanpa interpretasi atau analisis mendalam.
Ciri-ciri:
a. Fokus pada fakta-fakta yang dapat diverifikasi.
b. Disajikan secara objektif dan netral.
c. Tidak mengandung opini pribadi penulis.
e. Ditulis dengan piramida terbalik
f. Dipublikasi secara cepat

Nah itu tadi pembahasan singkat mengenai berita

Semoga selalu bermanfaat.



Jurnalistik: Hakikat, Karier, Skill, Jenis-jenis dan Tujuan Jurnalistik

Jurnalistik: Hakikat, Karier, Skill, Jenis-jenis dan Tujuan Jurnalistik

 



Hallo sobat PGMI semuanya
Gimana kabar kalian? Pastinya baik yah
Mendengar kata jurnalistik apa yang terbenak dalam pikiran kalian?

Di era modern sekarang jurnalistik menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan, bukan hanya sebagai profesi saja. Kehadiran jurnalistik merupakan penghubung informasi untuk masyarakat. Jurnalis berperan sebagai orang yang menyampaikan fakta dengan tanggung jawab, menyuarakan hak masyarakat dan menjadi kontrol sosial.

Pada artikel ini, kita akan membahas tentang apa itu jurnalistik, macam-macam karier yang ditawarkannya, keterampilan yang melekat padanya, tugas yang harus dikerjakan jurnalis dan penerapan kode etik dalam kegiatan jurnalistik. Ayo bersama-sama kita menggali lebih dalam mengenai jurnalistik dan bagaimana jurnalistik membawa hal positif untuk masyarakat.

1. Hakikat Jurnalistik
Definisi jurnalistik dibagi menjadi beberapa bagian menurut para ahli, diantara nya
1.  Adinegoro, Jurnalistik adalah kepandaian dalam hal mengarang yang tujuan pokoknya adalah untuk memberikan kabar atau informasi kepada masyarakat umum secepat mungkin dan tersiar seluas mungkin
2. Asep Syamsul, Jurnalistik merupakan sebuah proses kegiatan dalam mengolah, menulis, dan menyebarluaskan berita atau opini melalui media massa
3. Astrid Susanto, Jurnalistik adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam mencatat dan melaporkan serta menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Informasi yang dimaksud berkenaan dengan kegiatan sehari-hari
Jadi kesimpulannya, Jurnalistik merupakan proses atau kegiatan mengolah, menulis, dan menyebarkan informasi, baik berupa kabar maupun opini, kepada masyarakat umum melalui media massa. Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi yang relevan, cepat, dan tersebar luas terkait aktivitas sehari-hari.

2. Karier Sebagai Jurnalis
Tidak hanya menyebarkan informasi saja, jurnalistik pun memiliki jenjang karier yang sangat bagus pada zaman modern ini. Apa saja?
1. Editor
2. Penulis (buku, buletin, majalah, novel dll)
3. Fotografer
4. Teknisi penyiaran
5. Konten creator
6. Penyiar berita/wartawan
7. Pembawa acara

3. Keterampilan Sebagai Jurnalis
Ya seorang jurnalis harus memiliki skill yang mempuni dalam menjalankan tugasnya, Skill yang wajib melekat pada jurnalis diantaranya:
1. Komunikasi dan wawasan yang luas, gaya berbicara dalam publik dan pengetahuan luas merupakan modal utama bagi seorang jurnalis.
2. Writing skills, kemampuan menulis juga sangat urgent bagi jurnalis karena tulisan nya yang akan diperuntukan untuk kepentingan public.
3. Up to date dengan info terkini, ga mungkin dong bagi jurnalis itu kudet. Pastinya seorang jurnalis paham dengan situasi dan kondisi terkini.
4. Attitude yang baik, sifat yang ramah tamah juga perlu nih untuk seorang jurnalis karena untuk menjaga citra dari jurnalistik.

4. Jenis-jenis Jurnalistik
Menurut jenisnya jurnalistik dibagi menjadi 3, yaitu
1. Jurnalistik cetak (printed journalism).
2. Jurnalistik elektronik (electronic journalism) atau jurnalistik penyiaran (broadcast journalism).
3. Jurnalistik online (online journalism).

5. Tujuan Jurnalistik
Tujuan jurnalistik adalah:
1. Memberikan informasi: Menyampaikan fakta yang akurat dan relevan.
2. Mendidik: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.
3. Mengontrol: Mengawasi tindakan pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang.
4. Mentertain: Menyajikan berita dengan cara yang menarik.

Nah itu tadi pembahasan mengenai pembahasan singkat jurnalistik.
Semoga selalu bermanfaat.